Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#31


__ADS_3

Azam tertawa sampai memukul bantal, kocak banget pacarnya ini. Ia menunggu beberapa saat untuk meredakan tawa sebelum kembali membalas pesan Ina.


"Santet apa pelet yang kamu kirim?"


Di ujung sana, Ina membelalakan mata. Azam kenapa, deh? Dia beneran kerasukan jin narsis apa gimana? Daritadi pesannya minta disentil banget. Sentil empedunya maksudnya.


Ina kesel pake banget. Jika diibaratkan, mungkin kekesalannya sudah setinggi lapisan eksosfer.


"Heh, ke-PD-an banget kamu! Siapa orang yang sudi melet cowok nyebelin kayak kamu!"


Azam hampir tersedak, untung saja dia sedang tidak minum. Ina malam ini agresif abis! Tapi enggak masalah, Azam malah makin suka. Seneng banget godain dia.


"Kamu yakin gak pernah punya niatan buat melet aku? Aku tau kok kamu cinta mati sama aku sejak pertama bertemu. Apalagi aku ganteng banget."

__ADS_1


Azam serasa ingin muntah membaca pesannya sendiri, kenapa dia jadi najisin banget begini? Tapi bodo amat, demi godain Ina, dia rela jadi cowok nyebelin sepanjang masa.


Kalau Azam ingin muntah, Ina jelas lebih marah lagi. Mata gadis itu melotot sampai-sampai bola matanya terlihat seperti akan keluar dari tempatnya. Darimana Azam belajar jadi cowok narsis begini? Apa sebenarnya ini sifat asli cowok itu yang dia sembunyikan selama ini? Kok ngeri? Ina jadi merasa menyesal sudah menjadi pacar Azam.


Dia cuma gadis normal yang ingin punya pacar romantis, kenapa zonk banget malah punya cowok nyebelin begini?


Duh, Gusti.


Apa ia punya dosa besar pas kecil? Kok gini amat nasibnya.


Azam menahan napas selama beberapa detik karena shock. Yang benar saja! Baru kali ini ia ingin sujud syukur karena punya pacar enggak bisa masak. Padahal gadis yang mempunyai kemampuam memasak di atas rata-rata adalah tipe idealnya. Tapi karena ini Ina yang memang cukup tidak biasa, ia tidak merasa bermasalah. Toh gadis itu sudah menghiburnya selama ini.


"Kamu bercanda, kan? Masa aku mau dikasih makan pelet ikan! Nanti kalo aku keracunan pan kamu yanh repot."

__ADS_1


Ina berdecak sebal, memasukkan segenggam kacang goreng ke mulutnya. Gigi-gigi tajamnya mengunyah dengan ganas, seolah yang sedang ia hancurkan dengan gigi geraham adalah sang pacar, Azam.


Setelah meminum segelas air, barulah gadis itu membalas pesan dari Azam.


"Bodo amat, mati aja sana! Aku mau nyari pacar baru aja!"


Azam segera bangkit duduk, kening cowok itu mengernyit hebat. Ia menggenggam ponselnya kuat sebelum mengetik balasan. Ia harus tenang, pacarnya itu sedang marah, jadi jangan diambil hati ucapannya. Walau rasa cinta belum tumbuh di hati, cowok mana yang rela pacarnya ingin mencari gandengan baru dan menghempaskan dirinya ke belakang?


Ego Azam terluka.


Ia tidak akan membiarkan satu cowok pun berani mendekati Ina. Juga tidak akan pernah membiarkan cinta gadis itu pudar untuknya.


Hm, apa sebaiknya Azam benar-benar menunjukkan kepemilikannya akan Ina di sekolah agar tidak ada cowok lain yang berani mendekatinya?

__ADS_1


Sepertinya ide bagus. Toh ia juga sudah berencana akan berubah di sekolah. Tidak ada salahnya untuk membuat orang-orang benar-benar parcaya bahwa Ina adalah pacarnya. Cowok itu jadi tidak sabar ingin menunggu hari senin.


"Yakin mau nyari pacar baru?"


__ADS_2