Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Kamu ...


__ADS_3

Aku mengambil botol itu, lalu membuang muka. Azam segera duduk di sampingku, mana deket banget pula. Enggak deket sampai badan kami bersentuhan, tapi ya, ini sangat dekat. Aku sampai panas dingin dibuatnya.


Aku mencoba membuka tutup botol air mineral, haus juga setelah lima kali mengelilingi Dadaha. Tapi kok ini tutupnya kenapa susah banget dibuka? Padahal tenagaku enggak lemah-lemah amat, loh! Bisa dibilang, kekuatan tanganku yang paling aku banggakan dari semua anggota tubuh. Karena itu pula aku ikutan ekskul voli.


Ini Azam juga lihat pacarnya kesusahan bantuin, kek! Kenapa malah diem aja? Ih, ngeselin!


Menyerah, aku menyodorkan botol itu pada Azam, memintanya untuk membukakan tutup botol tersebut. Cowok itu menerimanya tanpa mengucapkan apa-apa. Lalu botol itu ia simpan di samping kanannya, tempat terjauh dariku karena aku berada di sisi kirinya. Lah, kenapa malah disimpan di sana? Serius dia gak sadar maksudku?


Sumpah, ya, di novel-novel tuh, kalau lihat ceweknya kesusahan pasti langsung dibantuin. Ini Azam aku udah ambil tindakan terang-terangan masa masih gak ngerti, sih?


Dia kok gak peka banget? Sekarang aku sangat tertarik untuk menjedotkan kepala Azam ke tembok dengan gambar lucu tempat foto itu. Siapa tahu aja kan otaknya jadi geser dan dia bisa lebih peka.

__ADS_1


"Bukain, ih! Bukan malah disimpan di sana!" ujarku kesal. Aku beneran haus ini. Kok dia tega gitu, sih?


Azam melirik ke arahku sedikit, lalu kembali menatap ke depan. Ih, kok makin ngeselin?


Sekarang kekesalanku sudah mencapai puncaknya, aku benar-benar sudah tidak tahan!


"Kamu kok nyebelin banget, sih? Padahal ini pertama kalinya kita jalan bareng, tapi kenapa kamu diem aja? Mana aku ditinggal pula. Nyebelin! Tahu gini seharusnya aku gak datang aja. Pasti aku gak bakal sakit hati kayak sekarang!"


Azam menatapku sebentar, aku jadi malu sendiri karena dia hampir tidak berkedip. Akhirnya aku diam dan membuang muka.


"Aku ... gak suka," ujarnya enggak jelas kayak biasa. Aku kembali menatapnya heran. Dia kembali diam karena ada beberapa orang yang lewat. Untunglah saat tadi aku nangis lagi sepi, kenapa juga aku cengeng banget? Sekarang wajahku pasti udah merah banget, maluuuu!!! Baru sadar kalau aku nangis di depan Azam.

__ADS_1


"Aku gak suka," ulangnya saat suasana kembali sepi, Azam menatapku intens, "aku gak suka lihat kamu deket sama cowok lain."


"Hah?" Aku mengerjap, menatapnya seperti orang bloon. Apa katanya tadi? Dia gak suka aku deket sama cowok lain? Emangnya kapan aku deket sama cowok lain? Rasanya enggak pernah, deh!


Melihat raut kebingunganku, Azam kembali membuka suara. "Idong," ujarnya yang membuatku terdiam sejenak. Kapan aku dekat dengan Idong?


Tunggu, kemarin? Aku hanya bertemu cowok itu kemarin, maksudku berbicara dengannya. Kami kemarin hanya membicarakan tragedi voli di masa lalu kenapa Azam bisa gak suka gitu?


Aku mengerjap sejenak, lalu sebuah pemikiran yang belum pernah terlintas di otakku keluar begitu saja dari mulutku.


"Kamu ... cemburu?"

__ADS_1


__ADS_2