Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Main 2


__ADS_3

Hari Jumat seperti sekarang biasanya suka ada pasar dadakan di area masjid agung. Jadi sebelum dzuhur tempatnya pasti penuh. Ada banyak sekali hal yang dijual di sana. Mulai dari jam tangan, dalaman kerudung, parfum, sampai blangkon juga ada.


Hal yang membuat pasarnya ramai selain karena banyak yang mau menunaikan ibadah sholat Jumat juga karena harganya murah. Dalaman kerudung aja cuma lima ribuan, dan kalau beli tiga harganya Rp. 10.000, itung-itung beli dua gratis satu.


Tapi terkadang aku cukup kesal karena jadi susah lewat, terutama ketika perginya bersama Ayu, Leli, Septi, dan Sopa. Lihat saja kelakuan mereka, hampir setiap penjual dikunjungi.


"Ke sana, yuk! Sepertinya bagus."


"Mang, ini jamnya berapa?"


"Mang, yang ini berapa? Jangan mahal-mahal, dong!"


Mereka berisik sekali, menanyakan ini itu pada penjual, lalu setelah puas melihat-lihat pindah ke lapak lain. Ujung-ujungnya gak ada yang dibeli karena gak punya uang. Emang kadang bikin malu mereka itu.


Aku mengibas-ibas tangan ke leher, berharap bisa sedikit mengurangi gerah. Di bawah terik matahari seperti ini berdesak-desakkan tentu bukan pilihan yang baik.

__ADS_1


Mataku berbinar saat menemukan gerobak bertuliskan es doger. Duh, pasti enak banget di makan panas-panas gini. Tanpa menghiraukan teman-temanku yang masih sibuk meneliti barang, aku segera menyongsong tukang es doger. Untunglah kemarin aku habis malak Teh Ani, jadi sekarang aku masih punya Rp. 20.000 untuk jajan.


"Mang, satu, dong!" pintaku tanpa berpikir panjang.


"Campur, Neng?"


"Campur aja lah, Mang!"


Aku anaknya gak suka pilih-pilih makanan kok, apa saja bisa masuk ke perut. Terutama kalau yang gratisan. Uh, perutku sangat terbuka untuk dimasuki.


"Berapa, Mang?" tanyaku sambil membuka resleting tas.


"Lima ribu, Neng."


Waduh, mahal amat. Biasanya aku beli cuma dua ribu! Tahu gitu tadi aku beli Pisang Ijo aja. Mau dibatalin kasihan udah dipesan, mau dibeli kok agak kurang rela, ya. Dengan terpaksa aku mengangsurkan uang dua puluh ribu yang kupunya, lalu mengambil es dogernya dari atas gerobak.

__ADS_1


Setelah mendapat kembalian, rasanya aku ingin menangis. Uangku!


Aku celingukan, mencari keberadaan salah satu dari teman-temanku. Sial, di mana mereka? Masa aku ditinggalkan?


Aku segera menyusuri pagar masjid agung yang dipenuhi pedagang, membuatku berjalan lebih lambat. Saat melihat beberapa pedagang bandel yang berjualan di dalam area pagar, rasanya aku ingin segera menghujat mereka.


Mereka gak bisa baca atau bagaimana? Itu tulisan di plangnya gede banget, loh.


DILARANG BERJUALAN DI DALAM AREA MASJID AGUNG!


Hah, manusia dan pikirannya memang susah dimengerti.


Aduh, ini teman-temanku pada ke mana, sih? Masa mereka tega ninggalin aku di sini sendirian? Setelah lelah berjalan dari ujung ke ujung, aku memutuskan untuk beristirahat di taman kota saja. Kebetulan tempatnya lumayan adem, apalagi di gazebonya yang bahkan ada tempat untuk ngecas.


Aku berjalan ke undakan-undakan tangga lumayam besar yang sepertinya memang sengaja dibentuk seperti itu agar banyak orang bisa nongkrong di sana atau sekadar duduk-duduk istirahat. Lampu raksasa yang dibalut dalam bentuk seperti payung terbalik menambah kesan estetis. Apalagi kalau malam, nyala lampunya pasti indah.

__ADS_1


Aku menuju ke bawah lampu yang berwarna merah, siap menikmati es doger sambil beristirahat di sana. Mari pikirkan tentang Lelu, Ayu, Septi, dan Sopa nanti. Aku tidak mau es doger kemahalanku ini cair dan jadi tidak enak dimakan.


__ADS_2