
Hari ini merupakan hari pertama aku jadian dengan Azam, aku bahkan sampai membuat pengingat di kalender untuk hari bersejarah ini. Kisah cintaku akan dimulai sekarang. Walau sempat dilema, aku memutuskan untuk menjalani hubungan ini dulu. Biar waktu yang memutuskan sisanya, jiah.
Rasanya aku ingin jingkrak-jingkrak saking senengnya, ya siapa emang yang gak seneng kalau jadian sama gebetannya? Terutama sama cinta pertama yang udah dipendam selama satu setengah tahun! Ini udah kayak mimpi yang jadi kenyataan!
Aku ingin berteriak terus mengeluarkan kebahagiaanku, tapi tidak mau mengganggu orang rumah. Apalagi aku tidak punya kamar sendiri. Jadilah bantal menjadi korban keganasanku.
Entah kenapa ponselku terus berisik sejak tadi, padahal biasanya juga sepi. Maklum jomlo. Paling banyak chatt dari grup kelas, itu pun isinya gak penting-penting amat. Ini masih sore, kenapa grup chatt udah ramai aja sih? Biasanya para anak kalong aktifnya malam.
Gabut, aku memutuskan untuk ikut bergabung dalam obrolan receh di kelas. Tapi saat membuka kunci, ada banyak sekali notifikasi yang masuk dari berbagai akun media sosial yang aku punya.
Anjir! Ada apaan nih? Perasaan sekarang bukan hari ulang tahunku, deh. Aku gak lagi dibully di medsos, kan?
__ADS_1
Takut-takut aku membuka salah satu notifikasi yang berasal dari instagram, isinya benar-benar mencengangkan. Foto aibku yang sedang komuk ada di instastorynya Leli, dia bilang gini:
Anjir, si bucin lemah @inaf_ akhirnya taken juga. Gak nanggung-nanggung, dia jadian ma patung sekolah @Khazzam. Selamat teman sebangku dari kelas sepuluh! Jangan lupa pajak jadiannya, huhuy.
Astagfirullah. Aku mengelus dada, kaget sama muka sendiri. Jelek banget. Dia postingnya foto yang bagusan dikit kek.
Setelah otak kosletku kembali normal, aku segera berteriak murka, "AYUUUU!!!!"
Dasar ember, kenapa dia bocorin! Astaga, bukannya aku mau backstreet juga, tapi jangan dijadiin pusat perhatian gini. Aku sih oke aja, udah biasa. Tapi aku gak tau gimana perasaan Azam. Gimana kalau dia gak nyaman?
Aku membuka grup kelas yang isi chattnya sudah hampir seribu lebih, emang pada gak punya kerjaan banget ya temen sekelasku ini. Ada banyak orang yang men-summon-ku, mengucapkan selamat dan minta pajak jadian. Dasar pada kampret. Aku pun mulai marah-marah di grup kelas.
__ADS_1
"Kenapa kalian sebarin? Astaga, aku udah famous gak usah dibikin viral!"
Seketika grup semakin ramai, mereka menggodaku habis-habisan. Terjadilah perang di WA antara aku dan teman-teman sekelasku.
Saat malam sudah tiba aku jadi khawatir karena Azam tidak mengirimiku pesan apapun. Lelaki itu bahkan tidak repot-repot menyanggah atau menjawab pertanyaan yang datang bertubi-tubi ke akun sosial medianya. Aku juga sama, sih. Tapi murni karena aku nunggu dia jawab duluan dan malas karena terlalu banyak orang yang nanya, bahkan orang yang gak aku kenal.
Ah, mungkin Azam juga malas.
Aku jadi ragu-ragu, chatt dia atau jangan, ya? Aku gak tau gimana perasaannya sekarang. Apa dia sedang kesal karena aku membocorkan hubungan kami?
Aku jadi merasa bersalah.
__ADS_1
Setelah mengumpulkan keberanian, aku pun segera mengetik pesan.
"Azam? Kamu baik-baik aja? Maaf aku gak bermaksud nyebarin, aku cuma bilang sama satu orang, seriusan. Maafin aku."