
Hari paling aku suka adalah hari Jumat. Kenapa? Karena hari ini sekolahnya cuma sebentar. Akhirnya, di antara pulang jam setengah tiga ada juga yang pulang jam sebelasan.
Apalagi kalau gak ada ekskul, bisa langsung pulang dan rebahan di dalam kamar. Untunglah ekskul yang aku ikuti jadwalnya hari Selasa, jadi sekarang bisa langsung cus. Aku mau ngerem di kamar buat tamatin novel online yang baru kubaca beberapa part kemarin.
"Ke MP, yuk!" ajak Ayu tiba-tiba, membuatku menghentikan gerakan tangan yang sedang memasukkan buku ke dalam tas.
"Ngapain?" tanyaku penasaran. Kegiatan main di hari Jumat bersama mereka memang kegiatan yang sudah biasa kami lakukan sejak kelas X. Biasanya kami pergi jalan-jalan di sepanjang jalan Cihideung, beli jajanan ini itu. Nongkrong di taman kota, atau nobar di kelas sambil makan seblak.
"Mainlah! Yuk, udah lama gak ke sana," ajaknya sedikit memaksa.
"Tapi aku gak bawa uang banyak," keluh Septi. Dia sudah selesai membereskan buku-buku di atas mejanya.
Leli mendengkus, "Kayak kita mau beli apa aja di sana."
__ADS_1
"Biasa juga numpang lewat doang," ujar Sopa menimpali sambil tertawa.
Tempat yang dikatakan Ayu adalah salah satu mall terbesar di kota Tasikmalaya, setelah AP tentunya. Mayasari Plaza atau lebih dikenal MP letaknya memang cukup dekat dari sekolah kami, sekitar 200-300 meter. Jadi biasanya kami ke sana jalan kaki.
Kalau AP atau Asia Plaza lebih besar, tapi lumayan jauh, ke sananya harus naik angkot 02 dulu. Sayang ongkos.
"Ya udah, ayo!" ujarku setuju. Sudah lama juga aku tidak pergi ke daerah Cihideung, cuma kalau ada kegiatan bareng teman gini baru bisa pergi ke sana.
Mataku melebar saat ada satu pesan masuk dari Azam, hih, dia kalau aku jelek-jelekin dulu baru kayak gini. Apa aku harus terus jelek-jelekin dia dalam hati biar ke depannya lebih romantis? Halah, ngimpi! Ini kan cuma kebetulan.
"Pulang?"
Yah, satu kata. Aku memang tidak bisa berharap terlalu banyak darinya. Ini dia ngirim pesan duluan aja udah kayak keajaiban.
__ADS_1
"Mau main dulu, kenapa?"
Hm, aku jadi penasaran. Ada apa dia ngirim pesan? Padahal biasanya juga harus aku chatt duluan. Tapi pesan selanjutnya yang masuk benar-benar membuatku ingin menendang bokongnya sampai ke Antartika. Kampret!
"O, ok."
Haaaaahhhh, dia kalau gak niat ngirim pesan mending gak usah, deh! Bukannya bikin senang malah nambah kesal. Aku kan udah berharap dia mau ngajak aku jalan atau apa kek gitu, ini ternyata cuma nanya doang, mana jawabannya singkat banget pula.
"Kenapa, Na? Kusut banget tuh muka." Leli yang sepertinya memerhatikanku bertanya.
Aku hanya mengedikkan bahu, lalu berujar tanpa minat, "Gak apa-apa, ayo berangkat!"
Baiklah, Ina. Lebih baik lupakan aja cowok menyebalkan satu itu. Mari bersenang-senang bersama teman-teman, yang kadang kalau kamu gak ikutan bakal ngomongin di belakang. Jadi, sebisa mungkin aku harus selalu ikut kalau mereka mau jalan bareng, kecuali ke kafe kemarin, karena toh menerka niatnya cuma mau selfie doang.
__ADS_1