Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Anak Kafe


__ADS_3

"Nanti jadi?" Septi bertanya sambil memoleskan lip balm pada bibirnya. Yap, saat ini teman-teman cewekku sedang membuka salon gratis di kelas. Ada banyak sekali alat make up berserakan di meja. Aku bahkan gak hapal apa aja namanya.


"Mau ke mana?" tanyaku penasaran. Tolong jangan bayangkan aku ikut buka lapak, enggak, aku cuma lagi duduk baca novel online di ponsel, kebetulan mereka buka lapaknya di bangku Ayu, tepat di depan mejaku.


"Kafe Its Milk," jawab Sopa sambil menahan tawa, "mau ikut?"


Sekarang aku mengernyit, memangnya di daerah sini ada kafe? Uh, kalau tempat makan atau kedai bakso sih aku tahu beberapa. Tapi kalau kafe ... di Tasikmalaya ... aku benar-benar enggak tahu tempatnya.


"Emang ada? Di mana?"


Seketika Leli, Ayu, Sopa, dan Septi tertawa ngakak.


"Sudah kuduga si Ina bucin ini enggak tahu, haha." Ayu tertawa puas. "Makanya, Na, main tuh yang jauhan dikit kek, jangan ngerem mulu di kamar sambil melototin hp."


Aku meringis, sebagai orang yang introvert aku memang tidak terlalu suka tempat ramai. Bukan berarti aku gak bisa bergaul di tempat ramai, hanya saja aku tidak bisa jika terlalu sering. Kadang aku selalu menyesal ikut suatu acara karena membayangkan betapa nikmatnya rebahan sambil baca novel online.

__ADS_1


Lalu mereka sibuk membahas kafe yang entah di mana itu. Aku pun hanya mengedikkan bahu, lantas lanjut membaca. Tapi suara mereka yang keras membuatku tidak bisa fokus.


"Harganya berapaan, sih?" Ini suara Leli.


"Yang paling murah itu sekitar Rp. 17.000-an, Li. Biasanya aku juga pesen yang paling murah, kok." Nah, kalau yang ini suara Septi.


"Iyalah, sayang banget pesen yang mahal. Kita kan cuma butuh buat difoto aja." Ini suara Ayu.


Ah, elah. Kalau begini caranya bagaimana bisa aku membaca? Mereka berisik sekali!


"Di mana sih Its Milk itu?" tanyaku berharap ada yang jawab, mereka kalau udah asik sendiri kadang anak bawang sepertiku suka dikacangin.


Leli mengalihkan perhatiannya dari cermin ke arahku. "Itu yang deket SD, kamu pernah kan jalan lewat gang yang di sebelah toko baju depan sekolah kita?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Nah, lewat sana, terus nanti di perempatan belok kiri, letaknya tepat di depan SD."


Oh, aku manggut-manggut. Baru tahu kalau di sana ada kafe. Emang dasar aku tuh ya, kalau tukang baksonya aku tahu. Tinggal lanjut jalan, terus nanti pas nemu perempatan lagi tinggal pesen. Iya, kedai baksonya ada di perempatan. Nah, di sebelahnya itu ada tukang serabi, tapi ini serabi yang udah dimodifikasi, warnanya hijau dan pakai berbagai toping.


"Terus kalian mau ngapain deh ke sana? Ada menu yang enak?" Ini hanya pertanyaan basa basi aja, aku gak mau pergi ke tempat semacam kafe begitu, harganya pasti mahal. Uang jajanku mana cukup.


Mereka saling pandang, lalu tertawa keras. "Mau selfie, haha."


"Maksudnya?" tanyaku tidak mengerti.


"Itu kita mau numpang selfie, soalnya kafenya cantik banget. Instagramable pokoknya." jawab Sopa di sela-sela tawanya.


Ya elah, kirain mau pada ngapain. Ternyata demi instagram!


Pantes aja mereka fotonya pada bagus-bagus banget, kayak gaul gimana gitu loh. Followers-nya juga bejibun. Bikin iri. Ternyata begitu toh rahasianya. Pergi ke kafe, beli menu paling murah, terus foto-foto sepuasnya. Dasar.

__ADS_1


__ADS_2