Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Peristiwa Pagi


__ADS_3

"Zam, ada pacar tuh." A Akbar menyenggol bahu Azam. Ia lalu mengaitkan helmnya ke stang motor, sementara orang yang diboncengnya tidak pernah memakai helm.


Aku kadang penasaran, mereka rumahnya sejauh apa, sih?


Aku sebenarnya ingin pura-pura gak lihat, tapi A Akbar udah ngomong gitu, kalau gak nyapa rasanya kurang ajar banget. Akhirnya dengan terpaksa aku menghampiri mereka.


"Pagi," sapaku dengan memasang senyum manis. "Udah sembuh?" tanyaku sambil meneliti Azam. Kenapa dia gak kelihatan seperti habis sakit? Mana semalam juga begadang nih orang, gak habis pikir deh aku.


"Ekhm," A Akbar berdehem, dia menatapku dengan tatapan menggoda. "Belum, tapi karena gak dijenguk jadi langsung maksain ke sekolah biar bisa ketemu kamu."


Aku merasa darahku naik ke wajah, lantas aku segera menunduk. Aku tahu A Akbar bercanda, tapi digoda seperti ini sisa maluku yang tinggal sedikit menjerit.


Aku mendengar suara A Akbar mengaduh, saat aku menatapnya ia sedang memegang purut sebelah kiri. Sepertinya dia baru saja kena serangan maut dari Azam.

__ADS_1


Azam lantas mendorong bahu A Akbar, lalu mengusirnya. "Pergi sana."


A Akbar terbahak, "Oke, oke. Kalian masih pagi jangan mojok."


Sekarang rasanya aku ingin menimpuk kepala A Akbar dengan sepatu, ternyata dia ngeselin juga. Aku masih menatap punggung A Akbar yang sudah menjauh saat sebuah suara terdengar.


"Ayo ke kelas."


Ah, aku mengerjap, lalu menatap Azam. Hm, dia mengajakku untuk jalan ke kelas bareng? Seriusan, nih?


Ketika akan menaiki tangga, Azam berjalan mendahuluiku, lalu ia berhenti di undakan tangga yang pertama. Ia memutar tubuh lalu menatapku intens. Duh, aku meleleh. Kalau ditatap terus begini rasanya sebentar lagi aku aku bakal berubah jadi agar-agar.


Azam mencondongkan tubuh, lalu berbisik.

__ADS_1


"Itu ada belek di matamu."


Anjir! Seketika seluruh bayangan romantis di dalam kepalaku hancur. Dia kampret banget sih. Aku jadi gereget pengen nyakar.


Kesal dan malu, aku berjalan melewatinya begitu saja, lalu berlari ke dalam kelas. Segera aku mengeluarkan cermin dari dalam tas, dan mengusir pergi belek sialan itu! Ah, padahal ini pertama kalinya Azam mau nyapa aku di depan umum. Tapi kenapa harus karena belek, sih? Aku jadi pengen nangis sekarang. Aku malu banget!


"ANJIR, DI MANA SI INA?" Suara teriakan dari pintu kelas membuat semua orang menoleh, di sana Ayu sedang mengatur napas, sepertinya dia habis berlari. Kenapa juga dia lari-lari begitu cuma buat nyari aku?


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


Ayu mengangkat kepala, lantas menatapku tepat di mata.


"INAAAAAA!!!! SERIUSAN KAMU TADI JALAN BARENG SAMA SI PATUNG ITU DARI PARKIRAN?!! SERIUS? DEMI APA???!!!" Aku segera menutup telinga dengan tangan, buset deh suara Ayu ini berisiknya ngalahin toa.

__ADS_1


Ayu lantas berjalan ke arahku, tak lupa juga murid-murid di kelas yang lain. Mereka pasti penasaran akan ucapan Ayu. Ah, bocah kampret ini.


Lagian dia dapat info dari mana coba? Eh, aku lupa. Tadi aku jalan bareng Azam dari parkiran, pasti banyak yang lihat. Kampret. Sekarang aku pasti jadi trending topik lagi di sekolah.


__ADS_2