Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#25


__ADS_3

Selesai memasak tumis kangkung, menggoreng tempe, dan mengulek sambal, Ina dan Ani segera pergi ke ruang keluarga untuk bersantai ria. Mereka membawa satu toples makanan ringan untuk dinikmati bersama.


"Mama, Eni, sama Ana pada ke mana, Teh? Tumben sore gini sepi." Ina bertanya sembari fokus pada isi toples, memilih kue mana yang akan ia makan, kuenya harus yang paling besar dengan banyak selai di atasnya.


"Tahu," jawab Ani malas, tangannya sibuk memencet remote tv untuk menggonta-ganti channel demi mencari tayangan yang menarik. "Ah, tapi kalau enggak salah ingat, ada acara tahlilan gitu di rumah tetangga."


Ina manggut-manggut. "Kok aku gak diajak? Lumayan amplopnya buat jajan."


"Kamu lagi mandi tadi, kalau mau nyusul aja sana," ujar Ani tidak peduli.


"Ya kali, udah telat banget sekarang mah. Paling juga bentar lagi selesai," gerutu Ina sebal.


Kedua adik kakak-kakak itu mulai sibuk masing-masing, Ina sibuk dengan memindahkan kue dari toples ke dalam perut, dan Ani sibuk menonton berita. Sungguh acara yang tidak bisa menarik perhatian Ina sedikit pun.


Ani tidak benar-benar fokus pada acara televisi, karena sebenarnya ia malah sedang memainkan ponsel, chattingan dengan pacarnya. Ia membalas satu demi satu pesan yang datang dengan senang hati, sebelum kemudian menjeris histeris bagai baru menang lotre.

__ADS_1


"Kenapa, sih, Teh? Berisik banget, deh!" gerutu Ina tidak suka, ia sedang asyik mengunyah malah dikagetkan sama teriakan gak jelas tetehnya.


"Ih, diam, aku lagi senang banget, nih!" Ani tersenyum-senyum najis sambil memeluk ponsel. Sebelum kemudian senyumnya segera berubah menjadi ejekan. "Na, pacar aku mau apel malam ini, loh."


"Terus?" Ina membalas tidak peduli dan tetap sibuk mengunyah.


"Pacar kamu kapan apel ke sini?"


Uhuk.


Ina mengelap mulutnya yang cukup berantakan dengan tisu dari atas meja, sebelum ia mulai mengomel, tetehnya sudah lebih dulu mengeluarkan rentetan protes.


"Ina, ih! Jorok banget kamu! Kalau makan tuh hati-hati, lihat nih baju aku jadi kotor! Mana bau jigong pula!"


Mendengar itu Ina sontak berdecak sebal, memang gara-gara siapa dia jadi tersedak? Andai tetehnya itu tidak asal ceplos, sudah pasti kue yang sedang ia kunyah bisa sampai ke lambung dengan aman. Memang dasar tetehnya ini suka menyalahkan orang lain.

__ADS_1


"Ya habis teteh, sih, nanyanya gak pake Bismillah dulu."


"Yakali, aku nanya beneran, nih. Kapan dia mau apel ke sini?"


Seketika wajah Ina berubah masam dan penuh dengan kesuraman. Tidak ada dalam bayangannya sedikit pun itu cowok bakal datang buat apel ke rumahnya. Pas kencan aja absurd banget, gimana kalau apel? Mungkin itu cowok bawa angin doang.


"Tahu," balas Ina sebal, ia segera melengos malas.


Bukannya turut prihatin, Ani malah tertawa bahagia, membuat suasana hati Ina semakin jelek. "Gila sih, kalian pacarannya lucu banget! Dia udah pernah pegang tangan kamu?"


Ina memalingkan muka tidak mau menjawab, enggan meladeni kekepoan tetehnya yang suka overdosis.


"Duh, kasihan banget sih, adik aku. Malam Minggunya tetap cuma main ponsel di rumah. Meluk guling, menatap bintang dari balkon kamar. Jiah. Merana banget."


Ina hanya memutar bola matanya malas, ia tidak selebai itu. Sudah biasa menikmati Malam Minggu sendirian kalau sedang tidak diajak main sama kedua orang tuanya. Ia malah senang karena bisa begadang ria dan menghabiskan waktu buat membaca novel online.

__ADS_1


__ADS_2