
Parhan bertugas menjadi dirigen, tapi sayangnya cowok itu tidak tahu ketukan lagu Indonesia Raya. Ayu dengan sabar mengajarinya, walau mulutnya terus nyerocos tidak bisa direm.
Di sisi lain, tiga orang yang bertugas sebagai pengibar bendera sedang dimarahi habis-habisan oleh Sopa karena tangan dan kaki mereka bergerak bersamaan, juga langkah kaki mereka yang tidak kompak. Jarak langkahnya juga terlalu jauh dan terkesan terburu-buru.
Beruntunglah Ina karena ia tidak perlu mengajari Awan bagaimana cara membaca visi misi sekolah, kalau cowok itu tidak bisa membacanya ia tidak tahu lagi tingkat kepintaran Awan. Masa membaca saja tidak bisa? Lebih baik kembali lagi ke TK!
Ina dan beberapa teman perempuan lain kembali berdiri saat Parhan siap untuk latihan kembali. Cowok itu berdehem sebentar sebelum mulai mengeluarkan suara falsnya.
__ADS_1
"Hiduplah Indonesia Raya."
Alih-alih menyanyi, Ina malah kembali tertawa saat melihat gerakan tangan Parhan yang tidak singkron. Membuat cowok itu kesal dan berniat menjitaknya jika saja tidak ditahan Ayu.
"Tukeran tugas sama Soni, deh, sana! Tangan kamu kaku banget!" saran Ina setelah puas tertawa. Gadis itu terlalu fokus pada teman-temannya sampai tidak sadar jika di pinggir lapangan Azam sedang memperhatikannya.
Akbar sekarang tahu alasan sahabatnya bertingkah aneh, ternyata karena Ina lagi. Ia sengaja menyikut perut cowok itu yang raut wajahnya entah kenapa terlihat masam. Azam meliriknya sekilas, lalu memberikan seluruh kertas di tangannya pada Akbar dan hanya menyisakan satu lembar yang segera ia lipat. Cowok itu mendekati kaca yang sekarang sudah lumayan basah karena sudah disemprot oleh entah apa. Ia mulai menggerakkan tangan ke kanan dan ke kiri, berharap kaca itu segera bersih.
__ADS_1
Ina pergi untuk berteduh, lalu mulai sibuk bermain ponsel. Membaca novel yang membuatnya kesengsem sejak pertama membaca. Walau bukan genre cerita remaja seperti biasa, ia tetap suka. Ia kagum pada penulisnya yang ia tahu bernama Kak Shu dan Kak Ron. Cerita berjudul Legenda Pendekar Naga ini selalu menjadi rangking satu. Tidak heran juga, sih, karena ceritanya memang benar-benar keren.
Azam yang sudah selesai membersihkan kaca (sebenarnya sengaja memilih berhenti setelah membersihkan satu kaca bagian luar saja yang membuat teman perempuannya berdecak tidak suka, tapi ia masih mending daripada Akbar yang hanya mengelap beberapa kali lalu kabur buat nongkrong di kantin), matanya sejak tadi memperhatikan gerak gerik Ina. Saat melihat gadis itu fokus dengan ponsel, ia segera mengirim pesan padanya, tapi masih seperti sebelumnya, pesan itu tidak terkirim. Hal ini membuat kening Azam mengernyit sebentar, lalu memilih tidak peduli dan membuka aplikasi game.
Setelah beberapa saat, Akbar datang sambil membawa gorengan di tangan kanan dan satu plastik minuman berwarna merah muda di tangan kiri. Cowok itu curi-curi pandang pada guru piket yang masih belum juga beranjak untuk membukakan gerbang. Masalahnya, sekolah ini hanya memiliki satu gerbang dan dikelilingi oleh tembok yang cukup tinggi yang tidak bisa dipanjat. Jadi ia tidak bisa kabur, terlebih Akbar memang membawa motor.
Setelah menang dalam duel, Azam mengangkat kepala dan bertanya pelan pada Akbar. "Kalau gak bisa ngirim pesan atau manggil ke satu nomor itu kenapa?"
__ADS_1
Akbar berhenti mengunyah sebentar, lalu menjawab tidak peduli, "Mungkin karena diblokir?"
Azam hanya mengangguk pelan, lalu kembali fokus pada gamenya.