Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#27


__ADS_3

"Berjamaah aja gimana?"


"Oke! Nanti kamu samper aja ya ke rumah!"


"Sip!"


Setelah Meli pulang, Ina kembali ke dalam rumah, tetehnya masih sibuk pada ponsel dan sesekali menengok acara berita.


Ina tidak berhenti untuk kembali duduk, melainkan langsung berjalan ke arah kamar. Ia harus siap-siap sebelum berangkat mengaji. Berganti pakaian dan menyiapkan mukena serta buku untuk mencatat.


"Siapa tadi, Na?" tanya Ani tanpa mengalihkan perhatian dari layar persegi di tangannya.


"Kepo," balas Ina ketus, ia memalingkan muka dan memilih berjalan ke arah dapur. Sebelum berganti pakaian sebaiknya ia mengisi perut terlebih dahulu. Bisa berabe nanti kalau lagi fokus ngaji malah kelaparan.


***


"Ngebakso, yuk!" ajak Meli ketika acara mengaji sudah selesai, mereka hanya tinggal menunggu adzan Isya sebelum pulang. Tetapi kebanyakan memang setelah acara pengajian selesai langsung pada ngacir entah ke mana. Padahal cuma tinggal nunggu beberapa menit, tapi mereka sepertinya tidak suka menunggu buat kebaikan, pada kegoda sama setan. Makanya pada kabur, sholat isya sendiri di rumah, atau mungkin pada enggak sholat.


Astaghfirullah, hush Ina, jangan seudzon gitu!

__ADS_1


"Di mana?"


Meli meraba saku sebentar, lalu mengeluarkan uang satu lembar berwarna kuning. Giginya membentuk cengiran mirip kuda, lalu menatap Ina meminta pengertian.


"Cuma ada goceng, beli soteng aja, yuk!"


Ina mendengkus, dasar Meli! Gaya banget ngajak makan, kenyataannya kagak punya duit. Untung dicek dulu, kalau enggak bisa mati karena malu mereka. Gila aja pas udah selesai makan malah enggak mampu bayar.


Walau tukang baksonya masih bisa dibilang tetangga, tetap saja tidak enak kalau ngutang. Dikira tukang bensin kali ah nge-bon. Mending jangan beli aja sekalian.


Sekarang giliran Ina yang merogoh saku, saat tidak menemukan apapun, cengiran gadis itu lebih lebar daripada milik Meli.


Meli ingin mencekik tetengganya itu habis-habisan, tadi saja dia menunjukkan ekspresi jijik saat melihat jumlah nominal uang yang dimilikinya karena kurang, ternyata dia malah lebih parah. Enggak bawa sepeser pun!


Dasar missquen memang mereka berdua. Lagaknya sok sekali mau hedon. Tapi duit kagak punya.


"Ya udah, pulang aja, yuk!" ajak Meli pasrah. Lebih baik uangnya dia tabung saja atau paling tidak bisa ia belikan risoles di jalan masuk gang.


"Bentar, mending sholat isya dulu aja," ajak Ina.

__ADS_1


"Ya udah, ayo."


Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju ke masjid, di sana sudah ada banyak anak yang sedang bermain. Memang dasar bocah, mereka bermain kejar-kejaran di dalam masjid. Sebagiannya ada juga yang fokus pada ponsel. Duh, padahal mereka masih SD, tapi sudah main HP saja. Mana kalau didengar lebih dekat, bahasan yang diangkat adalah tentang pacar.


Anak-anak zaman sekarang memang beda, ya. Zaman Ina dulu pas SD mainnya kucing-kucingan, polisi penjahat, main karet, adu kelereng, dan permainan tradisional lainnya. Saat ini jarang sekali bisa melihat anak-anak yang bermain seperti itu. Kebanyakan pada bikin grup tersendiri, terus bahas gebetan. Ngalahin remaja yang udah duduk di bangku SMA.


Mereka duduk di undakan tangga sebelum masuk ke masjid, nongkrong dulu di sana sambil menunggu adzan isya. Ina dengan sengaja meledek beberapa anak yang ia kenal.


"Aduh, cie Anye udah punya pacar. Siapa tuh? Kenalin dong," godanya sambil mencolek lengan seorang gadis berkerudung merah muda.


"Ih, apaan, sih, Teh Ina." Gadis itu menunduk malu-malu dan beringsut mundur menjauhi Ina. "Aku enggak punya pacar, masih kecil."


"Hiya, ngaku aja, Nye, bohong dosa, loh." Ina tetap menggodanya.


Siapa sangka Meli malah lebih memilih untuk mendukung Anye dan mulai meledek Ina.


"Nye, Ina tuh iri, soalnya dia masih jomlo sampai sekarang, haha. Kenalin dia sama cowok, Nye. Lagi buka pendaftaran soalnya, berondong pun gak masalah."


"Aku bukan pedofil, oy!"

__ADS_1


__ADS_2