
Pacaran itu butuh modal.
Buat apa? Yang pasti bukan buat memulai bisnis. Contohnya? Kalau mau punya waktu berdua lebih lama, kamu harus punya modal buat beli minimal es kelapa muda yang banyak ditemukan di sekitaran Tasikmalaya. Kalau mau lebih elit lagi kencannya ya harus punya modal lebih besar supaya bisa makan di restoran, minimal di restoran Mie Bakso Firman di Simpang Lima.
Ada juga modal lain yang sangat diperlukan agar bisa berkomunikasi, apalagi kalau bukan pulsa dan kuota. Kalau gak punya kuota gimana bisa ngucapin selamat pagi, siang, sore, dan malam? Tentu saja hal ini tidak berlaku untuk Ina dan Azam karena mereka tidak pernah menyapa dengan waktu. Langsung membalas pesan sebelumnya yang bisa jadi berjam-jam yang lalu. Tapi tetap saja, Ina butuh kuota untuk bisa menghubungi Azam. Apalagi sekarang mereka sedang dekat-dekatnya, berkirim pesan jadi tidak terasa membosankan lagi.
Ina menatap layar ponselnya nanar, ia sedang membaca pesan yang datang dari operatornya.
"Maaf, pulsa anda tidak mencukupi untuk memperpanjang paket ini."
Rasanya Ina ingin menangis, terlebih jatah untuk beli pulsanya belum ia kumpulkan karena harus ia pakai untuk main bersama teman-temannya kemarin. Mana pesan dari Azam belum sempat ia buka pula.
"Kenapa, Na?" tanya Leli yang sadar Ina sedari tadi tidak bergerak.
"Oh, gak apa-apa."
__ADS_1
Ina berpikir untuk meminjam hape Leli dan mengabarkan pada Azam kalau dia enggak punya kuota, tapi kalau dipikir lagi, rasanya Ina cukup tidak rela membagi nomor Azam pada orang lain. Setidaknya ia tidak mau menyebarkannya, kalau dari Azamnya sendiri sih, ia mungkin akan lebih mencoba untuk mengerti.
Baiklah, sudah Ina putuskan. Ia akan menemui Azam saja nanti saat jam istirahat.
"Na, kenapa belum siap-siap?"
"Eh?" Ina jadi tidak fokus pada sekitar. "Mau ke mana?"
"Belajarnya di lab. Bahasa, ayo! Kamu mau aku tinggalin?" Leli sudah berdiri lengkap denyan buku tulis, buku pelajaran, LKS, dan tempat pensil di pelukannya.
Saat tiba di lantai tiga, kebetulan anak-anak kelas XII sedang berkumpul, nongkrong ganteng di depan kelas. Mereka bercampur antara jurusan IPA dan IPS, tidak seperti angkatan Ina yang saling bersaing.
Ketika salah satu dari mereka menyadari kehadiran Ina, langsung saja berbagai ledekan datang.
"Zam, ada pacar tuh! Sapa dong, masa mau dianggurin?"
__ADS_1
"Witwiw, hei pacarnya Azam, kapan mau berpaling ke hati Aa?"
Azam langsung memukul kepala cowok itu karena menggoda pacarnya terang-terangan. Tentu saja hal ini membuat suasana semakin ramai.
"Waaahhh, Azam bergerak! Azam bergerak!"
Azam hanya mendengkus, dikira selama ini dia mati apa? Sampai dia bergerak saja mereka seheboh ini?
"Maksudnya kamu akhirnya menunjukkan kalau kamu gak suka ada yang godain, Ina, Zam." Akbar yang dari tadi hanya mengamati bersuara, ia bisa melihat ekspresi ketidak mengertian di wajah Azam karena tingkah teman-temanya.
Azam hanya beroh ria, lalu ikut menatap Ina yang saat ini malah bersembunyi di belakang Ayu, entah dia takut atau malu sampai mepet-mepet pada Ayu seperti itu. Kasihan, Azam pun menghentikan teman-temannya yang masih asyik menggoda Ina.
Azam pun berdiri dan berniat pergi ke dalam kelas untuk membungkam paksa mulut teman-temannya, tapi tidak sesuai dugaan, ketika sudah berdiri, teman-temannya langsung bersorak heboh.
"Taruhan, Azam bakal nyamperin Ina atau kabur?"
__ADS_1