Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Sarapan


__ADS_3

Aku sibuk memilih menu sarapan yang menurutku cocok pagi ini. Nasi kuning? Nasi cikur? Nasi TO? Bubur? Apa, ya, yang enak? Kalau di novel-novel gitu kan biasanya suka makan bubur atau apa gitu. Walau di pinggir jalan, banyak lalat yang hinggap, banyak motor lalu lalang, semua terasa indah kalau makan bareng pacar. Cielah.


Enggak perlu suap-suapan, cukup makan berdua bareng Azam pun aku udah senang. Di mana di Dadaha tempat bubur yang enak? Aku belum pernah nyoba, baru pernah makan bakso aja yang di dekat mushola. Di sana enak banget baksonya, harganya juga terjangkau. Tapi, siapa orang yang sarapan pakai bakso? Aku belum pernah dengar. Lagipula aku enggak yakin kedai baksonya udah buka jam segini.


Aku masih curi-curi pandang pada Azam, jalan berdua bareng dia begini jantungku enggak bisa diam. Pengennya sih pegangan tangan, tapi aku gak berani bilang. Padahal kan kalau di film-film gitu, kalau jalan beriringan begini pasti gandengan kayak truk gandeng. Apalagi kalau pacarannya masih anget, masih dimabuk cinta, duh itu orang kayak pake lem, rekat banget, susah pisah.


Tapi, ya, itu enggak berlaku buat kisah aku sama Azam. Walau pacaran masih baru, kita enggak ada lengket-lengketnya. Berkirim pesan aja masih kayak tukang ojeg online sama pelanggan, gimana mau romantisan? Dan ini di Tasik, tempat yang dikenal sebagai Kota Santri, mana berani aku gandengan tangan sama Azam. Bisa-bisa digrebek masa. Kayak alay banget juga jalan di tempat umum begini sambil pegangan tangan. Iya, gak?


Aku menghentikan langkah ketika Azam berhenti. Kening mengernyit, kenapa kita berhenti di sini? Aku mengedarkan pandangan, sekarang sudah mulai ramai. Ini tempat tadi aku ditinggalin Azam, tempat tukang dagang berkumpul dan menjajakan dagangan.


Aku menatap Azam heran, bukannya kita mau sarapan? Kenapa malah ke sini? Bukankah seharusnya nyari tukang nasi atau tukang bubur.


Ditinggal ngelamun bentar, itu cowok udah ninggalin aku lagi. Aku pun mengekor di belakangnya. Dia menghampiri tukang cilok, lalu memesan. Aku hanya berdiri di belakangnya tanpa melakukan apa-apa. Bingung juga harus ngapain.


"Kamu gak laper?" Azam bertanya dengan raut bingung.

__ADS_1


Aku membalas tatapannya tak kalah bingung. "Laper," ujarku sambil mengelus perut. Lari lima keliling di Dadaha tentu menguras tenaga, sekarang cacing-cacing penghuni perut sudah berdemo minta diberi makan.


"Kenapa gak jajan?" tanyanya membuatku semakin mengernyit heran. Ini otakku yang emang lemot banget atau pikiran Azam yang udah 5G? Kenapa aku sama dia suka gak nyambung? Susah banget ngertiin Azam, tuh. Kalau diibaratkan, aku cuma baru bisa baca buku anak SD, Azam udah baca tentang jurnal-jurnal buat persiapan skripsi.


"Bukannya kita mau makan?" tanyaku sekali lagi dengan nada heran. Aku menatapnya meminta pengertian. Tolong turunkan standar pikiranmu, Azam! Bikin aku ngerti, jangan malah buat aku kayak orang bego gini!


"Lah, emang ini bukan makanan?" tanyanya yang tumben agak panjangan ngomongnya.


Aku terdiam sejenak, mencoba memproses informasi yang baru saja kuterima. Saat hubungan arus listriknya sudah lancar, aku menatap Azam ragu. "Maksudmu, kita sarapan pakai ini?" Aku berharap dia akan menggelengkan kepala, menjawab ini hanya untuk mengganjal perut sebelum kami mencari tukang bubur.


Tapi, Azam memang selalu menghancurkan ekspetasiku. Cowok itu mengangguk pelan, membayar jajanannya. Dia menatapku seolah menyuruhku untuk memesan juga. Membuatku hanya mematung tidak bisa berkata-kata.


Kalau bukan di tempat umum, aku pasti sudah menyerang Azam dengan bogemku. Dia kok minta dihajar banget, sih? Andai bawa pisau, sudah kumutilasi dia! Aku potong-potong bagian tubuhnya menjadi kecil-kecil, lalu aku jadikan pakan buat ayam penyakitan punya tetangga.


Memang, ya, semua khayalanku tentang punya pacar bucin hanya akan selalu menjadi khayalan jika sudah bersama Azam. Alih-alih meleleh akan sikap manisnya, aku malah selalu mendidih karena sikap menyebalkannya.

__ADS_1


Pengennya aku pukul kepala dia sekuat tenaga, jedotin jidatnya ke trotoar sampe gegar otak. Siapa tahu kan otaknya nanti bisa berubah jadi kayak orang normal.


Aku memesan cilok dengan wajah kesal. Setelah membayarnya, aku meninggalkan Azam sendirian. Berjalan menuju trotoar untuk lesehan dan sarapan yang sungguh 'nikmat' dengan cilok lima ribuan.


Hah, sungguh kencan yang 'luar biasa'. Untung sayang, kalau enggak, sudah kuputuskan Azam sekarang juga.


***


**Pengumuman!


Hai, Ryn di sini. Aku cuma mau ngasih tahu, mulai episode selanjutnya aku akan pakai sudut pandang orang ketiga. Jadi jangan kaget, ya. Aku bakal lebih mengeskplor lagi tokoh yang lain. Aku juga akan memperbaiki alurnya, semoga gak ancur-ancur banget, hehe.


Sebenarnya, cerita Ina-Azam seharusnya tamat di episode kemarin. Tapi, aku takut di demo masa, wkwkwk. Jadi, ceritanya bakal aku lanjutin.


Aku udah mempertimbangkan ini dari beberapa waktu yang lalu, jadi ceritanya gak bakal terlalu fokus sama Ina aja.

__ADS_1


Mohon dukungannya, ya. Terus baca kisah Ina-Azam sampai tamat nanti.


Terima kasih. 💕💕💕**


__ADS_2