Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#11


__ADS_3

Azam tidak terlalu tertarik dengan kegiatan di sekolah, ia hanya akan datang pagi hari dan segera pulang ketika jam pelajaran selesai. Untunglah ia bisa berteman dengan Akbar, tetangganya yang juga tidak betah berada di sekolah. Jadilah ia selalu nebeng setiap pulang dan pergi ke sekolah. Tentu saja tidak gratis, ia akan mengganti uang bensinnya setiap satu bulan sekali. Walau terkadang Akbar menolak, Azam tetap membayar karena tidak suka berhutang.


Selama satu tahun belakangan Azam hanya menghabiskan hari dengan belajar, tidur, dan bermain game. Sesekali keluar ke Dadaha untuk berolahraga bersama teman-teman satu ekskulnya. Tapi selain itu, ia hanya menghabiskan waktu di rumah neneknya.


Sampai suatu hari ketika pertama masuk di semester satu kelas XI Azam bertemu dengan dia. Gadis manis bertubuh mungil yang menatapnya penuh antusias. Dia terlihat seperti seseorang yang akan mempunyai banyak teman di mata Azam. Terlihat dari senyum cerianya yang menyebarkan aura positif.

__ADS_1


Awalnya Azam tidak peduli pada gadis yang belakangan ia ketahui bernama Ina itu, ia hanya menganggapnya sebagai salah satu gadis merepotkan yang jatuh pada pesonanya. Azam cukup yakin gadis itu akan segera datang lagi dan mendekatinya dengan terang-terangan seperti kebanyakan gadis yang sudah ia kenal.


Tapi kenyataannya berbeda, setelah tidak ia pedulikan, nyatanya gadis itu memang mencari tahu hampir semua hal yang ia lakukan di sekolah. Sebenarnya tidak banyak, karena kegiatan Azam di sekolah hanya mendengarkan penjelasan guru, mencatat materi, mengerjakan tugas, mengikuti ekskul voli setiap hari Selasa, dan menghabiskan waktu dengan berdiam diri di kursi dekat toilet yang selalu sepi untuk bermain game.


Ina selalu bertanya tentangnya dengan semangat, gadis itu bahkan masuk ke ekskul yang ia ikuti. Awalnya Azam kira gadis itu hanya mengikutinya saja, tapi tidak ia duga ternyata Ina masuk ekskul voli karena olahraga ini adalah salah satu kegiatan favoritnya. Untuk pertama kalinya Azam merasa malu pada diri sendiri karena sudah kegeeran.

__ADS_1


Gadis itu selalu bersemangat akan semua hal yang dia lakukan, terutama ketika sedang bergosip dengan teman-temannya. Dia juga mudah tertawa dan membuat suasana menyenangkan. Hal lain yang ia temukan adalah gadis itu seringkali menjadi bahan ledekan teman-temannya.


Azam awalnya tidak mengerti kenapa teman-teman Ina sangat suka menggodanya, padahal gadis itu bukan tipe orang yang patut dibuli. Sampai kemudian dia melihatnya sendiri ketika Parhan, Soni, dan Awan dengan sengaja meledek Ina karena tidak pernah berani menyapa dirinya.


Selama ini Azam penasaran juga akan alasan Ina tidak pernah menyapanya, ternyata gadis itu tidak berani. Hal yang membuat cowok itu mulai tertarik pada Ina adalah ketika dia memasang ekspresi kesal bercampur marah di wajahnya. Gadis itu mulai membalas ucapan teman-temannya dengan berapi-api sehingga menimbulkan suara berisik karena tidak satu pun di antara mereka yang mau mengalah.

__ADS_1


Azam sampai tertegun sejenak, ia tidak menyangka Ina malah terlihat semakin manis ketika marah. Pelototan kesalnya, tangan yang berkacak pinggang, dan mulut yang tidak berhenti mengomel entah kenapa terlihat sangat menarik di matanya. Sejak saat itu entah kenapa Azam mulai memiliki keinginan untuk menjadi salah satu alasan untuk membuat Ina kesal.


__ADS_2