Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
51


__ADS_3

Azam merasa pusing dengan latihan-latihan soal yang terus diberikan oleh guru. Sebentar lagi ia memang akan melaksanakan UN, jadi kelas kebanyakan hanya membahas tentang soal-soal yang akan ada di UN. Untungnya, ujian sekolah sudah selesai, ia hanya tinggal melakukan ujian praktik. Tapi, ujian praktik di sekolah ini bahkan lebih horor daripada ujian praktik di sekolah biasa karena yang diujiankan terdiri dari berbagai macam pelajaran. Yang paling umum sih olahraga, ujiannya renang. Kemudian dilanjut dengan mata pelajaran jurusan yaitu IPA, terdiri dari ujian praktik kimia, ujian praktik fisika, dan ujian praktik biologi. Judulnya sih ujian praktik, tapi beberapa ada yang diberi soal, misalnya fisika diberi soal berupa soal cerita yang memikirkannya saja Azam sudah mumet.


Tetapi, yang paling susah menurut Azam adalah ujian agama, soalnya nanti bakal dites wudu dan bacaannya, bacaan salat, hafalan juz 30, doa-doa setelah salat sunah, terus yang paling banyak di tunggu adalah praktik menyolatkan jenazah.


Melihat begitu banyaknya yang harus dia lakukan, Azam hanya bisa pasrah dan menjalaninya. Jika sedang jenuh, ia akan menghubungi Ina untuk sekadar menjahilinya. Biasanya ia akan merasa terhibur dan tercerahkan lagi.


Saat akan ke toilet, ia melihat Ina dan teman-temannya sedang sibuk bergosip di dekat UKS. Ia ingin mengabaikannya, tapi suara mereka terlalu keras. Jadi Azam masih bisa mencuri dengar.


Melihat betapa santainya Ina dan teman-temannya sekarang, dia jadi ingin kembali ke kelas 11 lagi agar tidak perlu ribet memikirkan ke mana akan melanjutkan kuliah, bagaimana jika nilai tidak mencukupi, harus belajar dengan giat agar bisa lolos tes universitas, dan beban-beban lainnya. Saat kelas 11 yang ia pikirkan hanya nilai diatas KKM untuk naik kelas. Selain itu, dia masih bisa bermain dengan teman-temannya secara bebas dan merusuh di ekskul voli untuk melampiaskan rasa jenuh. Sekarang ia bahkan tidak punya waktu untuk olahraga setiap hari, ia harus belajar. Terlebih dia tidak lolos SNMPTN, jadi harus berjuang untuk mengikuti SBMPTN jika ingin kuliah di universitas negeri.


Untungnya, Azam miliki Ina sebagai pacar. Gadis itu tidak terlalu rewel dengan meminta ini itu, dia bahkan sangat pengertian dengan mengurangi pesan yang dikirimnya dan hanya membalas jika di kirimi pesan, serta sesekali memberikan kata-kata penyemangat yang menurut Azam cukup menghibur.


"Hah? Jadi selama ini kamu cuma panggil nama aja? Gak romantis banget, sih! Tapi kocak deh, dulu pas SMP ya, aku sama pacarku itu panggilannya aing sia, lucu nggak, tuh?" Suara keras Ina dan teman-temannya berhasil mengembalikan Azam dari ingatan masa lalunya. Ia berdecak, kenapa mereka bisa mengeluarkan suara sekeras itu? Padahal mereka perempuan, terlebih sekarang masih jam pelajaran, tidak seharusnya mereka bergosip di sana.


"Buset! Di mana lucunya itu? Kasar banget panggilannya, kamu nggak sakit hati apa?" tanya orang yang paling Azam kenal, siapa lagi kalau bukan pacarnya.


Gadis tadi kembali menjawab, "Enggak dong! Enak tahu! Soalnya jadi bebas gitu kalau pacaran sama dia, mau ngomong kasar juga dimaklumin aja. Jadi kangen mantan." Gadis itu menatap kejauhan dengan penuh drama.


"Hilih! Dasar cewek gagal move on!" Gadis yang Azam tahu bernama Ayu mencibir, tapi yang dicibir hanya tertawa saja dan mengiyakan. Kemudian gadis itu mulai kembali bercerita, "Ya, itu masih mending lah daripada orang-orang alay zaman aku SMP dulu. Sumpah, ngakak banget gak, sih? Mereka masih SMP tapi panggilannya Ayang Beb, Papa Mama, Ayah Mama, dan panggilan menggelikan lainnya. Apaan coba ya, kan? Geli banget rasanya, apalagi kalau mereka lagi ngomong dekat aku, rasanya pengen banget tendang bokong mereka sampai ke Antartika. Geli banget lah pokoknya."


Azam kembali ingat tujuannya untuk pergi ke toilet saat merasakan desakan dari bagian bawah perutnya, ia pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Terlebih ia juga merasa menguping pembicaraan orang lain itu tidak baik. Apalagi obrolan Ina dan teman-temannya sangat tidak penting. Ia pun segera masuk ke bilik toilet untuk menuntaskan keinginannya.

__ADS_1


Pulang sekolah, seperti biasa Azam akan nebeng pulang pada Akbar. Saat ini mereka sedang duduk di kursi besi di depan ruang guru menunggu gerbang dibuka. Beginilah kalau pelajaran selesai lebih dulu daripada jadwal, ia harus menunggu bel berbunyi sebelum gerbang bisa dibuka agar bisa pulang ke rumah. Ia dan Akbar sedang membahas soal matematika yang tadi mereka kerjakan, jawaban mereka berbeda, jadi Azam dan Akbar segera membuka buku untuk melihat di mana letak kesalahan mereka dalam mengerjakan soal.


Akan tetapi, kegiatan mereka terganggu saat seorang gadis memanggil nama Azam Azam. Cowok itu mengangkat kepala dari buku dan melihat ternyata Ina sedang berjalan ke arahnya dengan terburu-buru. Ia mengangkat sebelah alisnya heran ketika melihat gadis itu ngos-ngosan. Kenapa juga dia harus berlari-lari seperti itu? Tumben juga Ina berani menghampirinya di sekolah, mana memanggil namanya dengan keras pula.


Ina menunduk sebentar untuk mengatur nafas. "Untunglah masih sempat, kalau kamu udah pulang bisa berabe aku, dari dua minggu yang lalu lupa terus." Gadis itu berbicara sambil terus menunduk dan mengatur napas.


Ina segera mengaduk tasnya mencari undangan pernikahan Teh Ani. Kepikunannya sepertinya sudah bertambah parah karena ia lupa terus untuk memberikan titipan tetehnya itu untuk Azam. Ketika sudah menemukan apa yang dicari, ia mengangkat kepala dan melihat sekeliling. Gadis itu baru sadar bukan hanya Azam yang memperhatikannya, tetapi hampir semua orang yang ada di sana menatap kearahnya. Tiba-tiba saja ia jadi gugup.


Lalu, saat matanya bertemu dengan mata Akbar, ia pun tersenyum ceria dan menyapanya untuk menetralisir rasa gugup. "Halo A, apa kabar? Ke mana aja? Kok aku jarang lihat? Sekarang sibuk banget, ya?"


Akbar tersenyum pada Ina, mereka memang menjadi dekat sejak beberapa bulan yang lalu. Terutama karena Ina terkadang menanyakan keberadaan Azam padanya. "Iya nih, biasalah anak kelas 12."


Ina berbasa-basi dengan Akbar, sementara Azam mengernyitkan kening saat mendengar perbedaan cara gadis itu memanggilnya. Kenapa dia memanggil Akbar dengan embel-embel A sementara pada dia, pacarnya sendiri, langsung memanggil nama? Padahal Azam kan juga kakak kelasnya, apalagi ketika ia sadar Ina malah asyik berbicara dengan Akbar, kerutan di dahinya semakin bertambah.


"Ini titipan dari Teteh aku, kalau mau, datang aja, tapi kalau nggak mau, nggak papa juga, sih, hehe."


Azam mengernyit. "Kenapa kamu terlihat seperti tidak niat sekali mengundangku? Kamu berharap aku nggak hadir?" Kerutan di dahi Azam semakin bertambah banyak.


"Iya," jawab Ina tanpa berpikir panjang, kemudian segera merutuki mulutnya yang suka refleks tidak tahu diri.


Akbar di samping Azam tertawa keras, sementara Azam mulai kesal.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Ina tersenyum canggung. Gadis itu kemudian menatap Akbar penuh harap. "A Akbar kalau mau hadir datang aja ya, undangannya ngikut aja ke Azam."


Akbar mengacungkan jempolnya, lalu Ina berbasa-basi sebentar sebelum berniat pamit. Sebenarnya ia sudah tidak tahan menjadi pusat perhatian, ia ingin segera kabur dan berkumpul dengan teman-temannya saja.


Azam menyadari gelagat Ina yang ingin segera menjauh, ia jadi ingin menjahili gadis itu karena sudah membuatnya kesal. Tatapannya terarah pada gerbang sekolah yang sekarang sudah dibuka. Ia lalu menatap sekeliling, ia baru sadar saat ini mereka jadi pusat perhatian. Entah apa yang dipikirkan teman-temannya itu, memangnya mereka belum pernah melihat orang pacaran lagi ngomong bareng, ya? Heran. Kenapa mereka selalu menjadikan Azam dan Ina sebagai pusat perhatian? Azam bertanya-tanya tanpa menyadari dirinya lah yang menjadi alasan kenapa orang-orang selalu memperhatikan hubungan mereka.


Pasangan Ina dan Azam memang masih sulit diterima bagi beberapa orang, bahkan ada banyak yang tidak setuju Ina menjadi pacar Azam karena menurut mereka Ina tidak cocok dengan Azam. Tapi cowok itu sama sekali tidak peduli dan mengabaikannya.


Sebuah ide terlintas di otak Azam saat ia menemukan teman-teman Ina sedang menatap ke arah mereka sambil berbisik-bisik. Ia jadi ingat tadi Ina habis bergosip tentang panggilan sayang dengan teman-temannya. Lalu, bagaimana reaksinya jika ia memanggil gadis itu dengan sebutan sayang sekarang? Ekspresi apa yang akan ia tampilkan?


Azam jadi ingin melihatnya. Ia pun berdiri dan memasang senyum terbaiknya, dalam hati ia mulai tertawa saat melihat Ina mulai kehilangan fokus. Dia pasti terpesona pada senyumnya.


Azam menatap Akbar sebentar untuk mengusirnya. "Gerbang udah dibuka, ayo pulang," ajaknya. Maksud lain dari ucapannya adalah, "Sana pergi!"


Akbar hanya memutar bola mata malas dan segera bangkit untuk mengambil motor. Ia jadi merasa seperti supir Azam. Tapi baru lima langkah ia berjalan, Akbar tiba-tiba mematung dan tidak bisa bergerak. Cowok itu merasa seperti tersambar petir saat mendengar ucapan Azam yang suaranya terdengar sangat lembut.


"Makasih, ya, undangannya, Sayang. Bilang sama teteh kamu aku bakalan hadir besok." Azam mengangkat tangan untuk menepuk puncak kepala Ina.


Wajah Ina sudah tidak teridentifikasi lagi, ekspresinya berubah-ubah antara senang, kaget, tidak percaya, dan berbagai ekspresi lain yang sulit dijelaskan. Hal ini justru membuat Azam gemas dan sengaja menarik kedua pipi cewek itu.


Ina hanya diam dan menatap Azam tidak percaya. Ia bahkan tidak protes walau Azam menarik pipinya hingga merah.

__ADS_1


Cowok itu mendekatkan kepala dan berbisik di samping telinga kanan Ina dengan nada memerintah. "Jangan pernah panggil Akbar A lagi kalau kamu cuma panggil aku pakai nama."


Setelah itu Azam melenggang pergi dan menyeret Akbar untuk mengambil motor. Ia tidak sadar kalau tingkahnya barusan berhasil memporak-porandakan hati Ina dan membuat kehebohan di antara siswa-siswi yang lain.


__ADS_2