
Selesai sholat, kami segera keluar dari masjid agung. Siap untuk pulang. Emang dasar teman-teman aku itu kalau mau bepergian cuma sekadar wacana doang. Padahal biasanya orang kalau dadakan begini suka jadi, kami malah tergoda buat rebahan. Tahu gitu aku pulang aja tadi, lumayan kan kalau rebahan di rumah bisa di kasur. Empuk. Enak banget buat baca novel online. Kalau ngantuk bisa langsung merem dan terbang ke alam mimpi.
"Aduh!" Leli menepuk dahi keras, membuat perhatianku teralih dari memakai sepatu ke dia. "Na, maaf! Aku lupa bilang, tadi teman kamu yang dari ekskul voli datang, katanya hari ini latihan entah apa gitu yang ada lari zig-zagnya. Dia gak punya kuota, kamu juga gak gabung grup ekskul."
Ah, kampret. Aku mendengus pasrah, kalau sudah terlewat begini ya mau bagaimana lagi. "Iya, udah tahu."
"Maaf, Na!" Leli masih merengek
"Iya, gak apa-apa, Li." Aku agak menaikkan nada suara, dia kalau udah merengek suka susah berhenti. Kadang udah dibilang gak apa-apa berapa kali pun dia bakal terus minta maaf. Hadeuh. Dasar.
__ADS_1
"Maaf!" ujarnya lagi dengan wajah memelas. Duh ini bocah, lama-lama aku timpuk pakai sepatu juga, nih! Ngeselin.
"Iya, Leli, enggak apa-apa." Aku berujar penuh penekanan. Lalu fokus pada sepatu lagi.
Lagi pula ini bukan sepenuhnya salah dia, aku lupa masuk grup lagi setelah waktu itu sempat keluar gara-gara hp ngeblank kebanyakan pesan. Itu loh pas berita aku sama Azam jadian nyebar. Ya, walau gak banyak yang percaya, sih.
Tapi pesanku tetap aja banyak, seoalnya hampir semua grup yang aku ikuti pada bahas itu dan men-summon aku, banyak banget.
Mereka pada ribut men-summon aku dan Azam, tanya ini itu. Ada yang nanyain kebenarannya, ada yang menggoda dengan menulis cie-cie, tapi yang paling nyebelin itu yang gak percaya dan menghujatku. Memberiku tittle baru "Ina anggota ekskul voli paling halu."
__ADS_1
Dih, mereka tuh yang halu. Apa-apaan masuk ekskul voli cuma biar bisa ngedeketin Azam doang. Tingkahnya juga kayak cacing kepanasan kalau pacarku lewat. Malu-maluin kaum perempuan aja.
Untungnya sih Azam cuek, walau cueknya kebangetan. Mana ada dia nyapa balik, yang ada dia balik badan terus langsung nyari teman buat latihan. Baguslah, voli emang lebih penting dari pada cewek-cewek ganjen itu.
Tapi, aku jadi ingat. Kenapa Azam nerima aku buat jadi pacar dia, ya? Maksudku, ya, satu sekolah emang udah tahu kalau aku suka Azam, dianya juga pasti pernah dengar. Apalagi dia berteman dengan A Akbar yang baru-baru ini aku tahu suka banget menggoda dan biangnya gosip. Dia selalu tahu berita ter-update di sekolah. Sampai kadang aku berpikir dia lebih menyeramkan dari pada cewek.
Meski pun A Akbar emang enggak ngajak orang-orang buat kumpul dan bergosip bareng, tapi aku selalu ngeri dengan cepatnya dia dapat informasi. Tidak hanya tentang angkatannya, dia bahkan tahu kejadian-kejadian di angkatan aku dan adik kelas.
Balik lagi ke Azam, sampai sekarang aku memang belum tahu perasaannya. Aku juga gak tahu alasan kenapa dia nerima aku, mana jawabnya dalam waktu selang beberapa minggu pula, bikin harapanku yang cuma setitik cahaya langsung padam. Terus langsung dapat bom dengan dia mau jadi pacar aku.
__ADS_1
Aku bingung karena aku belum pernah nyapa dia. Cuma natap dari jauh, juga enggak pernah nyoba buat narik perhatian dia. Kenapa dia tiba-tiba mau? Ini enggak ada udang di dalam bakwan kan?
Duh, otakku emang selalu auto negatif kalau udah mikirin tentang perasaan Azam. Sudahlah, lebih baik sekarang aku pulang saja, istirahat.