
Setelah berhasil mengusir teman-teman satu kelasnya, Ina segera menyusul Azam yang ternyata menunggunya. Cowok itu segera berjalan kembali ketika tahu Ina sudah bisa mengikutinya tanpa hambatan.
Azam berhenti di kursi besi tempat biasa dia menghabiskan waktu dengan bermain game. Yap, di depan toilet. Cowok itu tidak bisa memikirkan tempat mana lagi yang sepi dan aman untuk berbicara berdua.
Sebenarnya Azam masih berada di sekolah memang sebuah tanda tanya bagi Ina, karena kelas XII memang sudah tidak mengikuti ekskul dan biasanya dibiarkan pulang pukul setengah satu. Apa cowok berambut ikal itu sengaja tidak dulu pulang untuk berbicara dengannya?
Dugaan Ina memang tidak salah, Azam sengaja ingin menemui Ina untuk membahas nomornya yang masih diblokir gadis itu. Ia bahkan dengan suka rela ditinggalkan Akbar dan harus pulang naik angkot.
Hanya hening yang terjadi selama beberapa saat, sampai akhirnya Ina jengah, gadis itu masih harus ikut latihan walau sebenarnya ia memang malas. Tapi berduaan dengan Azam begini pun tidak membuatnya merasa nyaman dan jika disuruh memilih, Ina tentu lebih memilih untuk bersama teman-temannya saja.
"Ada apa?" Akhirnya gadis itu buka suara, mulai terganggu oleh keheningan yang terjadi. Lalu mulai mempertanyakan hal yang membuatnya penasaran tadi. "Jadi, kamu akan pindah ke mana?"
Azam hampir saja kelepasan tertawa, ternyata gadis itu serius menganggap ia akan pindah. Sepertinya Azam harus mulai lebih banyak bicara agar tidak terjadi kesalahpahaman seperti sekarang. Ia tidak bisa membayangkan hal apa saja yang gadis itu pikirkan dalam otaknya akan ucapan-ucapan yang dulu ia ucapkan.
"Gak ke mana-mana," balasnya singkat.
Ina mengerutkan dahi heran. "Terus, tadi ...."
Azam hanya menggelengkan kepala, lalu menatap Ina tajam. "Ada hal yang lebih penting yang ingin aku tahu, kenapa kamu blokir nomor aku?"
__ADS_1
Ina melotot, tubuhnya bergeser sendiri menjauhi Azam karena kaget. "Kok kamu tahu?" bingungnya. Seingatnya, Ina tidak pernah memberi tahu siapa-siapa tentang hal itu.
Lagi-lagi Azam hanya menggelengkan kepala, apa Ina berpikir ia sebodoh itu sampai tidak menyadari apa yang terjadi? Ia jadi tertarik untuk menyentil dahi lebar pacarnya.
"Sejak kapan kamu tahu?" Ina kembali bertanya, gadis itu bergerak-gerak gelisah. Tidak menyangka.
Azam memasang senyum yang jika diartikan akan berbunyi seperti ini, "Aku tidak ingin menjawabnya, jadi hentikan membahas hal ini."
Lagi-lagi Ina melotot, kali ini tatapannya penuh dengan ketidak percayaan. Azam baru saja ... tersenyum? Ya, sudah Ina katakan, bukan? Azam tersenyum itu suatu fenomena langka.
Ina mengerjapkan mata sebentar, mencoba mengembalikan kesadarannya. Hatinya lalu tiba-tiba berubah kesal. "Terus kenapa baru datang sekarang?"
Kesal karena reaksi Azam yang terlihat sangat santai dan tidak punya beban, Ina mulai meninggikan suara. "Terus mau kamu apa?"
Azam kembali memasang senyum, kali ini lebih lebar. "Buka blokirannya."
Ina sedikit terpengaruh dengan senyuman Azam, tapi gadis itu harus menahan diri demi harga dirinya. "Kenapa aku harus?"
"Karena kamu kangen aku." Azam berujar enteng. Sebuah pernyataan yang memang benar adanya. Tapi Ina tidak suka jika kalimat itu keluar dari mulut Azam. Tidak bisakah cowok itu sedikit menyenangkannya dan mengatakan dia yang kangen pada Ina.
__ADS_1
Azam hampir tertawa saat melihat wajah Ina mulai memerah, campuran antara marah dan malu karena kepergok kangen. Ah, gadis ini lucu sekali.
"Hih! Bodo amat!" Ina segera bangkit dan akan meninggalkan Azam seorang diri. Tapi cowok itu segera menarik lengan bajunya, membuat Ina mau tidak mau harus berhenti bergerak.
"Apa lagi?" bentak Ina kesal.
Azam tertawa kecil, lalu segera melepaskan tangannya dari ujung lengan baju Ina. "Baiklah, aku yang kangen, jadi segera buka blokirannya, ya."
Azam segera berdiri, menepuk puncak kepala Ina sekali dan segera berbalik pergi. Sementara gadis yang ia tinggalkan masih mematung tidak tahu harus berkata apa. Jelas saja Ina kaget dengan ucapan pacarnya. Gadis itu juga kaget dengan tingkahnya yang tidak biasa.
Apa Azam kerasukan jin tomang? Kenapa tiba-tiba bisa baik begitu? Apa dia lagi demam? Atau mungkin ... dia amnesia?
Ina menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk yang bercokol di kepalanya. Ia segera menyadari keanehan yang baru saja ia alami.
Tadi ....
TADI AZAM BILANG IA KANGEN PADANYA? SERIUS? DEMI APA?
Ina mengerjapkan mata tidak percaya, lalu beberapa saat kemudian ia mulai berteriak histeris.
__ADS_1