Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Ngidam


__ADS_3

Aku baru sempat membuka pesan Azam saat tiba di rumah pada sore hari. Aku benar-benar lupa, tadi malah main sama teman-teman. Menonton drama Korea di kelas karena guru yang mengajar tidak masuk. Tanggung, kami menonton sampai pukul lima, barulah kami pulang. Kami berjanji akan melanjutkannya hari senin nanti. Kisahnya benar-benar seru. Tentang seorang malaikat yang menjadi manusia.


Pesannya singkat dan ternyata bukan pesan semalam yang tak sengaja aku abaikan. Isinya hanya beberapa kalimat, tapi mampu membuat hatiku berdetak kencang. Aku benar-benar senang!


Besok kita jogging bareng, ketemu di Dadaha.


Ini pertama kalinya dia berinisiatif sendiri. Jadi, besok kami akan kencan dengan jogging? Kenapa terdengar tidak elit? Tapi ya sudahlah, aku tidak peduli. Yang penting perginya bersama Azam. Walau hanya lari mengelilingi track lari di Dadaha pun aku rela. Tidak apa-apa. Besok akan menjadi hari bersejarah, aku dan Azam akan pergi keluar bersama.


Aku tersenyum sendiri membayangkan kami berlari bersama. Lalu, mencari sarapan bersama juga. Hm, enaknya makan apa, ya, kalau sarapan bareng pacar? Bubur? Nasi kuning? Nasi Cikur? Nasi TO? Apa lagi, ya? Haruskah aku absen makanan satu per satu?


Hm, lalu, apa yang akan kami bicarakan nanti? Apa kami akan bercanda seperti pasangan-pasangan romantis di novel? Kenapa saat mengingat wajah Azam aku tidak bisa membayangkannya, ya? Apa dia bahkan bisa bercanda? Aku ragu.

__ADS_1


Aku jadi penasaran, saat mengandung Azam emaknya ngidam apa, ya? Kok bisa punya anak yang gak bisa senyum gitu? Apa beliau ngidam papan triplek? Kok aku jadi curiga iya, lihat saja wajah Azam kalau lagi lewat, datar banget, gak ada ekspresinya.


Kenapa sekarang aku malah bayangin masa-masa di mana emaknya Azam ngidam? Mungkin kejadiannya bakal kayak gini.


"A, aku laper. Mau makan." Emak Azam memasang wajah memelas sambil mengusap perutnya yang mulai buncit.


"Aduh, Nyai. Barusan kan baru beres makan rujak bebek satu mangkuk, terus makan mie yang katanya model iklannya ganteng dua bungkus, masa sekarang sudah mau makan lagi?" Bapaknya Azam mengeluh, capek harus mencari makanan yang sulit ditemukan di tengah malam.


Emaknya Azam cemberut, mengusap kembali perutnya. "Dek, lihat tuh. Ayahnya gak mau ngasih kita makan," adunya dengan suara sedih.


"Ya sudah, mau makan apa kali ini?"

__ADS_1


"Aku ... mau makan triplek."


BHAHAHAHA, gila sih, receh banget. Ini aku kayaknya cocok jadi penulis, deh. Aku tertawa keras tanpa menyadari Ana masuk ke dalam kamar. Gadis itu membawa cokelat ke atas kasur dan menyembunyikannya di bawah batal.


"Teh Ina, ayo main." Ah, masa mengkhayalku sudah habis. Aku mengikuti Ana ke ruang keluarga, lalu kembali ke kamar untuk membawa ponsel. Lupa tadi belum dibalas pesannya.


Aku jadi khawatir kalau aku dan Azam benar-benar menikah. Bagaimana nasib anak kami nanti? Semoga sifatnya enggak ngikutin Azam. Ngeri harus serumah dengan banyak manusia sejenis dia itu.


Aku juga berharap jika hamil nanti enggak ngidam triplek. Lebih baik ngidam kue aja deh yang banyak bentuk dan rasanya. Pengennya sih yang imut, biar anak-anaknya juga pada imut. Astaghfirullah, ini aku kok ngehalunya jauh banget, sih. Sebaiknya aku segera membalas pesan Azam dan menemani Ana bermain.


**Besok jam berapa bertemunya?

__ADS_1


6.


Oke**.


__ADS_2