
"Weits, lagi ngapain kalian berduaan di sini?" Bu Lilis masuk ke dalam UKS dan berteriak sok kaget. Guru itu tertawa kecil ketika melihat kekagetan di wajah dua muridnya. Beliau cukup senang karena meskipun berduaan, mereka tidak saling berdekatan. Ina berbaring di atas kasur dan Azam duduk di atas kursi sambil bermain ponsel.
"Gimana keadaan kamu, Na? Katanya lagi sakit?"
Ina berusaha duduk, tapi gurunya melarang dan membiarkan Ina untuk tetap berbaring.
"Masih pusing sih, bu."
Bu Lilis memegang dahi Ina dan merasakan suhu tubuhnya memang cukup tinggi.
"Kamu gak mau pulang aja, Na?"
Ina memikirkannya sebentar, jika pulang ia tetap akan sendirian di rumah karena mamanya pasti sedang mengantar Ana ke PAUD. Tapi kalau ia tetap di sini, Ina pasti akan merepotkan banyak orang. Akhirnya Ina pun mengangguk, seridaknya tidur di rumah akan lebih tenang dan tidak perlu merasa khawatir merepotkan orang lain.
"Ya udah, kalau gitu biar ibu minta petugas TU antar kamu pulang."
Ina mau mengangguk, tapi ucapan Azam berhasil menghentikan gerakannya.
"Biar saya aja, Bu."
Bu Lilis menatap Azam bingung. "Kamu?"
"Iya."
"Kamu siapa?"
Gubrak, Ina rasanya ingin tertawa, tapi ia tidak punya tenaga dan tidak berani menertawakan Azam terang-terangan.
"Saya Azam, Bu, kelas XII."
__ADS_1
"Oh, kamu pacarnya?"
Ina merasa deg-degan. Apa cowok itu akan mengakuinya sebagai pacar di depan guru? Ina tidak bisa membayangkannya.
"Iya, Bu."
"Wah, seriusan? Kalau begitu lebih baik kamu kembali ke kelas, ibu gak yakin mau nitipin anak gadis yang lagi sakit begini sama pacarnya. Anak zaman sekarang susah dipercaya."
Ina tidak tahu harus senang atau sedih sekarang. Inginnya sih menertawakan Azam, tapi dia juga pengen pulang diantar Azam. Duh, dilema.
"Maaf?"
"Sudah berapa lama kalian pacaran?"
Azam merasa gurunya yang satu ini lebih seperti kepo alih-alih takut terjadi sesuatu pada Ina. Terlebih, Bu Lilis memang terkenal sangat gaul dan hobi bercanda dengan murid-muridnya. Ia juga sangat up to date tentang gosip yang beredar di antara anak-anak didiknya. Jadi Azam yakin berita tentang ia dan Ina berpacaran pasti sudah diketahui.
"Ibu, tas saya masih di kelas."
Bu Lilis menatap kedua anak didiknya sembari tersenyum, ia tahu Azam ingin mengantarkan Ina, dan gadis itu ingin diantar pulang oleh Azam, tapi beliau tidak akan mengizinkannya semudah itu.
"Kamu, ambilin tasnya. Ibu mau ngasih tahu petugas TU supaya siap-siap mengantar Ina pulang. Jangan ngeyel, kamu masih harus belajar, sebentar lagi mau UN, kan? Sana, lebih baik kamu belajar aja yang giat."
Azam pun hanya bisa pasrah dan beranjak menuju ke kelas Ina. Kedatangannya tentu saja membuat kelas itu heboh, tapi ia tidak peduli dan memilih segera memanggil Ayu--satu-satunya yang ia kenal dan meminta mengambilkan tas Ina.
Setelah mendapatkan tas Ina, Azam langsung menghampirinya di gerbang, gadis itu terlihat sedang duduk lemas di atas kursi besi sembari sesekali memijit kening. Azam segera duduk di sampingnya serta meletakkan tas berwarna navy itu di dekat Ina.
"Kamu enggak apa-apa pulang naik motor? Kuat?"
Ina tersenyum kecil, mimpi apa ia semalam? Tumben sekali Azam bisa beneran bersikap manis seperti ini.
__ADS_1
"Semoga kuat, deh."
"Kalau naik angkot aja gimana? Takutnya kamu pusing pas di motor terus jatuh." Azam benar-benar khawatir kali ini. "Naik angkot aja, ya, biar aku yang bilang sama Bu Lilis."
Ina tidak mengatakan apa-apa karena cowok itu sudah berlalu masuk ke ruang Tata Usaha.
Azam menghampiri Bu Lilis yang sedang berbincang dengan Mang Ijal, pegawai TU yang masih magang, sedang memintanya agar mengantar Ina pulang.
"Permisi, Bu."
"Ah, kamu udah ambil tas Ina?"
"Sudah, Bu."
"Terus ada apa ke sini?"
"Bu, Ina masih pusing, kalau diantar naik motor takutnya dia jatuh nanti, bagaimana kalau diantar pulangnya naik angkot saja?"
Bu Lilis tampak berpikir sebentar, lalu mengangguk mengiyakan. "Benar juga, kalau jatuh bisa berabe nanti. Terus? Kamu mau nganterin dia?"
Azam mengangguk mengiyakan.
Bu Lilis berdecak, matanya terlihat iri. "Aduh, anak muda zaman sekarang pacarannya so sweet banget, ya."
Azam hanya meringis saat para pegawai TU menertawakan dan meledeknya.
"Ya udah, anterin dengan selamat, jangan macam-macam, kalau udah langsung balik lagi ke sini, jangan bolos."
"Baik, Bu."
__ADS_1
Azam segera keluar dari ruang TU untuk menghampiri Ina dan mengajaknya berjalan keluar dari gerbang sekolah. Untuk pertama kalinya mereka akan pergi bersama.