
Padahal aslinya enggak ada apa-apa. Aku kan dulu punya teman anak guru, dia tinggal di rumah dinas di jajaran kelas bawah. Bangunan di tanah yang lebih bawah ini terdiri dari kelas I, II, dan III. Di jajaran ini juga ada ruang kantor cukup besar yang merangkap kantor guru, ruang perpustakaan, kantor Kepala Sekolah, dan TU. Sekolahnya memang bukan sekolah favorit, sih. Jadinya satu ruangan untuk bersama.
Nah, letak rumah dinas temanku itu di ujungnya. Aku sering main ke sana sama teman-teman yang lain sampai sore, sekitar jam empatan. Biasanya kami akan bermain sepeda dan dengan sengaja lewat di koridor kelas. Padahal teras itu seharusnya bersih, dipel sama anak-anak kelas setiap pagi. Ditambah dengan warna keramiknya yang putih, membuat jalur bekas sepeda bisa terlihat jelas.
Ngikutin adegan di TV, aku dan teman-teman pernah nyoba uji nyali masuk ke kelas atas pada sore hari, hasilnya enggak ada apa-apa. Kelas tetap seperti biasa, cuma sepi aja karena enggak ada siswa. Padahal udah takut, tapi ujung-ujungnya malah pada ketawa. Kejadian ini terjadi kalau enggak salah pas aku kelas dua SD. Sekolahnya memang dekat dengan rumah, jadi pulang sore pun enggak terlalu masalah.
Sebagian besar aku udah lupa sih cerita horornya apa aja, ya, maklum, udah lama. Tapi yang menurutku paling legend sih cerita kalau sekolah itu bekas kuburan. Entah kenapa hampir semua sekolah pasti punya cerita kalau tempat itu bekas kuburan. Pas SMP juga gitu soalnya.
__ADS_1
Katanya sekolahnya bekas kuburan, makanya angker dan banyak cerita horornya. Tapi sama aja kayak pas SD, semuanya cuma omong kosong. Maksudku, pas SMP kan aku jadi pengurus OSIS, mau aktif ceritanya. Nah, kan sering banget tuh pulang sore. Tapi pas aku jalan di koridor kelas, walau sendirian, enggak ada apa-apa tuh. Bukannya aku berharap bertemu apa-apa juga, sih.
Jadi aku simpulkan kalau cerita horor di sekolah itu cuma untuk menakut-nakuti siswa biar enggak pada nongkrong di sekolah setelah jam pelajaran usai.
Tapi ... dulu saat aku dan teman-teman berisik di kelas sekitar jam 11 siang, kami bernyanyi sambil memukul-pukul meja dengan keras. Kebetulan sedang porak, jadi acaranya cukup bebas. Tidak lama kemudian ibu-ibu penunggu warung dekat sekolah menghampiri kami.
Ya, bisa jadi yang terganggu itu manusia, tapi entah kenapa kala itu aku dan teman-teman langsung diam, sepemikiran kalau yang si ibu maksud bukan manusia, tapi makhluk lain. Entah makhluk apa itu aku tidak tahu.
__ADS_1
Aku memegang perut saat sakit itu datang lagi, lalu saat yang di dalam mendesak keluar, aku segera berlari menuju toilet. Ah, kapan mencret ini akan berhenti?
Aku meringis saat suara menjijikan terdengar, khas orang mencret. Semoga enggak ada orang di luar, soalnya kalau ada, mau ditaruh di mana mukaku? WC sekolah kan enggak ada yang kedap suara, suara menjijikan itu pasti terdengar jelas juga dari luar. Aku memang membiarkan air keran terbuka untuk menutupi suaranya, tapi tetap saja masih terdengar keras.
Setelah selesai, aku segera keluar kelas. Kali ini tidak melamun dulu seperti tadi, aku akan pergi ke apotek untuk membeli obat. Sakitnya cukup menyiksa, aku juga takut terkena dehidrasi karena hampir semua cairan keluar. Aku tidak ingin mati dalam keadaan tubuh kering kerontang.
Setelah memasang sepatu, aku bersiap pergi ke meja piket. Tapi sebelum itu aku mengecek isi saku terlebih dahulu. Benar kan dugaanku! Uangnya ada di dalam tas. Kalau enggak dicek bisa malu berat aku karena enggak bisa bayar. Kenapa aku pelupa sekali, sih?
__ADS_1