
"Jadi?"
"Jadi apanya?"
"Aduh, Teteh, kenapa yang katanya tadi mau apel malah berakhir jadi lamaran begitu, sih?!"
"Kejutan!"
Ina menatap tetehnya sebal, lalu segera masuk ke dalam kamar. Masa bodoh dengan tetehnya itu. Masa acara lamaran aja dia enggak cerita sama adik sendiri. Pokoknya Ina ngambek.
Setelah menyimpan mukena ke dalam lemari dan meletakkan buku di atas meja belajar, Ina segera mengganti baju dengan baju tidur anak ayam kesayangannya.
Ia lalu celingukan mencari ponsel yang ia lupa diletakkan di mana. Ia tadi terlalu sibuk sampai lupa sedang berkirim pesan dengan tukang bajak WA. Sekarang ponsel itu pasti sudah berada di tangan Azam. Ina akan menginterogasinya habis-habisan.
Satu minggu kemarin ia habiskan dengan banyak membaca novel remaja kekinian. Ia sudah cukup terpengaruh oleh tokoh-tokoh utama cewek yang agresif. Kalau dengan bersikaf agresif bisa mendekatkannya dengan Azam, gadis itu tidak akan segan untuk berubah.
Setelah berkeliling kamar, ponsel kesayangan Ina tidak jua ketemu. Kalau tidak salah ingat, tadi ia letakkan di atas sofa. Jadi cewek itu segera keluar dari kamar.
"Ma, lihat HP aku, gak?" tanya Ina ketika melihat sang mama baru keluar dari dapur.
__ADS_1
"Itu di dekat TV."
Ina mengangguk dan berterima kasih.
Setelah mendapatkan ponselnya kembali, Ina duduk santai di atas sofa. Kalau pun misalnya malam ini enggak bisa berhubungan dengan Azam, ia tetap tidak akan tidur lebih awal. Sayang banget kalau Malam Minggu enggak dipakai buat begadang baca novel online. Jarang-jarang kan anak sekolahan macam ia bisa begadang.
Matanya berbinar saat menyadari banyak camilan di atas meja bekas acara lamaran tadi. Sempurna! Baca novel sambil ngemil memang paling nikmat.
Setelah membuka toples berisi kacang goreng, Ina langsung memasukkan satu suap ke dalam mulutnya. Kemudian tangannya sibuk membuka kunci ponsel.
Mata Ina membulat tak kala melihat ada lima panggilan tak terjawab yang ternyata dari nomor Azam. Juga ada dua pesan darinya yang belum dibaca.
Oh! Mungkin Azam mau mengklarifikasi tentang siapa orang iseng yang nge-prank tadi?
Dengan tak sabar Ina segera membuka pesannya, lalu kemudian ia mematung tak percaya saat membaca pesan yang tertulis di sana.
"**Ini bukan prank, Na. Ini beneran aku."
"Na, kamu marah**?"
__ADS_1
Ina tercenung sejenak, apa maksudnya ini? Pesan Azam tadi dan yang biasanya sangat berbeda jauh. Seperti dua orang yang berbeda. Cowok itu berubah terlalu banyak, juga terlalu menyebalkan. Emang bisa satu orang berubah sebegitu jauhnya hanya dalam hitungan jam? Rasanya tidak mungkin.
"**Hah? Kok bisa? Kamu beda banget dari biasanya!"
"Jelas bangetlah aku marah! Nyebelin banget gitu kamunya**."
Ina kembali memasukkan beberapa butir kacang ke dalam mulutnya. Ia tidak berpikir Azam akan langsung menjawab. Biasanya juga itu cowok balasnya bisa berjam-jam setelah pesan Ina terkirim
"Bisa, dong. Aku mau nyoba berubah, ayo kita perbaiki hubungan ini. Nyebelin gimana? Aku gak nyebelin, aku ganteng!"
Ina hampir saja keselek kacang. Kmvrt! Apa-apaan balasannya ini? Bikin orang naik darah aja!
Ia setuju dengan mereka harus berubah, ia juga berencana untuk menjadi lebih agresif, siapa sangka Azam mengambil inisiatif terlebih dahulu. Tapi tetap saja, perubahan Azam terlalu tiba-tiba! Apa pula itu kata terakhirnya? Narsis banget!
Tapi emang ganteng, sih.
Idih. Ina jadi geli sendiri bacanya. Ini beneran Azam? Kok bisa dia berubah begitu?
"Aku setuju kita harus perbaiki hubungan ini, masa pacaran chattannya kayak tukang ojeg online sama pelanggannya, sih? Itu juga salah kamu yang kalau balas pesan irit banget! Padahal mau panjang atau pendek pun sama aja pake kuota! Lagipula ada angin apa kamu pengen berubah? Tiba-tiba banget! Enggak habis ketiban tangga kan? Kepalanya aman, kan? Gak kejedot pintu sampai amnesia, kan?"
__ADS_1