Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#9


__ADS_3

Ina berguling-guling di kasur, ia bosan. Tugas untuk besok sudah selesai ia kerjakan, mau membaca tapi tidak mood. Akhirnya ia hanya bisa rebahan sambil menatap langit-langit kamar. Kedua adiknya sudah tidur sejak tadi, membuat suasana kamar cukup sepi.


Ingatan Ina kembali pada kejadian siang tadi, sebelum pulang ia berpapasan dengan Azam. Mereka kembali saling tatap, kali ini Ina tidak membuang muka, ia sengaja menatapnya menantang. Berharap cowok itu akan menyapanya.


Alih-alih menyapa, cowok itu hanya menatapnya dengan kening berkerut, lalu seulas senyum tipis terbit di wajahnya sebelum dia mulai menggeleng-gelengkan kepala. Azam pergi begitu saja menghampiri Akbar yang sudah stand by di atas motor.


Ina hanya mematung kehilangan nyawa, kaget karena diberi senyum oleh pacarnya sendiri. Walau sepertinya bukan senyum tulus yang menawan, tapi ia sudah ingin jingkrak-jingkrak kesenangan karena untuk pertama kalinya Azam tersenyum padanya. Itu pun hanya sebentar, jika Ina tidak sedang menatapnya, mungkin ia tidak akan sadar.


Ina kembali membayangkan senyum Azam, tapi rasanya sangat susah. Ia pun segera mengambil ponsel dan membuka aplikasi instagram, berharap menemukan senyuman cowok itu di sana.


Ina segera mengetikan nama Azam di kolom pencarian, lalu mengklik salah satu nama yang sudah dihapalnya di dalam kepala. Sebenarnya ia tidak pernah stalking akun instagram Azam, dia hanya mencari tahu tentang Azam selama di sekolah saja. Itu pun bukan stalking sebenarnya, tapi hanya memperhatikan dari jauh.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian profil instagram Azam terpampang di depan matanya. Followers-nya menembus angka 350k, membuat Ina cukup iri. Padahal jumlah fotonya hanya enam biji, itu pun tidak benar-benar menampilkan wajah Azam, kenapa ada banyak sekali yang mengikuti dia?


Ah, mungkin pertanyaan ini juga cocok untuknya, kenapa Ina mengikuti akun Azam sejak dulu? Gadis itu hanya bisa nyengir tanpa tahu jawabannya.


Foto-foto yang Azam upload kebanyakan adalah pemandangan, ada pantai, gunung, air terjun, bangunan tua, satu foto Azam yang sedang membelakangi kamera dengan latar pantai, dan satu lagi Azam duduk di pinggir jalan, wajahnya tidak terlalu jelas karena fotonya blur. Benar-benar tidak ada wajah Azam yang terpampang jelas di sana.


Apa foto Azam memang semahal itu? Ina jadi penasaran dan ingin foto bersama dengan pacarnya itu. Bukan untuk pamer di akun sosial media seperti kebanyakan orang, tapi untuk kenang-kenangan dan biar bisa ia lihat terus sebelum tidur. Gadis itu mulai cengengesan membayangkan bisa foto berdua bersama sang pujaan hati.


Beberapa saat kemudian ponsel Ina berbunyi, ada sebuah notifikasi masuk dari instagram. Gadis itu dengan segera mengkliknya, tak lama kemudian matanya membola. Melotot tidak percaya sampai bola matanya seolah akan keluar dari tempatnya dan menggelinding ke lantai.


Ina mengepalkan tangan kesal, ia tidak peduli lagi jika Azam tahu ia sedang stalking akunnya. Gadis itu kadung kesal karena notifikasi yang masuk. Andai dekat, pasti sudah ia cekik pacarnya itu.

__ADS_1


khazzam mulai mengikuti anda.


PACAR MACAM APA YANG ENGGAK NGE-FOLLOW AKUN INSTAGRAM CEWEKNYA?


Ina rasanya mulai sesak napas. Orang lain pacaran saling upload foto bareng sambil saling nge-tag, ini dia di-follow aja enggak. Eh, udah deng, barusan. Bagaimana mau romantisan kayak kids zaman now, Azam benar-benar tidak bisa ditebak jalan pikirannya.


Ina menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Mencoba menghilangkan kesal yang mencokol di dalam hati. Ia menguatkan diri dengan bersugesti.


Enggak apa-apa, Na. Bersyukur aja Azam enggak alay macam Soni yang hobi tebar foto selfie dengan berbagai ekspresi. Seengaknya cowok kamu ini enggak murah-murah amat, buat nyari fotonya aja susah. Jadi kamu harus bersyukur.


Ina berdecak sebal, lalu melemparkan ponsel ke samping kanan. Lebih baik ia tidur, jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas. Ia tidak mau kesiangan besok.

__ADS_1


Tepat sebelum memejamkan mata, ponselnya kembali berbunyi. Ina mengambilnya malas, lalu membuka DM yang ternyata dari Azam. Gadis itu terkejut sebentar, tapi kembali melempar ponsel tidak peduli saat tahu pesan yang diterimanya tidak terlalu penting. Cowok itu hanya memanggil namanya. Masa bodoh dengan Azam, lebih baik ia tidur saja. Ina memeluk gulingnya erat, lalu memejamkan mata.


__ADS_2