Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
53


__ADS_3

Ina menguap, ia masih ingin tidur, tapi semua orang benar-benar sudah berisik sejak jam tiga pagi. Ia menatap tetehnya yang sedang didandani dan tidak bisa tidak bertanya-tanya, sejak kapan tetehnya bangun? Dia sudah mulai dirias bahkan ketika ia baru saja bangun. Apa enggak pegel ya harus duduk tegak sambil natap cermin terus? Apa enggak gerah dikurung di ruangan ini sampai akad tiba? Apa pipinya enggak gatal dipakaikan bedak berlapis-lapis? Apa ia juga akan seperti tetehnya ketika menikah nanti? Ina bergidik ngeri.


Sekarang hanya satu harapan Ina, semoga make up tetehnya beneran bikin cantik, ia tidak ingin orang tersayangnya itu terlihat jelek di hari paling bahagianya. Biasanya kan suka ada tuh yang nikah make up-nya gagal, alih-alih jadi ratu, akhirnya malah mirip emak-emak menor.


Ina sekarang sedang mengantre untuk didandani. Sebenarnya ia ingin kabur, tapi Ani memelototinya dari balik cermin. Jadi ia hanya bisa duduk manis sambil memasang wajah tidak puas.


Ketika gilirannya tiba, ia berpesan dengan keras. "Jangan terlalu tebel bedaknya, jangan menor, aku juga gak mau pakai bulu mata palsu!"


Orang yang bertugas mendandani Ina hanya tersenyum kecil dan mengangguk. Kemudian mulai melukiskan kuas-kuas lembut di kulit wajahnya.


"Wih, Ina, pangling banget." Anis berdecak kagum kala melihat wajah Ina yang sudah didandani.


"Hooh, kamu sering-sering dandan coba, Na." Rini juga tidak tertinggal berkomentar.


Ina hanya memutar bola mata malas. Alih-alih menerima pujian dari kedua sepupunya, ia lebih memilih untuk main game di ponsel. Tidak sedikit pun minat terlintas di benaknya untuk mulai berdandan. Ribet. Ia lebih suka berangkat sekolah tanpa melakukan hal-hal menyusahkan di pagi hari. Toh tanpa make up pun, ia tetap merasa cantik.


"Oh iya, Na. Pacar kamu mau datang, kan? Dia pasti pangling banget. Aku pengen lihat ekspresinya pas mandang wajah kamu, pasti dia tercengang dan muji kamu cantik." Anis mulai menceritakan fantasinya.


Ina berhenti menggerakan tangannya yang sedang bermain game, kemudian mulai membayangkan Azam ketika cowok itu melihat wajahnya. Apakah benar akan terkejut?


Tidak. Tentu saja tidak. Ina yakin pacarnya itu hanya akan diam seperti biasa atau meledeknya. Alih-alih, ia yakin yang akan memujinya adalah Akbar.


"Kasih tahu aku ciri-cirinya dong, Na. Biar pas dia datang aku bisa langsung tahu."


Ina menjawab tidak peduli ketika tangannya mulai lanjut memainkan game. "Dia ganteng."


"Yeee, kasih ciri fisik yang spesifik, dong! Ganteng itu kan relatif."


Ina hanya menangkat bahu, ia yakin sepupunya itu akan langsung tahu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ina bertugas menerima kado, jadi ia duduk di depan sambil menerima tamu. Teman-teman sekolah Ani yang ia kenal menyapanya sambil berdecak kagum dan menyatakan pujian. Ia bahkan beberapa kali mendengar jika ia lebih cantik dari kakaknya. Ina sama sekali tidak peduli, ia hanya menyuruh mereka agar segera mengisi daftar tamu dan pergi. Ia benar-benar tidak terbiasa memakai kebaya dan merasa luar biasa gerah. Jadi jika bisa, Ina ingin berlari ke kamarnya dan berganti baju dengan kaus saja. Tapi tentu ia tidak akan melakukannya, ia tidak ingin mengacau di hari pernikahan kakaknya.


Hari beranjak siang, Ina semakin sibuk karena semakin banyak yang datang. Ia juga harus terus memasang senyum dan memberikan souvenir pernikahan. Bibirnya sudah lelah karena terlalu banyak senyum, perasaan yang sama ia rasakan setelah wefie bersama teman-temannya di sekolah.


"Duileh, Na. Cakep banget! Seriusan! Pangling banget!" Ayu datang dan mulai membuat kerusuhan. Ina harus pasrah mendengarkan ocehan gadis itu. Melihat masih banyak yang antre, ia pun meminta sepupunya yang lain untuk menggantikannya dan mengajak Ayu masuk. Jika dibiarkan, Ayu bisa terus berbicara sampai acara bubar, ia harus mencegah tragedi itu terjadi.


"Tunggu dulu, Na. Ayo kita foto bareng dulu. Sayang banget kamu udah cantik gini masa enggak diabadikan. Mubazir."


Ina menolak dengan keras. Tidak mungkin ia ingin berfoto ria di hadapan begitu banyak mata. Tamu-tamu yang datang pasti akan memperhatikan mereka. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Sekarang jika diingat lagi, Ina merasa agak menyesal karena sudah mengundang Ayu. Tapi gadis itu satu-satunya teman yang benar-benar dekat dan sering main ke rumah. Jadi Ani mengenalnya.


"Ayolah, pede aja, Na. Ngapain malu. Kamu enggak kenal mereka ini kan? Paling juga gak bakal ketemu lagi."


Ina berusaha menghindar dari tarikan Ayu. "Ya, siapa tahu aja salah satu dari mereka itu jodohku, kan?"


Ayu menyeringai. "Heh, mau di kemanakan itu pacar kamu? Kamu gak mau jadi jodohnya dia?" Kening Ayu berkerut, kemudian wajahnya memasang ekspresi tercerahkan. "Azam bakal datang, ya?"


Ina hanya tersenyum manis sebagai balasan.


"Cih, dasar bucin."


"Woy."


"Udahlah, dia belum datang ini. Ayo kita selfie dulu."


Ayu menyeret Ina ke belakang meja penerima tamu agar saat mereka berfoto, antrian tamu bisa menjadi latar belakangnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, lalu membuka aplikasi kamera. Ia menarik Ina agar lebih dekat dan mulai mengambil foto dengan berbagai pose. Ina hanya mampu menutup wajah dengan tangan untuk menghindari tatapan dari orang-orang di sekitar.


Ayu menggerutu tidak senang. "Ayolah, Na. Jangan ditutupin mukanya. Gak asik deh. Ayo sekali lagi, senyum!"


Ina terpaksa memasang senyum, ia berharap sesi foto ini akan segera berakhir dan mereka bisa masuk ke dalam gedung.


Saat itulah suara ribut terdengar dari meja penerima tamu. Ina mendengar suara Anis yang sedang histeris dan benar-benar memalukan.


"Rin, siapa itu Rin? Ganteng banget!"


Ina mengernyitkan dahi, kenapa sepupunya bisa seheboh itu? Kalau mau mengagumi orang, ia kan bisa melakukannya dalam hati atau dengan suara berbisik saja. Bukan berteriak keras yang membuat semua orang mendengarnya. Memalukan.


"Buset, Rin. Dia ke sini ternyata."


Ina ingin berbalik dan melihat seganteng apa orang yang membuat Anis histeris, tapi Ayu tidak membiarkannya berbalik.


"Sekali lagi, Na. Ini terakhir deh! Tapi senyum yang cantik, oke!"


Mendengar kata terakhir, wajah Ina segera berubah menjadi cerah. Ia juga tersenyum bahagia ke kamera, membuat hasil fotonya benar-benar cantik.

__ADS_1


Ayu memperhatikan foto itu sambil mengernyitkan kening. "Ah, ini kebagusan, Na. Kamunya kelihatan lebih cantik. Ayo ulang lagi. Kita harus sama-sama kelihatan cantik, jangan jomplang!"


Ina memutar bola mata malas. "Katanya tadi terakhir. Nanti aja lagi kalau acaranya udah selesai."


"Ih, kalau nanti bisa-bisa make up kamu udah luntur atau kamu sengaja hapus. Ayo sekali lagi."


Ina tidak peduli dengan rengekan Ayu dan menyeretnya untuk kembali ke tempat menerima tamu.


"Biarin sih fotonya lebih cantik aku, itu kan emang kenyataan."


Ayu cemberut setelah mendengar kata-kata menyebalkan Ina. Ia memukul pundak temannya itu kesal.


Saat mereka berbalik, suasana benar-benar aneh. Semuanya diam dan menatap ke satu arah. Lebih tepatnya kepada dua cowok yang saat ini sedang mengisi daftar tamu setelah menyerahkan kado.


Ina tanpa sadar memanggil orang itu.


"Azam? A Akbar?"


Merasa terpanggil, kedua cowok itu mengangkat kepala dan menatap Ina. Akbar menatap Ina takjub dan Azam hanya diam.


Ina mendengar suara tumpang tindih.


Anis bertanya tidak percaya. "Kamu kenal mereka, Na?"


Sementara Akbar memujinya. "Gila, pangling banget, Na."


Ina menatap Azam yang juga menatapnya, tapi cowok itu hanya diam. Membuat harapan di hatinya layu seketika. Meskipun ia tahu Azam akan bereaksi biasa pada perubahannya, ia tentu ingin mendengar pujian cowok itu. Bohong jika ia tidak ingin disebut cantik oleh Azam ketika orang lain banyak memujinya.


Ina menekan rasa tidak senangnya dan menghampiri kedua kakak kelasnya itu. Ia tidak menyadari wajah Ayu yang sedang membuat sebuah skema di dalam kepalanya.


"Makasih udah datang. Ayo masuk, aku juga mau ke dalam sama Ayu."


"Eh, kamu kok masuk, Na? Terus yang jagain di sini siapa?"


Ina nyengir.


"Teh Rini sama Teh Anis aja. Aku mau lihat akadnya Teh Ani."


Anis dan Rini saling berpandangan, kemudian mengangguk setuju. Namun, sebelum Ina bisa beranjak, Anis tersenyum licik.


Ina menepuk jidat, ia lupa memperkenalkan mereka.


"Ini Azam dan itu A Akbar." Ina menunjuk kedua kakak kelasnya bergantian, kemudian berganti menunjuk sepupunya bergantian. "Dia Teh Rini dan yang berisik itu Teh Anis."


"Hey, perkenalan macam apa itu?!"


Ina tersenyum mengejek membalas protesan Anis.


"Juga, katanya pacar kamu bakal datang. Mana dia? Acaranya sudah hampir dimulai."


Ayu tertawa geli. "Dia ada di depanmu sekarang, Teh."


Anis menatap Azam dan Akbar bergantian. Kemudian mengangguk seolah yakin tebakannya benar. Ia menyapa Akbar sambil tersenyum.


"Kamu pasti pacarnya Ina, kan? Dia ditanya enggak mau ngasih tahu dari semalam."


Ayu tertawa keras, sementara Ina menatap Azam dengan perasaan was-was. Ia rasanya ingin melakban mulut ceplas ceplos sepupunya itu.


Akbar tersenyum canggung, ia menunjuk orang di sebelahnya. "Dia pacarnya Ina, saya cuma kakak kelasnya."


Mulut Anis membola, wajah kagetnya benar-benar terlihat jelek di mata Ina. Jika bisa, ia ingin memberinya cermin sekarang jiga. Dijamin, Anis pasti berteriak histeris.


Anis dan Rini menatap Ina dan Azam secara bergantian. Ekspresi tidak percaya terlihat jelas di wajah mereka. Mereka seolah-olah sedang melihat pasangan tuan muda dan pembantunya. Mereka tahu Ina memang tidak jelek-jelek amat, tapi untuk mendapatkan pacar seganteng itu, rasanya benar-benar mimpi.


Ina menyeringai jahat. Ia tahu kedua sepupunya itu sedang dalam masa pencarian jodoh, mereka pasti kebakaran jenggot saat tahu sepupu kecil mereka yang terlihat punya masa depan suram dalam kisah percintaan sekarang sedang memperkenalkan pacar super gantengnya.


"Pantesan semalam Ina cuma bilang ganteng pas ditanya ciri-ciri cowoknya. Ternyata emang beneran ganteng, Rin."


Mata Ina seketika melotot saat Anis kembali berbicara tanpa disaring dan wajahnya mulai memerah karena malu.


"Iya, kalau seganteng ini enggak heran dia bangga banget."


Ina tidak tahan lagi. Ia menggenggam tangan Ayu cukup kuat.


"Ayo kita masuk sekarang."

__ADS_1


Azam dan Akbar mengangguk setuju, tapi Ayu menahan mereka sambil melotot.


"Jangan masuk dulu! Ayo kita foto bareng dulu!"


Ina menghela napas lelah. "Lagi?"


Ayu menyeringai kemudian berbisik di telinga Ina.


"Masa kamu gak mau punya foto bareng sama Azam pas lagi cantik begini?"


Mata Ina membulat, ia menatap Ayu dengan wajah cerah. Tentu saja ia mau! Benar-benar mau. Tapi raut wajahnya berubah suram saat menatap Azam, ia tidak yakin cowok itu akan setuju.


Akan tetapi, berbeda dari pikiran Ina, cowok itu mengangguk setuju sambil menatap Ina.


"Ayo, aku ingat seseorang pernah mencuri fotoku beberapa hari yang lalu. Aku rasa lebih baik kalau difoto secara suka rela saja."


Ayu dan Akbar tertawa ngakak. Mereka tahu kejadian itu.


Wajah Ina sekarang benar-benar sudah tidak tertolong. Ia ingin menggali lubang dan masuk ke dalamnya sekarang juga.


"Ayolah." Akbar mengangguk setuju. "Apa kita harus membiarkan pasangan itu untuk berfoto terlebih dahulu?"


Ayu tersenyum lebar. "Tentu, mereka harus punya foto berdua untuk kenang-kenangan, bukan? Mari berikan hak eksklusif ini untuk mereka."


Ina memukul lengan Ayu sebal, kenapa sahabatnya itu terus menggodanya? Ia memang ingin mengambil foto berdua bersama Azam. Tapi ia benar-benar malu.


Ina melirik Azam untuk meminta bantuan agar mereka berhenti meledeknya. Tapi cowok itu malah menariknya ke tempat yang tidak dilalui banyak orang.


"Ayo."


Ayu dan Akbar mengikuti mereka.


Ayu mengeluarkan ponselnya kembali dan mulai mengambil foto. Tapi hasilnya benar-benar jelek.


"Kalian kayak lagi difoto buat KTP," komentar Akbar geli.


Ayu pun memberikan ponselnya pada Akbar dan mulai bertingkah selayaknya pengarah gaya profesional.


"Kalian enggak perlu pakai pose romantis karena ini bukan foto prewed, seenggaknya senyum kek."


Ina mencoba tersenyum, ia terus mensugesti bahwa semua ini sesuai keinginannya. Bukankah ia yang ingin punya foto Azam? Apalagi sekarang ia juga akan ada di dalam foto itu. Bagaimana mungkin ia tidak bahagia, bukan? Senyum Ina tersungging sangat manis sebagai hasilnya. Ia tidak sadar Azam sedang menatapnya dengan pandangan terhipnotis. Akbar tak meninggalkan kesempatan ini dan terus memencet tombol foto. Ia tidak peduli jika hasilnya ada banyak foto dengan pose yang sama, toh itu bukan hapenya. Kalau pun mereka tidak menginginkannya, mereka bisa menghapusnya kapan saja.


Azam sedikit menundukkan kepala untuk berbisik di dekat telinga Ina.


"Jadi aku ganteng?"


Ina mengernyitkan kening, kenapa Azam membawa masalah ini sekarang? Ia sudah sangat tahu akan fakta itu sejak dulu. Tunggu, apa Azam membicarakan hal ini karena perkataan Anis tadi? Wajah Ina mulai berubah merah saat sadar ia benar-benar ketahuan memuji pacarnya ganteng. Meskipun itu fakta, tapi memujinya dalam hati dan mengatakannya pada orang lain adalah kasus yang berbeda. Terlebih Azam juga mengetahui bahwa ia memujinya. Sekali lagi Ina merasakan urgensi untuk menggali lubang dan tinggal di sana.


"Kamu juga."


Ucapan Azam membuat Ina menoleh dengan pandangan tidak mengerti. Apa maksudnya?


Azam menatapnya tepat di mata dan mengatakan kalimat yang benar-benar membuat Ina mabuk kepayang.


"Cantik."


Wajah Ina semakin merah, tatapan dan ucapan Azam benar-benar membuatnya meleleh seperti lilin. Ia pun menundukkan kepala karena terlampau malu.


Hebatnya, momen itu benar-benar diabadikan secara terus menerus oleh Akbar. Cowok itu memuji betapa bagusnya hasil fotonya, terutama foto dengan Azam dan Ina saling menatap.


Ayu melirik hasil foto Akbar, kemudian tidak bisa menahan rasa iri. Ia juga ingin difoto dengan hasil sebagus itu.


"A, fotoin aku!"


"Hah? Kamu mau jadi obat nyamuk di dalam foto?"


Ayu menatap Akbar seolah yang ia katakan adalah hal yang menjijikan.


"Tentu saja enggak, aku pengen difoto sendiri."


"Katanya kita bakal foto bareng? Ngapain aku harus motoin kamu? Acaranya juga udah dimulai, sebaiknya kita segera masuk."


Ayu terus merengek agar Akbar memotretnya, tapi cowok itu sama sekali tidak menganggapnya ada dan malah meminta Rini untuk mengambil gambar mereka berempat. Akhirnya Ayu harus menyerah dan merasa puas dengan foto bersama mereka


tbc.

__ADS_1


Woah, 2k plus kata😍😍😍


__ADS_2