Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Main 3


__ADS_3

Jadi, kenapa teman-temanku ini sangat suka ikut campur hubungan orang?


Septi sih ngomong begitu jelas, dia cantik pake banget, skin care-nya aja bisa bikin mamaku menjerit karena banyaknya uang yang harus dikeluarkan. Dia tinggal tunjuk, itu cowok pasti mau jadi pacarnya.


Kisahku tentu beda sama dia, aku memendam perasaan selama satu setengah tahun. Aku yang nembak Azam, aku juga yang bersikap agresif dalam hubungan kami. Terus mereka dengan gampangnya nyuruh aku putus? Mereka benar-benar gak mikirin perasaan aku, ya?


Bukan hal mudah buatku jadi pacar Azam, dan setelah semua yang aku lakukan, tentu saja aku tidak mau putus. Sudah sampai sejauh ini dengan keringat yang bercucuran, kalau sampai putus mungkin air mataku bisa sampai sekolam. Dulu pas aku diabaikan aku masih bisa tahan, tapi sekarang?


Memangnya kamu mau putus sama orang yang benar-benar kamu sayang cuma karena disuruh orang? Enggak, kan?


Ah, mereka membuat mood-ku jadi jelek aja. Sekarang aku jadi enggak semangat lagi buat pergi main. Mungkin nanti setelah sholat aku langsung pulang aja deh. Kalau lanjut takutnya malah gak bener. Mulutku kadang suka susah direm, aku gak mau musuhan sama mereka cuma gara-gara cowok.


***

__ADS_1


Setelah orang-orang yang Jumatan bubar, kami segera pergi ke masjid agung. Mengambil air wudhu dan rebutan mukena. Memang kadang kami suka lupa umur, jadi udah setua ini pun masih suka melakukan hal-hal kekanak-kanakan.


Selesai sholat, kami pergi ke pojok untuk rebahan. Tiduran di masjid memang sangat nyaman. Adem gimana gitu.


Aku hampir saja tertidur jika Ayu tidak berseru heboh, "Ayo berangkat! Kenapa malah pada rebahan gini sih?"


Aku manjawab malas, "Bentar, pewe, nih."


Lalu begitu terus sampai waktu menunjukkan pukul dua siang.


Aku memejamkan mata pura-pura tidur. Seriusan, aku malas gerak ini, udah enak rebahan. Membayangkan terik matahari di luar sama harus jalan kaki lebih dari seratus meter benar-benar mengangkat derajat kemalasanku ke ketinggian yang paling tinggi.


"Aku malas, Yu," ujar Sopa, ia juga sama sedang rebahan, bedanya dia sambil main HP.

__ADS_1


"Mending tidur aja deh, yuk. Nanti pulang abis ashar. Aku juga males jalan," saran Leli yang langsung aku setujui dalam hati.


"Dasar ya kalian ini, niatnya mau ke MP malah nyangkut di masjid," omel Ayu.


"Ya bagus dong, dari pada niatnya mau ke masjid tapi malah belok ke MP, itu bahaya." Hm, memang susah kalau debat sama orang yang suka cari ribut macam Sopa itu. Dia selalu punya jawaban cemerlang untuk meng-skakmat lawan bicaranya.


Karena ngantuk, aku jadi tidur beneran, dan pas bangun si Ayu juga lagi ngorok. Tadi aja sok-sokan nolak, sekarang malah dengkurannya yang paling keras.


Rasanya ingin tertawa keras, padahal tadi niatnya mau main, ujung-ujungnya malah numpang tidur di masjid agung. Tahu gitu aku tadi langsung pulang aja, lumayan kan bisa rebahan di atas kasur atau sofa di rumah. Aku juga bisa menyelesaikan novel yang sedang aku baca. Apalah daya nasi sudah berubah menjadi bubur.


Aku segera bangun dan mengecek jam di ponsel, sudah masuk waktu ashar ternyata. Sebaiknya aku segera wudhu, sholat dan pulang.


Mataku tertarik oleh notifikasi WhatsApp, pesan dari siapa, ya? Soalnya grup kelas aku matikan notifikasinya.

__ADS_1


Aku segera menarik layar ke bawah, lalu ... boom! Pesan dari Azam, gaiz.


"Udah pulang?"


__ADS_2