Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Tragedi Bola Voli 2


__ADS_3

Jadilah setelah kejadian itu, setiap ada yang bermain voli, kantin akan menutup sebagian tempatnya. Membuat banyak orang protes karena kantin jadi semakin sempit dan sulit untuk jajan, antriannya semakin panjang.


Tapi aku tidak merasa trauma sedikit pun, satu minggu kemudian aku kembali ikutan main voli lagi saat istirahat. Aku hanya sedikit menyesal karena sudah membuat keributan dan harus mengeluarkan banyak uang untuk mengganti minyak yang tumpah.


Aku tetap bermain seperti biasa walau ledekan dari berbagai penjuru datang, terutama teman-teman sekelas. Mereka meledekku sebagai tukang goreng bola voli selama seminggu penuh. Belum lagi teman-teman satu ekskul, mereka benar-benar puas menertawakanku. Idong adalah salah satunya.


Karena kejadian itu aku jadi cukup terkenal di sekolah. Tentu saja bukan dalam artian baik, banyak cewek yang menggosipkanku di belakang. Menyebutku sebagai cewek tukang caper, padahal aku ikut bermain karena memang ingin voli beneran. Huh, memang cewek dan gosip itu susah dipisahkan.

__ADS_1


Aku tidak menyalahkan mereka juga, sih. Tidak pula membenci. Karena apa? Ya, biarin aja mereka memikirkan apapun tentangku, jelek-jelekkin juga aku gak peduli. Mereka ini yang nambah dosa. Lagipula, aku juga suka jelekkin orang. Jadi aku cukup ngerti rasanya. Haha.


Aku memukul Idong saat cowok itu tidak berhenti tertawa. Puas sekali dia menertawakanku. Menyebalkan. "Kamu juga pernah bikin tragedi, ya!" sungutku kesal.


"Apa?" balasnya sambil tertawa kecil, sepertinya dia sudah lelah tertawa.


"Bola yang kamu pukul melintasi pagar itu." Aku menunjuk pagar pembatas sekolah yang tingginya hampir sama dengan bangunan dua lantai, diujungnya terdapar banyak kawat berduri entah untuk apa. Mencegah maling mungkin? Aku tidak yakin juga ada orang gila yang mau memanjat tembok setinggi itu, terlebih karena di balik tembok itu tempat yang cukup menyeramkan. Aku dan teman-teman sering melihat hal-hal aneh di sana, semacam banyak jimat yang digantung di tali yang dibuat seperti tempat menggantung baju hasil mencuci. Aku tidak yakin dengan penghuninya.

__ADS_1


Cowok itu meringis, menggaruk kepala yang sepertinya benar-benar gatal. "Abisnya serem, tahu! Lagipula bolanya udah aku ganti sama yang baru. Dan tragedi itu enggak sedramatis bola nyemplung ke penggorengan," ujarnya yang terdengar jumawa. Apanya yang harus disombongkan dari tragedi itu coba?


Ini Ayu ke mana pula? Kenapa cuci tangannya lama sekali? Sepertinya bel masuk sebentar lagi akan berbunyi. Aku celingukan dan menemukan cewek itu sedang nangkring di kantin. Buset, itu anak dikasih jantung malah minta empedu. Minta diantar, pas udah diantar malah ninggalin. Emang minta di sate beneran dia.


Aku berpamitan pada Idong dan berjalan ke arah kantin untuk menghampiri gadis yang katanya sedang tidak punya uang tapi malah jajan banyak itu. Aku tidak menyadari sepasang mata tajam mengikuti pergerakanku sedari tadi.


***

__ADS_1


Saat kembali ke kelas, aku baru ingat dengan perkataan Azam yang menyuruhku untuk membuka pesan. Aku segera membuka tas untuk mencari ponsel, setelah diaduk-aduk sebentar, aku menemukannya di dasar tas yang terhalangi oleh buku. Tapi saat akan menghidpkannya, guru yang akan mengajar datang. Mengangkat bahu, aku akan membuka pesannya nanti saja. Sekarang lebih baik aku fokus belajar dulu, perutku sudah tidak sakit lagi. Hanya tersisa lubang anus yang terasa nyeri, walau cukup mengganggu di saat duduk seperti sekarang, aku bisa bernapas lega karena tidak perlu lagi pergi bolak-balik ke toilet.


Aku membuka buku pelajaran, mulai serius belajar.


__ADS_2