Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#48


__ADS_3

"Udah, maen game aja sana."


"Terus kamu mau baca novel gitu?"


"Ya jelaslah!"


"Heh, ini malam Jumat."


"Ya terus? Apa hubungannya coba?" Ina berjalan ke dapur untuk mengambil minum, ia menjepit ponsel di antara bahu dan telinga, sementara tanganya sibuk memencet dispenser. Setelah gelas terisi penuh, ia berjalan kembali ke meja makan.


"Masa kamu gak tahu sih malam Jumat harus ngapain?"


Ina meneguk airnya terlebih dahulu sebelum menjawab. Ia menatap Ani yang sedang sibuk maskeran sambil video call-an sama calonnya, padahal sebentar lagi menikah, tapi intensitas komunikasi mereka malah semakin meningkat. Apalagi bukannya semakin akur, mereka semakin sering bertengkar, meskipun cuma karena hal-hal kecil. Mungkin ini yang dalam novel disebut penyakit sebelum pernikahan? Ani sepertinya stres karena hari bahagianya akan tiba hanya dengan menghitung hari. Lebih tepatnya 14 hari lagi.


Waktu memang berlalu dengan cepat, Ina juga merasa tidak percaya jika Ani akan menjadi milik orang lain sebentar lagi. Begitu pun dengan hubungannya dan Azam, setelah berkenalan dengan mamanya waktu itu, mereka sekarang sudah sering berkomunikasi. Bahkan teleponan seperti sekarang pun sudah bukan hal aneh lagi. Tapi satu hal yang tidak berubah, meskipun Azam memang lebih banyak bicara, tapi tingkat menyebalkannya sama sekali tidak berkurang. Seperti sekarang, cowok itu habis meledeknya habis-habisan karena ketahuan memotretnya diam-diam. Ina kan jadi malu.


"Emang malam Jumat harus ngapain?"

__ADS_1


Alih-alih Azam yang menjawab, malah Ani yang menyeletuk, "Sunah Rosul, Na."


"Hah?" Ina loading sebentar, sebelum kemudian mulai merutuki Azam. Sementara cowok itu malah tertawa keras di seberang sana. "Diam kamu, belum cukup apa ngeledekku dari tadi?" Ina menggeram kesal.


"Aih, kan jadi inget lagi. Kenapa harus sembunyi-sembunyi coba ngambil fotonya? Mana ketahuan pula, itu wajah apa kabar?"


Azam kmvrt! Pipi Ina kembali memerah mengingat kejadian tadi siang. Azam sedang berdiri menunggu Akbar menyalakan motornya, sementara Ina dan teman-temannya yang sedang selfie tiba-tiba punya ide brilian. Meskipun sudah berpacaran cukup lama, ia sama sekali tidak punya foto Azam. Ia pun berinisiatif memotretnya, terlebih pose Azam kan memang tidak pernah keliatan jelek. Sialnya, ia lupa mematikan suara hape, alhasil ia ketahuan dan jadi ledekan semua teman-temannya.


"Ceh. Emang kalau aku minta baik-baik kamu mau aku foto gitu?"


"Tentu aja." Ina membulatkan bola mata tidak menyangka. "Tidak mau."


"Aku tutup nih ya!" ancam Ina semakin kesal, tapi hal itu malah membuat tawa Azam semakin menjadi-jadi.


"Cie yang pengen punya foto pacarnya, cie."


"Berisik! Sana ih, main game aja sanaaaa."

__ADS_1


"Gak mau ah, pacarnya lagi lucu." Ina mendengkus, ia sama sekali tidak senang dipanggil lucu dengan nada meledek seperti itu.


"Bodo amat, aku tutup sekarang!"


"Oke, oke. Tapi jangan baca novel, ya."


"Kenapa lagi, sih? Suka-suka aku lah!" Ina cemberut, ia kembali menegak air minumnya hingga tandas. Tidak ia pedulikan Ani yang sedang merengek pada calon suaminya karena tidak ingin potong rambut.


"Jangan, lebih baik kamu ngerjain sunah Rosul bareng aku."


Otak Ina seketika berhenti berfungsi. "Gak mau, belum muhrim."


Tawa Azam terdengar menggelegar di seberang sana. Ina hanya mengernyitkan kening karena tidak mengerti apa yang lucu dari perkataannya.


"Ina, kamu mikir ke mana, sih? Maksud aku, ayo kita baca Al-Qur'an."


Seketika wajah Ina berubah jelek, rona merah menjalar dari pipi sampai ke telinga. Ia benar-benar malu. Azam memang benar-benar geblek. Tanpa mengucapkan apa-apa Ina segera memutuskan sambungan telepon. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel Ina.

__ADS_1


"Jangan lupa ngaji, ya, Pacar."


Ina segera melempar ponselnya ke atas meja dengan wajah merah padam. Punya pacar satu kok gini amat, Tuhan? Ina ingin menangis karena terlalu malu.


__ADS_2