Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Cilok


__ADS_3

Kata novel yang aku baca, salah satu amunisi yang wajib dimiliki cewek adalah kemampuan masak. Kalau kita bisa menyenangkan perutnya, mereka juga bakal kasih kita lebih banyak cinta. Yang mana adegan paling banyak kubaca adalah si cewek masakin sesuatu buat cowoknya, pacarnya suka dan makin cinta, terus hubungan mereka jadi makin lengket.


Tapi, itu cuma khayalan kalau antara hubungan aku sama Azam. Aku gak yakin pacarku yang satu itu akan menambah kadar cintanya kalau aku kasih makanan. Terutama dengan hasil masakanku yang jauh dari kata layak. Bagaimana kalau nanti aku malah racunin dia? Bukannya nambah cinta, nanti malah putus yang ada.


"Na, nguleknya yang benar, dong!" Uh, ini sudah kesekian kalinya Teh Ani menegurku. Kami saat ini sedang membuat cilok goang, kebanyakan yang buat Teh Ani, sih. Aku cuma bantu ngeramein aja. Walau ujung-ujungnya kena omel juga.


Jujur aja, masak bukan sesuatu yang aku suka. Maksudku, bukankah lebih enak makan langsung daripada masak dulu? Aku ini termasuk generasi simple yang gak suka meribetkan diri.

__ADS_1


Mungkin karena pembagian tugas di rumah ini, Teh Ani jadi sangat suka memasak. Kalau lagi libur kerja, kakakku satu itu bakal bikin apa saja yang menurutnya enak. Kami punya hobi sama sih, sama-sama suka makan. Bedanya dia suka masak sendiri, kalau aku lebih suka yang udah jadi.


Seperti hari ini, membuat cilok goang adalah idenya. Kemarin kami buat roti goreng, terus minggu lalu bikin es krim goreng. Ada aja yang ingin dibuatnya. Aku sih senang aja karena bisa makan makanan enak gratisan. Tapi kadang malas juga kalau sudah disuruh bantuin.


Jika ini game, kemampuan masak kakakku itu udah ada di level yang cukup tinggi. Nah, kalau aku ada di level paling dasar, 1. Paling kemampuanku yang berada di level tinggi adalah masak air sama mie instan. Masak kedua itu aku udah jago banget. Labih jago dari Teh Ani yang emang gak suka mie instan dengan alasan kesehatan.


Apalagi dengan pendapat orang Indonesia yang menganggap kalau gak makan nasi itu belum makan, jadilah aku juga sering makan nasi sama mie instan. Kadang kalau lagi insyaf aku gak mau pake nasi, tapi mamaku yang emang kurang dalam hal edukasi gizi suka menyuruhku untuk memakannya bersama nasi.

__ADS_1


"Jangan dulu pakai sambel, Eni sama Ana pasti mau soalnya," ujar Teh Ani mengingatkan. Aku hanya mengangguk saja, sedikit meringis saat melihat sambal goang hasil ulekanku, cabai rawitnya banyak banget! Semoga aku gak sakit perut nanti.


Akhirnya setelah berjuang selama lebih dari 30 menit, mulai dari nyampur bahan, bikin adonan, membentuk bulatan-bulatan kecil, memasaknya hingga matang, membuat sambal, dan sekarang cilok goang siap dihidangkan.


Aku membawa satu baskom yang cukup besar berisi cilok goang itu ke ruang tengah, sedangkan Teh Ani membawa cilok tanpa sambal goang dalam mangkuk kecil untuk Eni dan Ana. Sebenarnya Eni mungkin makan bersama kami, tapi Teh Ani memang selalu menganggapnya anak kecil yang gak boleh makan pedas.


Niatnya kami mau makan cilok goang ini sambil nonton film Home Alone. Lampu sudah kami matikan, niatnya biar mirip kayak di bioskop. Tapi alih-alih sambil makan pop corn, kami malah makan yang pedas dan basah. Kurang cocok juga sama tontonannya.

__ADS_1


Tadinya kami mau nonton film horor, tapi karena Ana dan Eni ikut, kami berganti haluan menjadi film yang bisa ditonton oleh anak-anak juga.


__ADS_2