
Sudah seminggu sejak hubungan Ina dan Azam diketahui oleh seluruh sekolah, sekarang bukan hanya sekadar rumor, tapi benar-benar pacaran. Ina dibuat kerepotan oleh teman-temannya Azam, karena setiap kali keluar kelas dan bertemu dengan salah satu dari mereka, ledekan mereka tidak akan pernah berhenti.
Seperti sekarang, Ina sedang duduk di undakan tangga menunggu Ayu yang sedang di toilet. Sudah menjadi kebiasaan, walau pun masih siang, setiap pergi ke toilet biasanya gak pernah sendiri. Alasannya simpel, biar ada teman bicara di jalan. Terus nanti kalau mau belok ke kantin jadi enggak sendirian, kalau ketahuan kan dihukumnya bisa berdua. Bukan berarti Ina rela jika dihukum karena mengantar Ayu ke toilet. Ia hanya sedang bosan di kelas karena guru yang mengajar tidak masuk.
"Eh, ada pacarnya Azam. Kapan putus, Na?"
Sedang asyik-asyiknya melamun, datang suara menyebalkan dari arah belakang. Ina menggeser duduknya lebih mepet ke samping kanan agar tidak menghalangi jalan.
Dua cowok yang Ina tahu kelas XII itu menyapanya sambil berdadah-dadah ria. Ina hanya tersenyum kecil karena tahu mereka akan menggodanya. Sebenarnya teman-teman Azam cukup baik, mereka selalu menyuruhnya putus dengan alasan menjadi pacar Azam itu pasti melelahkan. Ina setuju saja, tapi ia tidak rela kalau harus putus. Baru juga diakui, masa dia malah minta putus, bagaimana nasib perjuangannya nanti? Lagipula ia tahu kok, mereka cuma bercanda.
"Yah, doanya jelek amat. Doain Azamnya jadi so sweet gitu, A."
Kedua cowok itu berpandangan, Ina berdoa semoga mereka masih normal.
"Azam jadi so sweet?" Cowok yang tadi bertanya mengorek telinga seolah salah dengar, lalu mereka berdua ketawa ngakak. "Gak bisa dibayangkan sama sekali!"
__ADS_1
Ina cuma mendengkus, lalu mengusir mereka berdua.
"Kalau gak mau doain dia jadi so sweet, sana pergi, A. Ganggu pemandangan aja." Tentu saja Ina mengucapkannya sambil tertawa. Ia tahu kedua orang itu pasti ingin pergi ke kantin.
"Wedew, galak amat nih pawangnya si Azam. Ayo pergi, lebih baik kita bercumbu sama bala-bala aja di kantin."
Mereka berdua pamit sambil melambaikan tangan. Ina masih bisa mendengar percakapan mereka karena suara mereka memang keras.
"Enggak nyangka pacarnya si Azam bakal baik gitu, dia enak juga diajak bercanda."
"Ah, tahu enggak katanya si Mira sampai kejang-kejang pas tahu cowok yang dia gebet sejak kelas X malah pacaran sama cewek lain."
Ina hanya menggelengkan kepala, dasar lebay, Teh Mira cuma mencak-mencak karena kesal, bukan kejang-kejang, memangnya dia kena ayan apa?
"Ayo, Na!"
__ADS_1
"Udah selesai?"
"Udah, emang kamu pikir aku ngapain di toilet? Video call-an? Make Up-an? Ghibah? Mandi?"
Ina hanya tertawa kecil, entah kenapa rasanya ia kangen sama cerocosan Ayu, dia tidak masuk tiga hari karena demam.
"Biasanya emang gitu, kan?"
"Ina!!! Jangan mentang-mentang udah diakui Azam kamu jadi sombong, ya! Kayaknya kamu emang perlu dikasih pelajaran biar enggak ngelunjak, sini sini, biar aku sentil ginjalmu!"
Ina segera kabur, ngeri amat bercandaannya. "Mati dong, nanti!"
"Enggak bakal, kan masih ada ginjal satunya!"
"Woy! Dikiran ginjalku apaan! Kalau dijual lumayan bisa kebeli laptop sama motor bagus!"
__ADS_1
Akhirnya mereka kejar-kejaran sampai ke kelas.