Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#22


__ADS_3

"Kapan try out?"


"Yang pertama sudah, yang kedua sepertinya akan dilaksanakan dalam waktu dekat. Kamu juga sudah tahu, kan?"


Wow. Emejing. Ina melongo saat membaca pesan yang diterimanya, dia benar-benar tercengang. Apakah ini mimpi? Tapi ia baru saja bangun! Mana mungkin bunga tidur bisa datang kalau matanya saja melek kayak lampu merkuri di halaman masjid. Sungguh luar biasa. Tiada kata yang bisa ia ucapkan selain amazing!


Belum percaya dengan apa yang terjadi, gadis itu mencubit tangannya sendiri dengan keras. "Wadidaw! Sakit jiwa! Eh, maksudnya sakit banget, deng! Gila, ini bukan mimpi! Sungguh keajaiban dunia yang patut tercatat dalam sejarah cinta dinasti AzIn alias Azam Ina yang pertama!"


Sekali lagi Ina membaca pesan yang ia terima dari Azam, tulisan di sana tidak berubah. Sedikit pun. Sehuruf pun. Semuanya sama persis seperti yang ia baca saat pertama kali.


Cowok itu benar-benar membalas pesannya dengan panjang walau tidak sepanjang ketika panjang dikali tinggi dikali lebar. Apaan, sih! Ia jadi eror begini. Tapi cowok itu membalas pesannya dengan cukup panjang begini, apalagi di akhiri dengan pertanyaan memang sungguh langka. Membuat jantung Ina dag-dig-dug saja.

__ADS_1


"Ya nanya aja, sih. Aku emang gak tahu jadwal fix-nya kapan."


"Hm, kamu tahu juga buat apa? Kan sekolah tetap masuk seperti biasa karena try out-nya pakai sistem online, jadi cuma dilaksanakan di lab multimedia. Itu pun setelah jam pulang karena sekolah kita kebagian yang sore hari."


Aneh, entah kenapa walau jawaban Azam panjang begitu hati Ina tidak merasa senang sama sekali. Dia malah merasa kesal dan ingin menggigit ujung meja sekuat tenaga. Ini bukan hanya perasaannya saja, kan, kalau balasan Azam sangat menyebalkan? Emang minta disleding ya ini cowok satu.


"Basa-basi doang, elah. Habisnya kamu nyebelin banget!"


"Suka banget matiin obrolan!"


Ina mengetik dengan penuh tenaga, akhirnya ia bisa mengatakan padanya kalau cowok itu sangat payah dalam menjaga percakapan agar tetap berjalan lancar.

__ADS_1


Setelah semedi dan memasuki pikiran terdalam serta menyucikan hati dari pikiran bucin, Ina memang memutuskan untuk menjadi lebih berani saja. Ia akan mengatakan semua yang ada di pikirannya. Karena hubungan yang baik dimulai dari komunikasi yang baik pula. Kalau ia hanya memendam semua kekesalan pada kelakuan Azam sendirian, ia sendiri yang rugi. Cowok itu bukan cenayang yang bisa mengerti tanpa ia harus berkata apa-apa.


Azam hanya manusia biasa yang saking biasanya sering kali membuat orang-orang di sekitarnya naik darah. Cowok itu tidak akan mengerti apa yang Ina pikirkan, rugi bandar baginya jika hanya diam dan membiarkan hubungan ini mengikuti berjalan sesuai kepribadian pacarnya. Sampai kucing bertelur pun hubungan mereka gak bakal pernah maju! Yang ada makin mundur seiring berjalannya waktu.


Ina harus memimpin hubungan ini ke arah yang lebih baik, setidaknya sampai mereka bisa lebih dekat lagi daripada sekarang. Menjadi pacar sebenarnya, bukan pacar rasa orang asing. Sungguh menyedihkan.


Setidaknya ilham itulah yang Ina dapat hasil marathon berbagai judul novel di dunia oren dan merah biru. Berbagai judul dan genre sudah ia lahap dengan rakus, dan hanya ada satu kesimpulan yang masuk ke dalam otaknya.


Hubungan yang baik dimulai dari komunikasi yang baik! Jadi Ina akan berusaha memperbaiki komunikasi di antara ia dan Azam. Sebenarnya ini sungguh bukan pekerjaan yang mudah, lihat saja kelakuan cowok itu yang selalu minta dijadikan target santet online.


"Masa, sih? Kok aku gak ngerasa, ya? Aku enjoy aja selama berkirim pesan sama kamu. Kapan aku pernah matiin obrolan? Gak pernah. Jangan bicara sembarangan."

__ADS_1


Tuh, kan, lihat! Betapa menyebalkannya kelakuan Azam. EMANG MINTA DISANTET ONLINE DIA, TUH!


__ADS_2