Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#17


__ADS_3

Setelah menenangkan diri beberapa saat, Ina kembali menghampiri teman-temannya. Tapi walau ia sudah berusaha untuk tenang, tetap saja jantungnya berdetak kencang. Wajahnya juga memerah tanpa bisa dicegah, ia bahkan sampai mencuci muka beberapa kali untuk menenangkan perasaannya yang berkecamuk.


Azam mengatakan kangen padanya sungguh tidak pernah ada dalam bayangan Ina. Gadis itu memang berharap sang pacar datang untuk meminta maaf, siapa yang tahu hatinya malah dijungkir balikkan seperti ini? Cowok itu benar-benar berbahaya. Bagaimana kalau Ina sampai cinta mati padanya?


Sampai saking bucinnya Ina rela menjadi istri simpanan yang hanya diberi makan sama garam setiap hari demi mengemis cinta Azam. Ih, Ina bergidik, membayangkannya saja gadis itu sudah ngeri.

__ADS_1


Tidak bisa dibiarkan, Ina harus sering-sering pergi ke pengajian biar cintanya kembali kepada Tuhan.


Akan tetapi satu hal yang pasti, kejadian ini harus masuk ke dalam catatan cintanya! Hari Sabtu ini harus menjadi hari sakral dalam sejarah percintaannya. Gadis itu segera mengeluarkan ponsel dari saku rok, membuka aplikasi kalender dan memberi pengingat di sana.


Kedatangan Ina disambut oleh wajah-wajah kepo teman-temannya, beberapa bahkan sengaja berhenti latihan demi mengelilingi dirinya. Gadis itu sengaja duduk lesehan kembali di koridor, tidak peduli jika roknya kotor, toh besok adalah hari Minggu, seragamnya tidak akan dipakai lagi.

__ADS_1


Orang yang paling semangat tentu saja sahabat cerewetnya, Ayu. Gadis itu duduk tepat di samping kanan Ina. Tangannya memegang bahu Ina erat, matanya sibuk menyelidiki wajah sang sahabat yang dirasa cukup aneh. Gadis itu yakin ada sesuatu yang tidak beres tentang pertemuan Azam dan Ina tadi. Pasti ada hal besar yang bisa ia jadikan sebagai gosip untuk diceritakan esok hari.


"Air apa ini?" mulainya tidak penting, gadis itu lalu melihat Ina dari atas sampai bawah. "Kamu gak ngelakuin hal-hal yang aneh kan sama si patung itu? Inget Na, kamu masih kelas XI, jangan kebablasan, apalagi ngelakuin hal aneh di sekolah. Berani banget."


Ina ingin membantah dengan keras, enak saja Ayu menuduhnya yang tidak-tidak, tapi Leli ikut menerobos masuk ke dalam percakapan. Membuat mulut Ina yang sudah terbuka harus kembali terkatup rapat. Leli menatap teman sebangkunya penuh antusias. Jika ini di film kartun, mungkin bisa terlihat jika ada banyak bintang berkilauan di sekitar matanya. "Gimana rasanya mojok di sekolah untuk pertama kalinya, Na?"

__ADS_1


Ina hampir saja tersedak ludahnya sendiri, pertanyaan macam apa itu? Kenapa pertanyaan teman-temannya sangat menjengkelkan? Tapi kemudian gadis itu mulai merenung, memang yang tadi bisa disebut mojok? Ia bingung karena sampai sekarang tidak tahu definisi dari mojok itu sendiri.


Apa mojok itu mereka yang menghabiskan waktu berdua? Apa yang biasanya orang yang sedang mojok ini lakukan? Bicara empat mata seperti Ina dan Azam tadi? Atau mereka melakukan sesuatu yang lain? Saling bunuh dalam game misalnya?


__ADS_2