
Selesai menonton film, aku kebagian mencuci piring. Dua adikku sudah pergi ke kamar untuk tidur, dan Teh Ani berdiri di dekat wastafel, berlagak seperti bos dengan menyilangkan tangan di depan dada. Matanya menatapku lurus, membuatku risih setengah hidup.
"Kenapa?" tanyaku tidak tahan. Tanganku sibuk memasukkan baskom ke wastafel, lalu menyiramnya dengan air. Aku lalu membasahi spons dan meneteskan sabun pencuci piring.
"Jadi," mulainya, "kamu beneran punya pacar?"
Aku menghentikan gerakan tangan yang sedang menggosok baskom. Huft, aku kira Teh Ani bakalan lupa. Aku kan malu harus cerita beginian sama dia.
"Iya," jawabku dengan suara mencicit.
Sebenarnya agak kurang yakin, karena Azam bahkan tidak pernah mengakui atau menyangkalnya. Ya, dia memang memberiku kejelasan ketika di kelas waktu itu, tapi saat ada orang yang bertanya, mana ada dia ngaku. Kan di mata orang-orang aku dan Azam pacaran itu seperti bohongan.
"Siapa? Orang mana?"
__ADS_1
"Azam, orang Tasik juga," jawabku malas. Teh Ani kalau mode penasarannya sudah aktif pasti tidak akan berhenti bertanya dalam waktu dekat.
"Ye, maksudku dia tinggal di daerah mana?"
"Entah." Aku hanya mengedikkan bahu. Dia gak pernah cerita di mana rumahnya, aku juga gak pernah nanya sih. Toh aku gak mau pergi ke rumahnya ini.
"Gimana sih kamu? Masa rumah pacar sendiri gak tahu." Teh Ani mulai mengomel. "Terus selama pacaran kalian udah ngapain aja?"
Tuh. Aku jadi berasa diinterogasi. Cocok nih kayaknya Teh Ani kalau jadi detektif. Suka mencari tahu hal sekecil apa pun.
Aku mengelap baskom dengan handuk kering, lalu menyimpannya ke rak. Setelah itu mengambil es krim di kulkas dan duduk di ruang tengah untuk menonton lagi. Hm, sebaiknya aku nonton film apa lagi, ya?
Teh Ani masih setia mengekor di belakangku. Dia sepertinya terlalu kaget mendengar jawabanku tadi.
__ADS_1
Ah, aku akan menonton film ini saja, Barbie Mariposa. Tolong jangan tertawakan seleraku, aku sedang malas menonton film yang membuat otakku pusing.
Teh Ani duduk di sebelahku, lalu berujar tak percaya, "Serius? Aku tadinya mau nyuruh kamu buat jangan terlalu jauh. Tapi, pacaran kamu benar-benar seperti anak SMA, tidak, tapi anak SD. Bocah-bocah berseragam putih merah itu aja bahkan pacarannya sampai jalan bareng, tapi kamu cuma chattan doang. Aku sampai gak tahu harus bereaksi seperti apa."
"Ya, ya," jawabku tanpa minat. Tidak peduli dengan pacaran ala anak SD. Pikiran sengaja kufokuskan pada jalan cerita di film, dan tangan yang tidak berhenti menyuap.
"Mungkin dia gak cinta sama kamu, Na?"
Nah, sekarang tanganku berhenti di udara. Apa iya? Aku juga masih meragukan perasaan Azam sih, sampai sekarang.
"Kamu ini pemalas sih, kasih dia apa kek biar makin cinta sama kamu. Masakan kamu misalnya?"
Aku hanya menggeleng tidak peduli. Sarannya langsung kutolak. Tidak. Aku tahu banyak tokoh utama cewek di novel yang jago masak memanfaatkan keahliannya supaya si cowok makin cinta. Tapi, memasak benar-benar bukan keahlianku. Dan aku takut khilaf.
__ADS_1
Gimana kalau pas masak nanti aku masukin banyak pelet ke masakannya biar cinta Azam ke aku melimpah sampai meluap-luap?
Dih, gak banget, deh.