Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#3


__ADS_3

Bukan hal mudah berdiri berdampingan bersama pacar selama upacara hari Senin berlangsung, mungkin orang lain akan merasa senang atau deg-degan, tapi yang Ina rasakan malah mules. Gadis itu ingin segera menjauh dari Azam. Kekesalannya masih belum pudar, terlebih sekarang, meskipun ia berdiri di sampingnya, cowok itu tidak menunjukkan tanda-tanda peduli akan keberadaannya.


Ina terus menunduk, berharap waktu berjalan cepat, kenapa upacara harus lama sekali? Batinnya berdecak kesal. Ia bahkan tidak mengeluarkan suara saat seharusnya menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib nasional. Ina juga tidak mendengar cowok di sampingnya bernyanyi, padahal ia cukup penasaran dengan suara Azam.


Gadis yang selalu memakai hijab instan itu menggerakkan kaki bosan, ia ingin berdiri menyender di tembok belakang, tapi tidak ingin melakukan itu karena Azam ada di dekatnya. Walau sedang marah, Ina ingin tetap menjaga harga diri. Akhirnya sampai akhir pun ia hanya berdiri sambil menunduk dan menggerakkan kaki bosan.


Setelah upacara selesai, barisan mulai tidak beraturan. Banyak yang tadinya berdiri di depan mundur dan berjongkok di barisan belakang. Ina harus mundur sampai ke dinding pembatas karena banyak yang ingin berdekatan dengan Azam, membuatnya ingin mencak-mencak.


Ia pun hanya bisa pasrah dan menyandarkan tubuh, matanya memejam sejenak, sampai seseorang mencolek lengan atasnya dan mengangsurkan selembar kertas. Ina menerima kertas itu setelah mengucapkan terima kasih. Kebiasaan yang ada di Madrasah Aliyah 47 Dokar ini adalah selalu membaca Asmaul Husna setiap selesai upacara. Hari biasa juga sama sih, dibaca, cuma biasanya dilakulan di kelas sesudah atau sebelum membaca ayat suci Al-Qur'an.


Ina mengerutkan kening saat sadar Azam memilih untuk berdiri di sampingnya, wajahnya terlihat kesal entah karena apa. Ia ingin bertanya kenapa, tapi urung saat berpikir jika cowok itu pasti akan mengabaikannya. Tidak mungkin Azam mau terlihat berinteraksi bersama Ina di depan umum seperti sekarang. Menyebalkan.


Lalu kenapa cowok itu malah berdiri di sampingnya? Ina berdecak kesal, lalu memilih untuk fokus membaca Asmaul Husna saja. Memikirkan tingkah Azam tidak akan pernah ada habisnya.

__ADS_1


Selesai membaca Asmaul Husna, kertas yang tadi dibagikan kembali dikumpulkan oleh pengurus OSIS. Sekarang terlihat beberapa belas orang yang memakai seragam putih abu-abu berbaris di depan. Mereka adalah orang-orang yang kesiangan. Salah satu guru yang terkenal cerewet sedang memarahi mereka, sementara siswa yang lain disuruh untuk segera kembali ke kelas.


Barisan mulai bubar, Ina berjalan menuju kantor guru, karena kesiangan tadi gadis itu menyimpan tas di atas kursi besi di depan kantor guru. Ia kira Azam akan menyapa, sekadar tersenyum atau mengucapkan hai, apalagi mereka tidak berkirim pesan sejak kemarin. Tetapi kenyataan menamparnya, cowok itu berlalu begitu saja untuk menghampiri Akbar. Bahkan tanpa melirik Ina sedikit pun.


Lagi-lagi gadis itu dibuat kesal. Ina menghentakkan kaki, bibirnya maju karena sebal. Segera diambilnya tas gendong berwarna biru tua yang sudah berada di lantai, sepertinya jatuh tersenggol orang-orang yang sama mengambil tas. Tadi memang banyak sekali tas menumpuk di sana, jadi Ina tidak terlalu heran. Walau tetap saja ia tidak senang, bagaimana jika tasnya ada yang menginjak? Alamat bisa rusak alat tulis dan ponsel di dalamnya.


Ina segera beranjak menuju kelas, tidak sabar mempertemukan bokong teposnya dengan permukaan kursi. Ia benar-benar pegal karena berdiri cukup lama.


Ina mendekati mereka, lalu menyapa. "Ke kantin?" tanyanya basa-basi.


Ayu mengangguk semangat, "Yep, mau ikut? Eh, kamu kesiangan tadi? Pantes gak ikutan ke mushola."


Ina tersenyum canggung, Ayu memang kalau bicara kadang suka tidak dipikir dulu, dia membuka aib begitu saja.

__ADS_1


"Aku ke kelas duluan, deh, ya!" Ina segera pamit dan meninggalkan teman-temannya. Suasana hatinya tidak terlalu baik untuk ngemil pagi-pagi. Azam benar-benar membuat moodnya terjun bebas.


Sesampainya di kelas, Ina disambut oleh Soni dan Awan yang sedang sibuk menyalin entah apa, mungkin PR Matematika. Ia segera meletakkan tas, lalu menelungkupkan tangan di atas meja. Apa yang sebaiknya ia lakukan untuk memperbaiki suasana hati?


Ina menjentikkan jari saat hobi utamanya terlintas. Ya, sebaiknya ia membaca saja. Gadis itu ingat kemarin salah satu teman dunia mayanya menyarankan untuk mendownload sebuah aplikasi untuk membaca dan menulis, NovelToon. Katanya penulis yang ia ikuti di dunia oren menulis di sana juga. Kalau tidak salah judul ceritanya adalah Blue Attack.


Gadis itu segera mencari ponsel di dalam tas, lalu mengaktifkan data. Tak lama kemudian ada beberapa pesan masuk, semuanya tidak terlalu penting, jadi ia abaikan. Hati Ina kembali dongkol saat tak menemukan pesan dari sang pacar, padahal ia cukup berharap cowok itu mengiriminya pesan. Kalau tahu begini Ina hanya membuang-buang harapannya yang berharga. Ia harus berhenti sebelum mulai ketergantungan akan keberadaan Azam.


"Son," panggil Ina pada Soni yang masih sibuk menulis. Cowok itu hanya menjawab dengan deheman, tidak ingin diganggu. "Bagaimana cara supaya kamu tetap bisa aktifin data tapi gak mau dapat pesan dari orang lain?"


Soni meliriknya sejenak, lalu berdecak. "Blokir aja nomornya, susah amat." Lalu cowok itu kembali sibuk menulis.


Ina tersenyum lebar akan ide brilian Soni. Segera saja ia mengutak-atik ponselnya. Tanpa ragu gadis itu memasukkan nomor Azam ke daftar hitam, di mana ia tidak akan bisa menerima pesan maupun panggilan darinya lagi. Setelahnya ia mulai mendownload aplikasi yang temannya sarankan, siap untuk membaca tanpa gangguan dan harapan yang ketinggian.

__ADS_1


__ADS_2