
Ina tersenyum lebar menyambut Azam yang baru saja memarkirkan motor di depan rumah, langkah kaki segera membawanya menyongsong pemuda yang baru saja turun dari kendaraan dan meletakan pelindung kepala ke stang. Sambil membawa kresek hitam yang tadi dicantelkan di kuda besi itu, mereka berjalan masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, keluarga Ina sudah menunggu. Mereka sedang bersenda gurau membahas hal apa saja yang sudah terjadi hari itu.
"Siapa tuh, Na?" goda Ani ketika kedua sejoli yang tampak malu-malu kucing muncul di ruangan. Bibirnya memasang senyum mengejek kala melihat sang adik salah tingkah.
Ina berdeham sejenak, sebelum memperkenalkan sang pacar yang Malam Minggu ini untuk pertama kalinya bertandang ke rumah, atau bahasa gaulnya apel.
"Kenalin ini pacar aku, namanya Azam," ujar Ina grogi, berjalan berdua dari halaman sampai ke tempatnya berdiri berdua saja sudah membuat gadis itu panas dingin. Kebahagian meluap-luap dalam hati, gadis itu hanya berharap raut wajahnya tidak terlalu norak sekarang. Berdiri di samping pacar sudah seperti habis lari marathon, ditambah sekarang mengenalkannya pada keluarga, bertambah berisiklah jantungnya.
"Owalah, Ina sudah punya gandengan toh sekarang," ayahnya ikut menggoda, beliau mengajak Ana yang duduk dipangkuannya untuk semakin menggoda Ina, "Dek, itu calon kakak ipar, nanti kalau ketemu di jalan jangan lupa minta uang buat jajan."
Mendengar guyonan ayahnya, Ina serasa mau pingsan, bercanda juga ada batasnya! Bagaimana kalau sang adik benar-benar melakukannya? Dia tidak ingin membayangkannya.
__ADS_1
Ina mencuri-curi pandang pada sang kekasih, berharap dia tidak menganggap ucapan ayahnya serius. Bisa mati berdiri dia kalau Azam marah, demi kaus kaki bau milik Eni, ini acara apel pertamanya! Bukankah seharusnya penuh kesan? Kenapa malah begini?
Di luar dugaan Ina, ternyata Azam tidak marah, cowok itu hanya tersenyum ganteng yang membuat jantung Ina hampir saja copot. Aduh, senyumnya manis banget! Nanti kalau mau bikin kue enggak usah tambah gula lagi, cukup makannya sambil mantengin senyum Azam aja, dijamin itu kue langsung terasa kemanisan.
"Ayo duduk sini, Nak," ajak ibunya sambil tersenyum. Sedikit kasihan karena dari tadi hanya digoda, tidak dipersilakan untuk mempertemukan pantatnya dengan permukaan empuk sofa.
Ina segera tersadar akan kebodohannya, pacar macam apa dia yang malah membiarkan cowok yang mau apel terus berdiri. Refleks tangannya menggenggam pergelangan tangan Azam dan mengajaknya untuk duduk. Wajahnya memerah saat sadar apa yang sedang dia lakukan. Ia menunduk ketika mendengar siulan Ani yang sangat jelas menggodanya.
Terlalu salah tingkah membuat Ina tidak memperhatikan jalan, akhirnya ia tersandung dan jatuh telungkup. Mana tersandung kaki sendiri pula. Benar-benar memalukan.
Ina merasakan sakit di permukaan badan bagian depan, mana tadi ia sedang menggandeng Azam pula, jadi cowok itu juga ikut terjatuh dan menindih tubuhnya.
"AW!" Ina berteriak sakit saat pinggangnya tersasa tertimpa bongkahan beton. Kenapa Azam berat sekali?
__ADS_1
Tak lama terdengar suara cekikikan yang Ina tebak adalah suara Ani. Gadis itu segera membuka mata yang entah kenapa terasa berat. Tak lama kemudian terdengar sebuah teriakan yang cukup keras.
"Ani, berhenti gangguin adik kamu!"
Sekali lagi Ina merasa ada beban berat di pinggang, membuat keningnya mengernyit heran. Kenapa Azam nubruknya dua kali? Aneh banget! Masa cowok itu sengaja nubrukin badan, sih?
Beberapa saat kemudian otak gadis itu mulai bisa beroperasi dengan normal, ia mencium sesuatu yang aneh. Lagi-lagi pinggangnya terasa sakit.
Ina mengerjap beberapa kali, ia memang sedang telungkup menyedihkan di atas lantai. Saat hendak bangkit, ia merasa beban di pinggangnya sangat berat, membuat ia susah bergerak.
Perlahan Ina memalingkan kepala, seketika itu juga ia segera mengerti apa yang terjadi.
"Ana, berhenti bermain di sana! Tulang Teteh sakit semua!"
__ADS_1
Rasanya Ina ingin menangis, kenyataan menamparnya dengan keras.
AZAM APEL TADI CUMA MIMPI!