Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
Misteri


__ADS_3

"Ditengokin Azam, gak? Masa itu cowok enggak tahu sih kalau kamu lagi sakit? Pacar macam apa itu? Mana kamu sakitnya mencret pula, yang bisa bikin dehidrasi." Ayu menghentikan ocehannya sebentar karena mendapat tatapan tajam dari hampir semua teman-teman, ya lagian dia kok jorok banget, mereka kan lagi makan."Ups, maaf teman-teman, aku lupa, mulutku kadang suka lupa ngerem." Ayu cengengesan.


Kami yang mendengar hanya bisa memutar bola mata malas. "Bukan kadang, tapi emang selalu gak bisa," ujar Septi sebal. Gadis itu sepertinya kesal karena kehilangan selera makan.


Ayu cengengesan sebentar, lantas kembali menoleh ke arahku. "Jadi, Si Patung tadi nyamperin kamu, gak? Kebetulan tadi A Akbar lewat, habis dari toilet, aku cegat aja. Terus aku suruh kasih tahu Azam kalo kamu lagi mencret."


Seketika wajahku memerah, ih ini si Ayu kok malu-maluin banget. Kenapa malah ngasih tahu A Akbar kalau aku lagi ... deuh, kenapa juga dia harus bilang mencret, bukan diare aja?


Ayu kembali diam saat sadar sudah mengucapkan kata jorok lagi. Gadis itu segera bangkit, ingin kabur. "Na, ayo anter aku ke toilet," ajaknya yang terdengar amat menyebalkan di telingaku. Dia memutuskan untuk menyudahi makan daripada nanti harus kena omelan panjang dari Septi dan Leli karena sudah menyebabkan orang lain kehilangan selera makan. Dasar, emang gini nih dia kalau ngomong suka enggak dipikir dulu.


Aku melengos. "Ogah." Lalu aku pergi ke bangku tempatku duduk, sebaiknya aku menanyakan materi pelajaran tadi saja kepada orang yang pantas. Salah satu teman sekelasku yang paling rajin, Aman. Saat ini saja dia sedang membaca LKS, emang hebat banget ini bocah satu. Pantas saja selalu berada di peringkat tiga besar.

__ADS_1


Ayu menyusulku, lalu mulai merengek menyebalkan. "Ayolah, antar aku ke toilet. Aku mau cuci tangan, ya, ya, ya. Kamu harus berterima kasih sama aku, sekarang Azam pasti khawatir sama kamu. Mungkin sebentar lagi dia bakal ke kelas ini dan nyamperin kamu. Jadi ayo cepat antar aku ke toilet sebentar."


Aku berhenti melangkah saat menyadari sesuatu yang janggal. Menatap Ayu yang juga sedang menatapku dengan tatapan memohon. Aku mendengkus, dia baik hanya jika ada maunya saja. Tapi sesuatu yang mengganggu otakku benar-benar harus aku cari tahu sekarang.


"Yu, kamu gak beliin aku obat?" tanyaku dengan sedikit was-was.


Alih-alih mengiyakan, gadis itu malah nyengir kuda. "Maaf ya, uangku buat minggu ini udah habis buat beli gincu baru, jadi sekarang aku kere dan gak mampu beliin kamu obat, hehe."


Aku mengabaikan kalimat menyebalkannya tentang kehabisan uang, sekarang pikiranku terfokus pada satu hal yang janggal. Jika bukan Ayu yang membelikanku obat? Lantas siapa? Siapa gadis cerewet lain di kelasku yang sudah dengan baik hatinya membelikan obat? Tapi ... gadis cerewet di kelas ini hanya Ayu. Yang lain juga cerewet, tapi kalau sedang bersama teman sepermainan saja. Kalau di depan cowok mereka jaim. Kalau Ayu, tidak peduli siapa pun yang dia hadapi, gadis itu akan selalu nyerocos panjang lebar kalau sudah membuka mulut. Aku jadi kasihan pada A Akbar, ia harus rela mendengarkan celotehan Ayu karena aku tadi. Tiba-tiba saja aku merasa bersalah. Semoga kuping cowok itu baik-baik saja.


Apa obat itu sebenarnya memang dari Azam? Dia berbohong karena malu, tidak ingin aku menganggap dia khawatir. Tapi ... rasanya mustahil. Azam baik pada orang lain? Sulit dipercaya. Walau sebenarnya aku memang pacarnya.

__ADS_1


***


Hai, maaf aku enggak pernah nyapa. Terima kasih buat kamu yang udah rela baca cerita ini sampai sejauh ini, terima kasih banyak.


Maaf aku udah lama enggak update, pas UAS kemarin aku enggak nulis sama sekali. Terus kenapa baru update sekarang? Aku menyelesaikan dulu cerita dari lapak sebelah, hehe. Sekarang sudah tamat. Mungkin nanti akan aku publish juga di sini. Semoga ada yang berkenan mampir.


Buat yang udah nunggu cerita ini update, selamat membaca. Buat yang udah nagih, nih, aku kasih 7 chapter langsung, hehe.


Hari ini sampai di sini dulu, ya. Tunggu chapter selanjutnya di tahun 2020.


Besok tahun 2020, kan?

__ADS_1


Ekhm, happy new year. Semoga tahun 2020 lebih baik lagi dari tahun ini. Sampai nanti!


Oh, iya. Ada yang bisa menebak siapa yang ngasih obat ke Ina?🤭🤭🤭


__ADS_2