
"Assalamu'alaikum, anak cantik pulang." Ina masuk ke dalam rumah tanpa memperhatikan keadaan sekitar. Ia ingin segera masuk ke dalam kamar, rebahan di atas kasur lalu mulai membaca novel online kesukaannya seperti biasa.
"Ekhm."
Deheman itu segera menghentikan langkah kaki Ina, gadis itu mengangkat kepala dan memperhatikan ternyata di ruang tamu ada cukup banyak orang.
"Eh?" Gadis itu segera memasang senyuman malu. Sepertinya sedang terjadi diskusi penting. Ia pun menundukkan kepala dan meminta maaf.
"Aduh, siapa ini? Cantik sekali." Seorang wanita paruh baya menatap Ina sambil tersenyum lembut, membuat gadis itu tersenyum lebar.
Tentu saja, Ina sudah tahu dan sadar diri sejak dahulu kala bahwa wajahnya memang cantik. Walau tidak secetar membahenol seperti Syahrini, atau pun mampu membuat sejarah adanya hari patah hati nasional saat menikah seperti Raisa, rupanya tetap bisa dikategorikan sebagai di atas rata-rata.
"Ini anak kedua saya, namanya Ina. Sini duduk, Na!" ajak ayahnya sembari memberi kode untuk segera mengisi tempat kosong di samping tetehnya, Ani.
Ina mengangguk dan segera duduk di samping Ani, ia memberi kode meminta penjelasan pada tetehnya, tapi gadis itu hanya memberinya senyuman penuh arti tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Ina mengedarkan pandang, di ruangan ini ada ayahnya, ibunya, Ana dan Eni entah berada di mana, mungkin sudah tidur. Di hadapan mereka ada seorang lelaki jangkung dengan rambut klimis, padahal biasanya dibiarkan acak-acakan dengan alasan biar kelihatan lebih keren dan ganteng.
__ADS_1
Ia cukup mengenalnya karena lelaki itu sudah sering berkunjung, siapa lagi kalau bukan pacar tetehnya, A Rian. Setahunya cowok itu bekerja di Bandung, setiap pulang pasti menyempatkan diri buat apel ke sini.
Ina cukup menyukainya karena setiap kali apel cowok itu tidak pernah datang dengan tangan kosong, minimal martabak manis pasti ada. Dia juga orangnya asyik, enak buat diajak bercanda. Walau seringnya bekerja sama sama Ani buat ngeledekin Ina. Dasar pasangan menyebalkan.
Di samping cowok itu ada wanita paruh bayah tadi dan seorang laki-laki yang sudah cukup berumur. Ina tebak mereka adalah kedua orang tua Rian.
Ada apa ini? Tumben apelnya sampai bawa kedua orang tua segala. Kayak mau lamaran aja.
"Jadi sudah diputuskan, pernikahannya akan dilaksanakan tiga bulan dari sekarang?"
Ucapan ayahnya membuat kerutan-kerutan halus muncul di sekitar kening Ina. Siapa yang mau menikah? Dia? Tidak mungkin, Ina masih sekolah. Adiknya? Itu lebih tidak mungkin. Satu orang yang paling mungkin tentu saja hanya Ani.
Ina menatap tetehnya sambil mengangkat sebelah alis, bukankah katanya tadi A Rian cuma mau apel? Kenapa malah berubah jadi lamaran?
Dan apa katanya tadi? Tiga bulan lagi? Kenapa cepat sekali?
Ina menatap tetehnya yang kini juga sedang balas menatap matanya dengan mata berkaca-kaca. Ia belum siap berpisah dengan tetehnya. Nanti kalau Ani sudah menikah ia pasti pindah rumah, siapa yang bakal ngajak masak-masakan hampir setiap hari? Siapa yang bakal curhat tengah malam cuma karena cowoknya nge-like postingan sang mantan di Instagram?
__ADS_1
Ina mengerjap cepat, menghalau butiran air yang hampir meluncur mulus dari matanya. Ia harus tahan! Nanti setelah acara ini selesai, Ina akan menginterogasi tetehnya habis-habisan.
Enak saja main asal nikah tanpa pemberitahuan. Ina sungguh belum rela berpisah dengannya.
###
**Hai, siapa yang menunggu cerita ini update?
Maaf ya aku baru up sekarang, hamba stuck! Wkwkwk.
Karena gak punya pengalaman dalam bidang berpacaran, aku jadi bingung mau masukin scene macam apa ke dalamnya. Jadi ya gitu, interaksi Ina sama Azam jadi kurang.
Ada yang mau bantu aku? Yuk kita sharing di grup, kasih aku masukan dan ide, hehe.
Semoga besok juga bisa update lancar, ya!
Sampai jumpa**!
__ADS_1