Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
O


__ADS_3

"Udah Pulang?"


Mataku yang masih merem melek seketika lansung melotot. Aku mengerjap, lalu membaca ulang siapa pengirimnya.


Azam.


Ternyata benar-benar dia! Dengan segera aku duduk tegak dan mengetik jawaban semangat. Memangnya siapa yang enggak semangat dikirimi pesan sama pacar yang cueknya gak ketulungan. Ini yang kedua kalinya loh Azam mengirim pesan duluan. Harus dicatat sebagai hari bersejarah!


"Belum, masih di masjid agung."


Kalau dia balas huruf o, aku berjanji akan menendang bokongnya ketika bertemu nanti. Please deh, jangan bikin semangatku yang udah membara mati lagi.


Jangan o. Jangan o. Jangan o. Jangan ngeselin sekali ini aja, pintaku dalam hati.


"O."


Baiklah, nanti kalau bertemu akan kutendang bokongnya. Tapi kalau lagi sepi aja, dan waktunya tepat. Gak mungkin kan aku tendang dia waktu berpapasan di koridor sekolah ketika banyak orang yang melihat? Bukannya melampisakan kekesalan, pasti aku malah dihujat dan dicekam, terutama sama perempuan-perempuan ganjen yang dengan tidak tahu dirinya masih mendekati Azam. Padahal kan dia udah punya pacar.


Eh, lupa. Aku kan belum diakui secara publik.

__ADS_1


Anjir. Kok nyesek, ya?


Kalau udah mati begini, bukankah percuma dia ngirim pesan duluan? Dia gak punya sesuatu yang pengen diobrolkan bareng aku gitu?


Ah elah, kesel juga nih lama-lama punya pacar kayak Azam.


Eh, tapi, bukannya aku sudah komitmen mau mengubah hubungan kami biar gak kayak tukang ojek online sama pelanggannya lagi? Huft, baiklah, ayo semangat Ina! Bangkitkan sisi agresifmu!


"Kenapa emang?"


Awas aja kalau dia cuma bales dengan kata : cuma nanya. Hih.


Anjir, halu mulu dah!


Ini lama-lama aku ganti sebutan lagi, dari Ina bucin jadi Ina halu. Padahal kan aku enggak bucin, tapi kalau halu emang sering. Ah elah.


Punya pacar kayak Azam gini tuh harus sering-sering olahraga mental, biar enggak stres, depresi, dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa. Harus sabar nunggu dia yang kadang kalau di chatt balasnya bisa berjam-jam, mana kalau balas pesannya pendek banget pula. Harus jaga otak juga, biar gak terlalu sering halu bayangin dia jadi romantis. Nanti kalau terlalu sering melamun juga gak baik kan?


"Penasaran aja, soalnya hari ini kan ada latihan fisik."

__ADS_1


Hah? Latihan fisik apa?


Tunggu, maksudnya ekskul voli? Masa sih? Kok gak ada yang ngasih tahu, ya?


"Voli?"


Seriusan nih, kalau beneran ada latihan fisik sayang banget kalau aku gak ikut. Padahal biasanya kami latihan hari Sabtu. Aduh hatiku mulai gak tenang, nih. Sayang absennya!


Iya, selain karena suka, aku juga masuk ekskul voli karena bakal dapat tambahan nilai di raport buat mata pelajaran Olahraga, lumayan. Terlebih yang aku bisa cuma voli doang, jadi nilai olahragaku emang standar banget. Kalau aku gak hadir, gimana nasib nilai tambahanku?


"Iya."


Aduh, aku deg-degan nih. Seriusan ada latihan? Kok gak ada yang ngasih tahu aku, sih?


"Kapan?"


Semoga latihannya habis ashar. Jadi aku masih bisa ikutan. Soal baju gampanglah, tinggal pinjam sama Leli yang rumahnya cuma beberapa meter dari sekolah.


"Jam satu siang."

__ADS_1


Anjir! Kenapa dia gak bilang dari tadi, kenapa cuma bales o doang tadi? Aaaahh, Azam kok kampret banget sih!


__ADS_2