Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#6


__ADS_3

Selesai olahraga, Ina dan teman-temannya segera meluncur ke kantin. Membeli berbagai gorengan untuk camilan nanti di kelas. Walau saat ini masih belum lapar, tapi saat pelajaran dimulai nanti pasti langsung pengen makan. Sebuah misteri kenapa ingin menggerakkan gigi untuk mengunyah saat jam pelajaran sedang berlangsung.


Ina hanya membeli pisang goreng, sementara teman-temannya membeli minuman seduh instan berbagai rasa. Padahal mereka tahu setelah olahraga tidak boleh minum es, tapi dasar bandel, mereka tetap membelinya.


Memanfaatkan waktu bebas sepuluh menit yang seharusnya mereka pakai untuk berganti baju, Ina dan teman-temannya malah asyik nongkrong di kantin sambil menggoda anak bibi kantin yang berusia tiga tahun sampai menangis.


"Na, Yayas takut lihat wajah kamu! Jauh-jauh sana, tuh, kan, dia nangis!" Leli mendorong bahu Ina yang padahal cukup jauh dari Yayas. Gadis itu bahkan tidak berinteraksi dengan bocah imut berpipi bakpau itu, tapi ia malah disalahkan.


Ina berdecak tidak terima, "Yayas tuh nangis karena denger ocehan Ayu yang panjang pake banget gak ada titik koma kayak rel kereta tahu, bukan karena lihat wajah aku. Enggak mungkin wajah seimut aku bisa bikin bayi nangis, yang ada mereka seneng karena bisa ketemu temen yang seumuran. Kami sama-sama imut, sih."


Teman-teman Ina memeragakan ingin muntah, lalu mereka mulai sibuk saling berbalas argumen, tidak peduli pada Yayas yang saat ini tangisnya semakin kencang. Sampai akhirnya bibi kantin turun tangan, ternyata bocah itu menangis karena menginginkan permen yang sedang diemut Sopa.


Mereka tidak berhenti bercanda sampai suara bel terdengar dan guru piket menyuruh mereka untuk kembali ke kelas. Masih sambil cekikikan, Ina dan teman-temannya segera melenggang pergi meninggalkan area kantin.


Saat akan menaiki anak tangga, mata Ina tidak sengaja melihat seseorang yang juga akan menaiki tangga. Mereka saling bertatapan sejenak, sebelum Ina mendengkus kesal dan memalingkan wajah. Untunglah jarak mereka cukup jauh, saling bersebrangan dengan lapangan upacara di tengah.

__ADS_1


Ina sudah tahu tempat yang baru saja dikunjungi pacarnya itu, di mana lagi kalau bukan kursi besi di dekat toilet? Paling dia habis mainin game kesayangannya itu.


Ina masih kesal, walau mereka sudah tidak berkirim kabar selama empat hari, Azam masih terlihat biasa saja. Cowok itu seolah tidak peduli walau tidak bisa menghubungi Ina sekali pun. Ini membuat ia benar-benar kesal, apa kehadirannya setidak penting itu di mata Azam?


Rasanya ia ingin mencakar wajah tidak berekspresi Azam, atau memukul kepalanya dengan batu bata, siapa tahu kan otaknya jadi geser dan bisa berpikir seperti kebanyakan manusia normal lainnya. Ina benar-benar ingin cowok itu menghampirinya dan bertanya kenapa tidak bisa menghubungi nomor Ina. Bukannya malah diam dan bersikap seolah tidak peduli.


Argh! Dasar pacar kampret!


Ina misuh-misuh tidak jelas.


"Eh, mau pada ganti baju, gak?" Leli bertanya sambil melipat seragam putih abu-abunya, kemudian gadis itu mendekapnya di depan dada. Ia segera berdiri, siap untuk pergi ke toilet.


"Males, ah!" balas Ina sambil menempelkan pipi pada permukaan meja.


"Woy!" Soni menggebrak meja, membuat telinga Ina berdengung panjang. Gadis itu melotot ganas sambil mengusap daun telinga sebelah kanan.

__ADS_1


"SONI KAMPRET! KALAU AKU JADI BUDEK GIMANA?" amuknya tidak terkendali. Tangannya kemudian terangkat untuk mencekik si ketua kelas menyebalkan.


Soni berkelit lihai lalu mulai tertawa riang, tidak merasa bersalah sama sekali. "Bodo amat, Na! Haha. Pokoknya kalian harus ganti baju, sekarang aja ini ruangan udah bau keringat! Jangan bikin kelas kita makin berpolusi, deh!"


Ina hanya berdecak malas, lalu menatap cowok yang saat ini memang sudah berganti mengenakan seragam putih abu-abu. "Kalau aku gak mau ganti, kamu mau apa?"


Soni tersenyum lebar. "Mau aku gantiin!"


Ina bergidik ngeri, lalu membalas pedas, "Najis!"


"Assalamu'alaikum," sapa sebuah suara dari pintu. Pak Daus berjalan memasuki kelas, beliau adalah guru Sejarah Kebudayaan Islam yang akan mengajar sekarang.


Anak-anak di kelas serentak menjawab, "Wa'alaikumsalam."


Tepat setelah Pak Daus duduk, Ayu mengangkat tangan. "Pak, izin mengganti baju, ya!"

__ADS_1


Pak Daus hanya menggelengkan kepala pelan, sudah biasa dengan akal bulus anak-anak kelas XI MIA 1. Beliau hanya mengangguk pasrah. Kemudian berdecak tidak habis pikir saat yang meninggalkan kelas ternyata lebih dari separuhnya. Kebiasaan!


__ADS_2