
Ina menyikat sepatu sambil sesekali menguap, gara-gara semalam membaca novel sampai pukul dua, sekarang matanya sangat sulit diajak terbuka. Tetapi jika ia lanjut tidur, alamat sepatu dan seluruh seragamnya tidak akan bersih walau sampai kucing bertelur sekali pun.
Sudah peraturan di rumah ini, baju harus dicuci sendiri. Kecuali Ayah dan Ana tentunya, baju mereka tetap dicuci oleh ibu. Eni saja bahkan sudah belajar mencuci baju sendiri. Jika Ani atau Ina bajunya dicuci oleh orang lain, alamat ibunya bakal ngamuk dan mengomel dari mulai matahari terbit sampai tenggelam kembali. Mana bakal disindir terus selama seminggu penuh. Bayangkan saja sendiri rasanya.
"Hoam."
Sekali lagi Ina menguap, matanya benar-benar ingin tertutup. Tapi sepatunya belum selesai dicuci, lalu ada tumpukan seragam yang juga sudah menunggu untuk dicuci. Aaah, hari Minggu benar-benar melelahkan. Lebih lelah daripada hari-hari biasa.
__ADS_1
Matahari masih belum terlihat, baru ada cahaya kuningnya yang membuat langit cukup terang. Ina memang tidak mencuci di kamar mandi, tapi di halaman. Berbekalkan ember, sikat, deterjen, dan air dari selang yang biasanya digunakan untuk menyiram bunga, ia membersihkan seluruh barang-barang di sudut halaman. Tempat yang memang biasa digunakan untuk mencuci.
Ia memilih untuk mencuci lebih awal, biasanya Ani yang lebih dulu mencuci karena ia juga harus mengurus dapur, dilanjut Ina dan terakhir Eni. Tapi hari ini Ina memutuskan untuk tidur lagi setelah beres membersihkan rumah.
Hari Minggu memang hari merdekanya Nina, mama Ina. Beliau hanya tinggal mengurus Ana dan ayah. Tidak perlu memusingkan urusan rumah.
Ina kebagian menyapu dan mengepel seluruh area yang bisa disapu dan dipel, Ani kebagian masak dan mencuci piring, sementara Eni kebagian untuk menyiram tanaman dan terkadang Ina dan Eni akan bekerja sama untuk membersihkan kaca. Tapi mereka tidak melakukannya setiap minggu, hanya jika terlihat kotor saja. Tentu saja pencetus ide tersebut adalah Ina yang cukup malas beres-beres.
__ADS_1
"Teh, beresin rumah dong, aku ngantuk berat." Ina mengeluh walau tangannya tidak berhenti bekerja, membilas sepatunya, kemudian meletakkannya di tempat kering yang bersih. Nanti akan ia jemur sekalian sama baju yang sedang ia rendam dalam campuran air dan detergen.
"Hih, itu kan tugas kamu, Na! Aku cuma giliran masak sama cuci piring, ya!" Ani berkacak pinggang. "Lagian siapa suruh begadang, padahal chatt-an sama pacar aja kayak tukang ojeg online begitu."
Ina berdecih, kemudian mencibir, "Suka-suka akulah mau begadang atau enggak. Lagipula hari ini rumah kotor banget karena bekas acara lamaran semalam. Apaan yang katanya cuma mau apel ternyata malah dilamar."
Ina sengaja membalas ledekan Ani tentang chatt-annya dengan ledekan kembali, ia tidak ingin membuat tetehnya semakin tertawa kesenangan jika mengetahui betapa menyebalkannya pesan dari Azam semalam.
__ADS_1
Ani tersenyum kecil, sebelum kemudian berujar, "Cie yang masih ngambek. Pagi-pagi udah ngambek aja, dasar anak kecil. Udah ah, aku mau masak aja. Yang bersih ya nyucinya, bye-bye!"
Ani masuk ke dalam meninggalkan Ina yang kembali mengeluh karena ingin segera tidur, tapi pekerjaan sudah mengantri di depan matanya. Sungguh hari Minggu bukanlah hari yang indah.