
Acara pernikahan sudah selesai, sekarang adalah saat yang paling Ina tunggu-tunggu, apalagi kalau bukan buka kado? Ia penasaran benda apa saja yang Ani dapatkan? Selain kado, ia dan adik-adiknya juga sangat menunggu untuk bisa memakan kue pernikahan yang terlihat lezat. Tapi saat ini, mata Ina tertuju pada barisan buah-buahan yang dihias menggunakan janur atau daun kelapa yang masih muda. Ia berniat untuk mengambil buah apel merah yang sangat menggoda, jadi ia harus bersiap rebutan dengan adik dan anggota keluarganya yang lain yang masih kecil.
"Aku mau apel!" Eni berkata semangat yang membuat Ina langsung melotot.
"Enggak, apelnya buatku!"
Eni menatap Ina tidak suka, kemudian menggunakan tubuhnya yang hampir sepantaran dengan Ina untuk memblokirnya dari mendekati hiasan buah-buahan itu.
Orang-orang di sekitar mereka hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan adik kakak itu, sudah biasa melihat mereka bertengkar dan berebut sesuatu.
"Teh Ina ngalah dong, kan udah SMA!"
Wajah Ina berubah jelek, ia paling tidak suka jika harus mengalah hanya karena umur. Memangnya kalau sudah SMA dia harus terus mengalah untuk mendapatkan apa yang ia inginkan? Kalau begitu seumur-umur dia pasti akan dijajah terus oleh kedua adiknya. Ia selalu meyakini, terpisah dari kelahirannya yang lebih dulu, ia tetap berhak mendapatkan apa yang ia inginkan.
"Kamu ngalah gih, Na, udah gede ini. Nanti beli lagi aja sendiri."
Ina mendelik tidak senang pada Ani. Enak saja tetehnya itu menyuruhnya mengalah, dia tidak ingat apa kalau mereka sedang rebutan sesuatu, dia yang paling ngotot enggak mau mengalah. Dasar licik! Tetehnya itu sekarang pasti lagi jaga image di depan suaminya. Mana sok mesra banget lagi, mentang-mentang pengantin baru, duduk aja sambil gandengan. Apa gak malu dilihatin sama digodain anggota keluarga yang lain?
Ina berdecak, lalu menatap suami Ani prihatin. "A, Teh Ani sekarang nyuruh aku ngalah, tapi aku yakin, kalau nanti kalian rebutan sesuatu, dia pasti jadi orang yang paling enggak mau ngalah."
Ani melotot kesal pada Ina. "Aku kan cewek."
Ina memutar bola mata malas, setelah umur, sekarang tetehnya itu membawa gender sebagai alasan?
"Tapi kan Aa lebih muda dari teteh. Bukannya yang tua harus ngalah?"
"Kita cuma beda beberapa minggu aja."
"Tapi tetep kan teteh yang lahir duluan."
Suami Ani hanya tersenyum menanggapi perdebatan mereka.
Ana yang baru datang dari dapur mendekat dan duduk di atas pangkuan Ina.
"Teteh, Ana mau buah yang merah itu."
Ina mengernyit. "Apel?"
"Iya."
Kenapa semua orang sangat menginginkan apel?
"Tapi Teh Ina dan Teh Eni juga mau, kalau apelnya dibelah dan dikupas bagaimana?" Ina datang dengan sebuah solusi yang bisa menyenangkan semua orang.
Ana berpikir sejenak, kemudian mengangguk.
"Nah, kalau begitu, ayo kita suruh Teh Ani ngupasin apel buat kita. Kapan lagi kan dia bisa manjain adik-adiknya? Setelah pindah, ketemu aja pasti susah. Teh, kupasin ya."
Ani mengangguk dengan wajah tidak senang, adiknya yang satu ini pandai sekali berkata-kata. Ia ingat Ina seringkali memanfaatkan dirinya ketika pacarnya sedang ada di sekitar. Demi menjaga image, tentu saja Ani harus mengabulkannya. Benar-benar adik yang menjengkelkan.
Ina tersenyum senang melihat Ani benar-benar patuh jika berada di sekitar suaminya itu. Senyumnya semakin berkembang ketika melihat tumpukan kado, sepupunya sudah mengeluarkan semua kado-kado itu dari dalam kamar.
Sebenarnya Ina tahu Ani hanya ingin membukanya sendiri, tapi mama mereka menyarankan untuk membukanya sekarang meskipun dengan resiko isi kadonya diminta oleh anggota keluarga yang lain. Tapi ini sudah jadi semacam tradisi, isi kadonya akan dibagikan juga pada yang membuka.
Ina membawa Ana mendekati tumpukan kado, kemudian matanya mulai sibuk memilah kado mana yang ia ingin buka. Kado ukuran apa yang isinya paling bagus? Kado paling besar atau kado paling kecil? Tapi melihat sekilas, Ina tahu isi sebagian besar kado. Yang berbentuk persegi panjang dan ukurannya besar sampai-sampai tidak cukup satu lembar kertas kado untuk membungkusnya pasti berisi bed cover. Ini pasti hadiah dari orang-orang berada atau dekat dengan tetehnya. Kemudian ia juga bisa menebak kado-kado berbentuk persegi panjang yang agak tipis, ini pasti figura, dan yang cukup tebal pasti berisi mangkuk. Benar-benar kado yang umum, ia yakin itu adalah kado pemberian tetangga mereka. Ina pun memutuskan untuk membuka kado selain bentuk-bentuk itu. Karena kado yang isinya sudah diketahui benar-benar tidak menarik, bukan?
Mata Ina kembali menjelajahi tumpukan kado. Jika diingat lagi, bukankah Azam tadi memberikan kado pada tetehnya? Sebuah senyum manis tersungging di mulutnya, ia benar-benar penasaran dan ingin membukanya. Kalau tidak salah, bungkus kadonya tadi bermotif batik dengan warna dominan cokelat. Tapi bungkus kado itu benar-benar pasaran karena banyak yang menggunakannya. Ina jadi pusing sendiri memikirkan harus mencarinya di antara tumpukan kado yang kini menggunung itu. Ani mendapatkan kado lebih dari tiga ratus, dan lebih dari seratus kado menggunakann bungkus yang sama dengan yang digunakan Azam.
Ina pun mulai mencari dengan giat dan mengabaikan sepupunya yang lain yang sudah mulai merobek kertas kado dengan ganas. Ia jadi merasa kasihan pada kertas-kertas malang itu. Apalagi dalam prinsip Ina, ia harus membuka kado dengan hati-hati untuk menghormati pengirimnya. Karena ia juga tidak ingin melihat kado pemberiannya dibuka dengan cara tidak beradab itu.
Setelah mencari beberapa saat, Ina akhirnya menyerah. Ia pun mulai membuka bungkus kado satu demi satu. Ada berbagai jenis benda di dalamnya. Ada yang berisi kerudung, alat mandi, sandal, buku, dan lain-lain. Tidak banyak yang menarik perhatian Ina selain sandal jepit biasa yang ia minta untuk dibawa ke sekolah. Biasanya saat waktu dzuhur tiba, karena tempat wudhu dan mushola wanita berada cukup jauh, mereka harus menggunakan sandal agar sepatu tidak basah. Ina biasanya meminjam pada orang lain, kadang-kadang meminjam tanpa meminta izin karena tidak tahu itu milik siapa. Sandal di waktu sholat itu benar-benar bagai cowok ganteng di depan banyak perempuan, jadi rebutan. Ina harus jago menyalip orang-orang yang sedang antre untuk meminjam sandal. Sedihnya, jika pemilik sudah selesai dan ingin kembali ke kelas, sandal mereka tetap ditahan dan harus rela nyeker alias berjalan tanpa alas kaki.
Ina berpikir untuk menyimpan sandal jepit ini di kolong mejanya di kelas, jadi setiap mau ke WC bisa langsung dipakai, ia juga tidak akan membawanya pulang karena terlalu berat dan ribet. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana agar orang lain tidak meminjam sandalnya, terutama teman-temannya yang suka meng-hak milik barang orang lain.
"Wah, yang ini isinya kerudung sama botol minum." Anis berteriak heboh yang menarik perhatian sepupu-sepupunya yang masih kecil. Mereka pasti sangat tertarik untuk memiliki botol itu.
Ina tidak peduli dan terus membuka kado yang lain. Botol minumnya masih bagus dan ia malas rebutan dengan anak kecil, nanti dikira dirinya juga sangat kekanak-kanakan.
"Lihat, gambar tikusnya lucu." Eni terdengar mendambakan botol itu.
__ADS_1
Ina jadi penasaran, seberapa bagus sih botol itu sampai jadi rebutan? Ternyata hanya botol biasa dengan warna dasar biru muda, dan di badan botolnya ada gambar pasanga Mickey Mouse yang sedang berlindung di bawah air hujan menggunakan daun besar. Bentuknya sendiri juga pasaran, Ina heran kenapa mereka sangat heboh hanya karena hal biasa itu.
"Lihat, ada kertas di dalamnya." Eni kembali berteriak.
Anis pun membuka tutup botolnya dan mengambil kertas itu. Tulisannya sangat singkat, padat, dan jelas.
"Buat Ina?"
Kening Anis mengernyit, apa pengirimnya salah menulis nama? Yang menikah Ani, kenapa jadi Ina yang dikasih kado? Apa orang ini sedang melindur?
Mendengar ucapan Anis, Ina kembali melihat botol itu dan kertas kado yang digunakan untuk membungkusnya. Sepertinya dia tahu siapa pengirimnya, tapi kenapa cowok itu malah memberi sesuatu untuknya? Kenapa botol minum? Dan ada apa dengan gambar tikus? Meskipun Mickey Mouse lucu, tetap saja itu tikus.
Ina segera bangkit dan menyambar botol minum itu.
"Ini buat aku," ujarnya sebelum kabur ke dalam kamar, meninggalkan protesan adik serta sepupunya yang menginginkan benda itu.
Ina mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian memotret benda itu dan mengirim gambarnya kepada Azam.
"Ada apa dengan tikus?"
Ina memutuskan untuk membuka grup kelasnya untuk menyapa mereka dan menunggu balasan dari Azam.
"Besok ada PR?"
Balasannya datang tak lama kemudian, teman-temannya mulai ribut karena ia tiba-tiba membahas PR. Mereka juga berisik meminta kakaren alias sisa-sisa hajatan dan memaksa Ina untuk membawanya besok. Ia jadi menyesal menyapa mereka.
"Banyak karet gelang sisa bungkus kotak nasi mau?"
Protesan kembali datang dari teman-temannya dan meminta ia membawa makanan. Tiga puluh menit kemudian ponselnya berdering, ada telepon masuk dari Azam.
"Halo?"
"Suka gak botol minumnya?"
Ina mengernyit, ia tentu senang mendapat hadiah dari pacar yang ia sukai, tapi ia masih belum mengerti kenapa cowok itu memberikannya padanya.
"Hm, suka, makasih. Dalam rangka apa kamu ngasih aku itu?"
Ina kembali mengernyit, ia memperhatika gambar Mickey Mouse dengan saksama. Tapi tidak bisa mendapatkan apa-apa selain ingat pada adegan di drama Korea yang ia tonton bersama Ayu, yaitu sepasang kekasih yang menggunakan satu payung bersama saat pulang sekolah dalam keadaan hujan. Ina akui adegan itu cukup romantis, tapi tentu saja ia tidak akan pernah mengalaminya. Rumahnya dan Azam tidak di area yang sama dan bahkan mereka belum pernah pulang bersama selain ketika cowok itu mengantarnya pulang ketika ia sakit. Dan kalau pun hujan saat pulang sekolah, ia tidak akan menggunakan payung karena naik angkot. Paling hanya ketika turun dari angkot untuk mencapai rumahnya yang cukup jauh dari jalan raya.
"Apa? Aku cuma ingat kalau kucing tetanggaku sangat jago menangkap makhluk satu itu. Apalagi tikus di daerah sini benar-benar tidak imut. Mereka bahkan sering lewat di depanku ketika aku sedang berjalan. Aku rasa tikus got benar-benar tidak takut pada manusia?"
Tidak ada balasan dari Azam untuk waktu yang cukup lama. Ina jadi menyayangkan kuota yang mereka pakai untuk teleponan ini jika cowok itu hanya diam, lebih baik menggunakannya untuk membaca novel online, bukan?
"Halo?"
"Ah, maaf, aku sedang mengerjakan soal."
Ina memutar bola matanya malas, kalau sedang belajar, kenapa cowok itu malah meneleponnya?
"Ya udah, lanjutin belajar aja. Aku mau lanjut buka kado lagi."
"Bentar, ini satu soal lagi."
Ina pun menyetujuinya dengan pasrah dan menunggu kembali selama beberapa menit.
"Ah, tadi kita bicara soal apa?"
Suara Azam kembali terdengar ketika nyawa Ina sudah setengah terbang.
"Tikus, kamu inget apa sih pas lihat makhluk kecil itu?"
"Kamu."
"Hah? Bagian mana dari seorang Ina yang mirip tikus? Kamu mau ngeledek aku lagi?" Nyawa Ina kembali ke tubuhnya dengan cepat dan ia sudah siap untuk baku hantam.
"Nah, kan. Kamu beneran mirip tikus."
"Apanya?"
__ADS_1
"Suara."
"Hah? Aku masih gak mudeng. Suaraku gak mirip suara tikus kali."
"Emang enggak."
"Terus yang mirip apanya? Katanya tadi suara!" Ina lama-lama bisa terkena darah tinggi jika terus berbicara dengan Azam.
"Berisik, suara kamu berisik kayak tikus."
"Gelut, yuk. Aku siap bawa golok nih."
Cowok itu tergelak, membuat amarah Ina semakin memuncak.
"Beneran. Tikus ganggu banget kalau bersuara pas tidur."
"Kalau gitu, ngapain kamu telepon aku? Bukannya suaraku berisik dan ganggu kayak tikus?"
Ina benar-benar kesal. Jika cowok itu ada di hadapannya, sudah ia lempar pakai sepatu Eni yang jarang dicuci. Biar masuk rumah sakit sekalian karena overdosis bau busuk.
"Tapi kamu tahu enggak?"
"Enggak," balas Ina ketus. Ia sudah tidak peduli lagi dengan perkataan sampah pacarnya itu. Paling juga mau meledek lagi.
"Suara tikus itu bisa kedengeran meskipun aku gak tahu tikusnya ada di mana."
"Terus?" Ina membalas tanpa minat.
"Sama kayak kamu, pas di sekolah, meskipun aku enggak bisa lihat kamu, aku tahu kamu dekat karena suara kamu selalu terdengar."
Ina mengernyitkan kening. Azam sedang memuji atau meledeknya? Bukankah cowok itu sekarang hanya menyatakan kalau ia suka berbicara dengan volume keras di sekolah?
"Ini kamu lagi ngegombal atau apa?"
"Iya."
"Oh, kamu gagal kalau begitu, soalnya aku enggak ngerasa meleleh sedikit pun."
"Hm, kamu tahu? Meskipun suara kamu berisik kayak tikus dan cukup mengganggu konsentrasi, aku enggak membencinya."
"Intinya?" Ina bertanya sambil mengorek telinga dengan wajah bosan. Kemudian meniup kelingking yang baru saja ia gunakan untuk menggali kotoran itu.
"Intinya, aku seneng denger suara kamu, sampai-sampai aku gak bisa bayangin kalau suatu hari aku bakal baik-baik aja tanpa suara kamu."
Oke, Ina kalah. Ia mengaku KALAH. Ia memang tidak bisa melawan omongan manis Azam. Tanpa digombali aja dia udah kesengsem, sekarang digombalin begini, ia merasa seperti suasana hatinya akan baik-baik saja meskipun kakinya yang memakai sepatu baru menginjak kotoran kerbau di pinggir jalan. Ia mungkin juga akan tersenyum bahagia bagai orang idiot.
"Gimana? Sekarang kamu udah meleleh belum?"
Ina menjawab dengan suara malu-malu dan penuh perasaan bahagia.
"Iya."
"Hm, berarti enggak sia-sia aku baca artikel gombalan receh itu dari google."
Seketika Ina kehilangan semua rasanya. Ia memanggil Azam dengan suara lirih.
"Azam."
"Iya?"
"Seenggaknya biarin aku seneng lebih lama! Kenapa kamu jujur banget itu hasil nyontek!" Suara Ina penuh dengan deraian air mata imajinasi.
"Tapi bohong itu dosa."
"Iya, Zam, aku tahu itu. Aku tahu bohong itu dosa. Dan sekarang aku pengen jujur sama kamu, aku berdoa semoga kamu punya bisul gede di pantat pas bangun nanti!"
Ina pun segera memutus sambungan mereka. Beberapa saat kemudian pesan masuk dari Azam datang.
*Cie marah. Tapi aku beneran loh suka suara kamu, apalagi kalau denger kamu lagi marah-marah.
__ADS_1
Marahnya jangan lama-lama, ya, nanti aku kangen*.
Bodo amat, Zam. Bodo amat. Ina memutuskan untuk menonaktifkan ponselnya dan tidur.