
Sambil menyuap es doger, pikiranku pergi lagi ke Azam. Dia sedang apa, ya? Aku melihat jam di ponsel, pukul 11.45 WIB. Pacarku itu pasti sedang Jumatan. Andai dia Jumatannya di masjid agung, kan aku jadi punya kesempatan buat ketemu. Tapi itu tidak mungkin, aku sudah melihatnya pulang bersama A Akbar tadi.
Aku mengecek ponsel yang sepi tanpa pesan. Beginilah nasib punya pacar rasa jomlo, hp tetap aja sunyi.
Ah, kenapa aku bego sekali?
Dengan cepat aku membuka obrolan grup kelas, lalu mengirim pesan di sana.
"Panggilan kepada Ayu, Leli, Sopa, Septi! Dicariin cewek cantik!"
Tak lama kemudian hpku tidak berhenti bergetar.
"Cewek cantik siapa?"
"Kamu di mana kampret? Aku cariin dari tadi!"
"Inaaaa!!!! Jangan suka ngilang gini deh, bikin kaget aja!"
"Kamu di mana, Na? Biar aku samperin ke sana."
"Berisik! Aa Soni lagi Jumatan, nih!"
"Jumatan kok sambil pegang HP, fokus sama yang khutbah sono!"
__ADS_1
"Berisik, woy!"
Begitulah kira-kira percakapan yang terjadi dalam grup kelas. Mereka kalau sudah mulai aktif suka susah berhenti. Paling rempong sih keempat temanku, mereka menanyakan pertanyaan yang hampir sama, di mana aku berada.
Malas membalas satu-satu, aku menjawabnya di grup kelas langsung.
"Taman kota, di bawah payung merah. Sini!"
Tapi tidak sesuai harapan, yang balas malah anak cowok.
"Ini si Ina kode minta disamperin, ya?"
"Tunggu, Na! Aku masih Jumatan!"
Hih. Emang pada kampret ya teman-teman sekelasku itu. Aku terus berkirim pesan sampai beberapa langkah kaki terdengar semakin dekat dan berhenti di satu undakan tangga di bawah tempat aku duduk.
Ayu naik dan mulai mengomel, "Kamu itu, ya, kalau mau pergi bilang dulu! Kita kan jadi kaget ngira kamu diculik. Walau gak mungkin sih ada yang mau nyulik cewek bucin kayak kamu! Nyusahin aja!"
Kampret banget nih emang si Ayu.
"Wah, es doger! Beli di mana?"
Aku menunjuk ke perempatan, eh, sekarang jadi pertigaan karena jalan antara masjid agung dan taman kota ditutup. "Di sana."
__ADS_1
"Ah, jauh," ujar Leli kecewa, "minta dong!"
Ujung-ujungnya gak mau modal sendiri. Aku memberikan gelas es doger pada Leli, lantas menatap teman-temanku bingung.
"Mau kapan ke MP-nya?"
"Nanti aja kalau habis dzuhur, gimana? Kita sholat dulu biar puas mainnya," saran Sopa yang langsung kuangguki, setuju.
"Oh, iya, aku penasaran, gimana nasib hubungan kamu sama Azam, Na?" tanya Septi dengan wajah yang mengeluarkan aura siap bergosip.
Aku meringis, lantas menjawab, "Ya gak gimana-gimana, masih kayak dulu."
"Masih chattan kayak tukang ojeg online sama pelanggannya?" Sekarang Leli yang bertanya penasaran, es doger sudah berpindah dari tangannya ke Ayu. Memang dasar pada gak mau modal ya mereka itu.
"Kenapa gak putus aja, sih, Na?" tanya Septi yang membuat hatiku cukup kesal, "Aku kalau jadi kamu pasti gak bakal kuat. Dicuekin tiap hari dan harus bertingkah agresif."
"Nah, benar tuh, Na! Aku juga dukung banget kamu putus sama si Patung nyebelin itu!" Ayu juga tidak ingin kalah ikut-ikutan.
Aku hanya tersenyum masam. Kadang suka heran, kenapa mereka ingin sekali ikut campur urusan orang. Jadi ingat pas kelas X dulu, teman cowokku di kelas ada yang namanya Aman, dia pacaran sama anak SMP. Terus kata teman-temanku ini ceweknya dekil, kucel, gak rapih, dan bikin ilfil. Mereka dukung banget si Aman putus, karena menurut mereka masih banyak cewek yang lebih baik.
Sayangnya, cewek yang lebih baik emang banyak, tapi yang mau sama Aman gak ada. Aku misalnya, aku kan cantik, manis, sopan, rajin, dan gak suka neko-neko. Tapi hatiku udah terkunci di Azam, gak bisa buka lowongan lagi. Padahal si Aman ini baik banget, bucinnya kebangetan maksudku.
Kata teman satu SMP-nya, dia bahkan rela beliin oleh-oleh sampai Rp. 400.000 buat gebetannya, gila gak tuh. Uang segitu lumayan kalau buat beli sepatu baru bisa dapat empat. Orang kaya mah emang beda sih, ya.
__ADS_1
Tapi entah karena karma atau apa, itu bocah satu jadi jomlo terus sampai sekarang.