
Chapter ini aku dedikasikan untuk Kak Ra_Noura, makasih banyak udah dukung cerita Ina Azam sampai sekarang. Big love buat kakak💕💕💕
Buat yang udah baca cerita ini juga, terima kasih💕💕💕 Semoga kisah mereka bisa menghibur, ya!
Selamat membaca!
***
"Kamu ... cemburu?"
Aku benar-benar tidak menyesal mengatakannya. Tidak peduli apakah Azam akan marah, aku hanya ingin tahu reaksinya. Aku akan sangat senang jika dia benar-benar cemburu. Bukankah itu artinya dia benar-benar suka padaku? Ih, aku jadi deg-degan menunggu jawabannya.
"Kata siapa, gak mungkin aku cemburu," ujarnya sambil membuang muka. Membuatku kecewa. Yah, memangnya apa yang bisa aku harapkan dari seorang Azam? Cemburu? Nunggu kucing bertelor dulu, deh, mungkin baru dia tahu apa yang namanya cemburu.
Udah, Na. Mulai sekarang jangan berharap terlalu tinggi lagi. Apalagi berharap sama Azam. Bisa-bisa kamu terjun ke dasar bumi langsung tanpa tahu indahnya langit. Ngenes abis.
Tetapi, saat aku melihat lebih jeli, telinganya mulai memerah, membuat aku jadi yakin dugaanku benar. Azam benar-benar cemburu. Ya Allah, aku jadi pengen jingkrak-jingkrak saking senengnya! Fix, dia pasti cemburu!
Duh, Azam kok jadi manis banget gini, sih? Aku kan jadi pengen godain.
__ADS_1
Aku beringsut mendekatinya, lalu mencolek lengan atasnya. "Kamu cemburu, kan? Iya, kan?" tanyaku dengan nada menggoda.
Azam menjauh, tidak melihatku sama sekali. "Enggak," balasnya terdengar tidak suka. Duh, aku jadi semakin ingin menggodanya. Tiba-tiba saja jiwa jailku bangkit, pengen banget rasanya bikin dia malu. Biasanya kan aku yang malu pake banget, sekarang aku pengen dia malu sampe gak bisa lihat wajah aku lagi. Sebut saja ini jurus rahasia: langkah balas dendam Ina! Aih, gara-gara minggu kemarin baca novel fantasi pikiranku mulai kebawa-bawa fantasi, kan!
Pantes aja pas di novel-novel kayaknya seru banget kalau lihat cowoknya cemburu, sampe digodain habis-habisan sama si tokoh utama ceweknya. Ternyata begini rasanya. Menyenangkan banget! Mana ini Azam yang gak pernah punya ekspresi pula yang cemburu, duh, sayap mana sayap? Kok aku jadi pengen terbang.
Aku kembali beringsut mendekat dan mencolek bahunya. "Cie, cemburu, cie. Ayo ngaku aja. Gak usah malu-malu kucing begitu."
Azam kembali menjauh, menyebabkan botol air mineral terjatuh dan menggelinding ke tanah. "Na, jangan ngeselin, deh!"
Kenapa kalau udah mulai menggoda gini suka susah berhenti? Aku masih belum mau melepaskan kejadian langka ini. Kapan lagi, kan, Azam bisa bertingkah semanis ini? Siapa yang tahu di masa depan kalau dia lagi cemburu jadi gak manis lagi? Kan sayang banget.
Tapi kejadian yang tidak pernah aku bayangkan terjadi, Azam menarik tanganku dan menatapku tajam, membuat bulu kudukku merinding ketakutan. Duh, itu matanya nyeremin abis. Boleh kucolok aja, gak? Aku jadi kayak patung yang gak bisa gerak saking ngerinya. "Sekali enggak, ya, enggak!" ujarnya penuh penekanan.
Aku mencoba menarik tanganku dan menatapnya takut, Azam nyeremin banget kalau lagi marah! Jadi nyesel dulu pernah berharap lihat dia marah. Sekarang aku jadi gak mau lihat lagi. Emang mental tempe gadis yang namanya Ina, tuh! "Uh, baiklah, kamu gak cemburu!" ujarku berusaha kabur dari tatapan mengerikannya. Terlebih tanganku mulai terasa sakit karena dicengkram terlalu kuat. "Le-lepasin! Sakit!"
Seolah tersadar, mata Azam kembali normal. Ia melepaskan tanganku dan membuang muka. "Maaf," ujarnya, "gak maksud."
Aku mengangguk cepat walau gak ngerti apa yang dia maksud dengan gak maksud, lalu mundur menjauhinya. "Kamu nyeremin," ujarku tanpa sadar. Membuatku ingin memukul mulutku sendiri yang kadang lupa rem di saat yang tidak tepat. Kalau Azam makin marah gimana? Bisa-bisa keluar sinar laser tuh dari matanya, terus tubuh aku tercabik-cabik sampai habis. Kan ngeri banget. Aku belum mau mati.
__ADS_1
"Maaf." Azam menundukkan kepala. Dia mengambil botol air minum yang tadi menggelinding, membersihkannya sebentar, lalu membuka tutup botolnya. "Ini," ujarnya sembari mengangsurkan botol itu padaku. Uh, ternyata responnya tidak sesuai pikiran jahatku. Sepertinya aku harus mulai berhenti berpikiran buruk tentang Azam.
Aku menerimanya, lalu segera menegak airnya hingga hanya tersisa setengah. Tadi benar-benar mengerikan! Untunglah jantungku masih sehat dan enggak copot dari tempatnya. Kalau sampai copot kan berabe, apalagi kalau Azam gak bertanggung jawab. Bisa mati kesepian aku.
Kami hanya berdiam diri di sana selama beberapa saat, sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga suara perutku yang memalukan terdengar.
Kruyuk.
Aku meringis malu, menatap Azam yang kini juga sedang menatapku. Ia bangkit, dan menawarkan tangan kanannya untuk membantuku bangun. Aku menerimanya dengan jantung berdebar-debar. Uh, ini kontak fisik kami untuk yang pertama kalinya! Hari ini benar-benar harus masuk sejarah! Fix, nanti setelah pulang dari sini aku akan membuat buku catatan cinta. Isinya cerita tentang kisah cintaku dan Azam. Sejak jadian sampai nanti menua bersama. Cielah. Emangnya aku mau apa menghabiskan waktu bareng cowok tanpa ekspresi kayak dia? Kok bayanginnya jadi males, ya?
Tapi, kalau misal tuh catatan cinta jadi kayak novel gitu, terus laku keras di pasaran, apalagi sampai difilmkan, kayaknya enak deh. Lumayan duitnya bisa buat jajan.
Kami berjalan beriringan. Aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Tidak menyangka. Jika tadi kami berdampingan dengan langkah cepat, sekarang kami berjalan dengan langkah santai. Azam melambatkan langkah dan menyamai langkah kakiku. Ini baru kencan kayak di novel!
Ah, aku baru sadar, jadi tingkah anehnya tadi karena dia cemburu? Ternyata ... dia menyebalkan sekali saat cemburu. Tapi, kok, sekarang rasanya tingkah dia benar-benar manis, ya? Padahal aku berharap bisa punya pacar bucin, tapi kenapa malah aku yang bucin?
Ah, tapi tidak apa-apa. Setidaknya sekarang aku tahu, Azam benar-benar menyukaiku. Dan sekarang, dia sudah benar-benar mengakuiku sebagai pacar. Aku sadar ada beberapa temanku dari sekolah yang lewat tadi, pasti besok berita ini akan menyebar di sekolah.
Aku benar-benar ... senang!
__ADS_1
Aku baru tahu Azam bisa cemburu dan bersikap manis juga. Rasanya, bisa menjadi pacar Azam tidak terlalu buruk juga. Akhirnya kisahku dan Azam sebagai sepasang kekasih benar-benar bisa dimulai!