
Jika benar yang tadi adalah mojok, ia akan menjawab dengan lantang kalau mojok itu lumayan menyenangkan. Azam berhasil menghapus rasa kesal yang sudah ia pendam selama satu minggu ini hanya dengan satu kalimat yang keluar dari mulutnya.
Ah, sekarang Ina merasa dirinya terlalu bersikap murah hati pada sang pacar. Apa sebagitu sukanya ia sampai seluruh rasa kesalnya langsung terhapus hanya dengan satu kata kangen? Tapi mau bagaimana lagi, kenyataan menamparnya. Ia benar-benar tidak bermasalah akan rasa kesalnya yang hilang dan digantikan oleh kebahagiaan yang membuncah.
Satu per satu teman-temannya menyuarakan pertanyaan, tapi tidak satu pun dari mereka yang memberikan kesempatan bagi Ina untuk menjawabnya. Sekarang gadis itu hanya bisa mengerutkan kening dengan hati dongkol. Apalagi ketika Soni si ketua kelas yang hobi bolos itu bergabung dalam percakapan.
"Kalian enggak comot-comotan, kan?" Soni menaik turunkan alisnya seperti om-om pedofil yang sedang menggoda anak di bawah umur. Hal ini tentu saja mengundang decak jijik dari para gadis di sekitarnya, termasuk Ina. Gadis itu memang tidak mengerti apa maksud dari 'comot-comotan', tapi ia yakin itu bukanlah sesuatu yang baik.
__ADS_1
"Apa itu comot-comotan, Son?" Septi bertanya dengan polosnya. Hal ini membuat Soni menyeringai. Tapi sebelum cowok tengil itu mengeluarkan suara untuk menjawab, Ayu segera bertanya mengalihkan perhatian. Gadis cerewet itu tidak ingin mendengar apapun dari mulut si ketua kelas yang bisa saja mencemari pikiran sucinya.
"Na, tadi si patung ngomongin apa aja? Kalian enggak berantem, kan? Aku lihat dia pulang masih dengan wajah tripleknya itu."
Ina mengerjap sebentar, otaknya mulai memutar kejadian tadi saat Azam mengatakan kangen padanya secara otomatis. Ingatan itu terus berulang-ulang bagai kaset rusak. Hal ini berhasil membuat mood Ina membaik, ia pun tersenyum lebar pada sang sahabat.
Ina kemudian meminta Ayu untuk melakukan sesuatu yang cukup mengejutkan. Gadis itu masih belum percaya sepenuhnya akan apa yang terjadi tadi. "Yu, cubit pipi aku coba!"
__ADS_1
Ayu menatap Ina heran, tapi tangannya tetap terangkat dan menarik pipi gadis itu sekuat tenaga. Membuat Ina segera berteriak keras minta dilepaskan. Gadis itu memang ingin memastikan hal tadi kenyataan atau bukan, tapi kalau dicubitnya sekeras itu ia juga tidak rela. Tenaga Ayu bukan tenaga kalengan saat digunakan untuk melakukan hal menyebalkan seperti mencubit.
Ina mengusap-usap pipi yang ia yakin berwarna merah, tapi kemudian senyumnya segera terbit semakin lebar. Ia bahkan mulai tertawa terbahak-bahak. Jika cubitan Ayu sesakit ini, kejadian tadi berarti nyata. AZAM BENAR-BENAR MENGATAKAN KANGEN PADANYA! Subhanallah, Ina sangat senang! Kalau bisa ia ingin guling-guling di tengah lapangan sekarang. Tapi Ina menahan diri karena tidak ingin disebut sebagai cewek stres.
Ayu dan teman-temannya yang lain seketika menjauh dari Ina. Apa gadis itu kesurupan jin toilet? Kenapa sekarang dia bertingkah bagai orang gila.
"Na," panggil Ayu sedikit ngeri, "kamu sehat, kan? Tadi enggak diapa-apain sama Azam, kan? Ayo jawab jujur, si patung itu ngapain kamu sampai ngerubah kamu jadi gila gini?"
__ADS_1
Ina hanya memelankan tawanya, lalu berhenti untuk menjawab pertanyaan Ayu dengan sebuah kata yang cukup menyebalkan. "Kepo!" Ina lalu mulai beranjak dan menari-nari di tengah lapangan. Ia benar-benar tidak bisa menahan euforia ini. Jadi gadis itu tidak memikirkan lagi tentang pandangan orang padanya. Ina hanya ingin meluapkan perasaan senangnya. Melihat tingkah Ina yang seperti itu membuat teman-temannya yakin gadis itu memang kerasukan.