Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#30


__ADS_3

Azam terbatuk saat membaca balasan dari sang pacar, ia tidak menyangka ternyata Ina punya sisi ini juga. Sepertinya gadis itu sedang kesal, tumben juga dikeluarkan kesalnya. Biasanya pasti hanya disimpan dalam hati. Terkadang hanya menatapnya dengan tatapan ingin mencabik-cabik yang bukannya membuat ia ngeri, malah merasa Ina sangat lucu.


Tak bisa Azam pungkiri, setiap melihat atau membayangkan wajah kesal gadis itu selalu berhasil membuatnya senang. Ia suka tak kala Ina selalu memikirkannya, walau dengan suasana hati yang tidak baik. Mungkinkah ini yang disebut masokis?


Azam menggelengkan kepala, mengubah posisi telungkup menjadi menyamping, lalu mulai mengetik balasan untuk Ina.


"Biar enggak diblokir lagi sama seseorang."


Azam tertawa kecil, mungkin sudah saatnya ia mulai berubah. Jangan terlalu menyebalkan lagi. Mungkin irit bicaranya memang sulit diubah, tapi kalau di chatt ia masih bisa membalas cukup panjang. Lagipula ... Tasik tidak seburuk itu. Ia juga sekarang sudah bisa berbicara bahasa Sunda. Jadi tidak ada alasan lagi baginya untuk terlalu pendiam. Apalagi sebentar lagi ia akan lulus dan mungkin saja kembali ke Jakarta. Ia akan berusaha membuat kenangan terakhir yang cukup baik.


Azam juga tidak tahu apakah setelah lulus nanti hubungannya dengan Ina akan baik-baik saja atau tidak. Mungkin saja putus, atau bisa juga tetap lanjut dengan resiko jarang bertemu.

__ADS_1


"Ha! Siapa suruh nyebelin banget! Mulai sekarang pokoknya gak boleh irit-irit lagi! Apaan cuma bales Y atau O doang, kayak lagi belajar alfabet aja. Aku bakal berusaha buat ngungkapin apa yang aku rasakan, jadi tolong keluarkan juga apa yang kamu pikirkan."


Azam tersenyum kecil, permintaan Ina bisa dibilang cukup dewasa. Apa gadis itu baru selesai membaca novel-novel halu kesukaannya? Dasar, dia itu terlalu mudah terpengaruh. Mungkin sebaiknya ia larang Ina agar tidak terlalu sering membaca novel? Sepertinya cewek itu lebih banyak menghabiskan waktu membaca novel online ketimbang baca buku pelajaran.


Akan tetapi, tak bisa Azam pungkiri, perubahan yang Ina inginkan saat ini memang baik untuk hubungan mereka. Ia merasa sedikit bersalah karena memacari gadis itu hanya demi kesenangannya. Sebelum lulus, ia akan mencoba untuk menjadi pacar yang baik. Walau tidak janji menjadi sebaik pacar normal biasa.


"**Aku suka."


"Hah**?"


"Kamu."

__ADS_1


"Hah? Maksudnya kamu suka sama aku?"


Iya. Suka untuk menjahili. Azam mengetik sambil menahan tawa. Ia sudah mulai membayangkan apa yang akan gadis itu rasakan saat membaca pesannya. Ekspresi apa yang akan gadis itu pasang? Kesal? Ingin menjedotkan kepala ke tembok? Ingin mencabik-cabiknya? Ia sungguh ingin melihatnya.


"**Aku suka sama ... usulan kamu."


"Asdfghjkl. Kmvrt. Mati aja lu sono**!"


Azam tertawa ngakak, Ina kehilangan kesabaran. Gadis itu bahkan sampai menggunakan kata lo yang belum pernah ia dengar. Entah apa yang sedang gadis itu lakukan sekarang? Memukul bantal? Membanting ponsel? Atau menggigit ujung meja belajar?


Tetapi tetap saja, Azam masih belum puas untuk menjahili sang pacar.

__ADS_1


"**Serius kamu mau aku mati? Nanti kamu jadi jomlo, dong. Aku tahu enggak pernah ada yang nyatain suka sama kamu sebelumnya."


"BODO AMAT! MATI AJA SANA! TUNGGUIN AJA BENTAR LAGI SANTET ONLINE YANG AKU KIRIM BAKAL DATANG**!"


__ADS_2