Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#2


__ADS_3

Ina mempercepat langkah kala melihat lapangan sudah penuh dengan orang-orang yang berbaris. Ia segera menyusup ke barisan paduan suara ketika melihat protokol siap memulai upacara. Gadis itu tidak peduli meski harus berbaris bersama kakak kelas, yang penting ia bisa bebas hukuman nanti setelah upacara selesai.


Ina berdiri di barisan paling belakang, dekat tembok pembatas. Jika pegal nanti, ia berniat untuk bersandar. Toh tidak akan ada yang memperhatikan. Terlebih banyak kakak kelas yang melakukan itu, jadi anggap saja ia meniru kelakuan buruk kakak kelasnya.


Setelah menenangkan detak jantung yang berpacu lumayan keras karena habis berlari, barulah gadis itu sadar di mana ia berada sekarang. Ina ingin mengumpat dan menangis, tapi tidak ada satu pun air mata yang keluar. Ia hanya bisa memasang ekspresi buruk.


Kalau tahu akan begini, lebih baik tadi dia memilih berbaris di belakang petugas upacara saja. Paling banyak hukumannya hanya disuruh hormat ke bendera selama satu jam pelajaran. Sekarang gadis itu mulai mengumpati tetehnya yang meminta berangkat bareng tapi malah memasak dulu untuk bekal makan siang. Walau ia jadi kecipratan membawa bekal, Ina benar-benar tidak ingin berada di sini sekarang.


Ina tidak ingat jika minggu ini giliran kelas XII IPS yang menjadi petugas upacara. Entah itu XII IPS berapa, tapi yang pasti yang menjadi paduan suara adalah kelas XII jurusan IPS. Gadis itu meringis, ia datang kesiangan dan harus rela berdiri di tempat yang tersisa. Sialnya, tempat itu adalah batas antara barisan laki-laki dan perempuan. Ina tidak terlalu peduli pada kakak kelas perempuan yang menatapnya heran karena berbaris di sana, ia hanya tersenyum dan mengatakan ingin numpang baris. Kakak kelasnya hanya mengangguk maklum karena kejadian seperti ini sudah biasa.

__ADS_1


Hal yang membuat Ina ketar-ketir adalah orang yang berdiri di samping kirinya, sesosok cowok jangkung yang membuat ia harus sakit leher demi melihat wajah tampannya. Cowok ngeselin yang kemarin membuat Ina hilang kesabaran dan ingin memutilasinya menjadi potongan-potongan kecil. Siapa lagi kalau bukan pacar kampretnya, Azam?


Ina hanya bisa menunduk dan berharap Azam tidak menyadari keberadaannya walau ia tahu itu tidak mungkin. Ia hanya berharap imannya masih kuat untuk tidak membuat tinju melayang ke perut cowok itu. Ina marah! Cowok yang saat ini berstatus sebagai pacarnya itu seolah tidak peduli walau kemarin sudah membuatnya kesal, ia bahkan tidak mengirim satu pun pesan padanya.


Ah, salahkah Ina jika berharap cowok ini mati saja karena digigit nyamuk?


Hari ini giliran kelas XII IPS 2 yang menjadi petugas upacara, kelasnya Azam. Cowok itu diminta untuk menjadi petugas, tapi langsung ia tolak tanpa pikir panjang. Banyak anak kelas yang mengeluhkan kelakuannya, tapi Azam tidak peduli. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian.


Akan tetapi, Azam berbeda dengan Akbar. Sahabatnya itu dengan semangat 45 mengajukan diri menjadi ajudan upacara. Karena itulah Azam harus rela berangkat pagi jika masih ingin nebeng. Ia sengaja baris di barisan belakang. Awalnya ia menolak berdiri di barisan dekat perempuan, Azam tidak suka dengan kelakuan mereka yang sering kali kelewat ganjen untuk menarik perhatiannya. Bukannya suka, ia malah risih.

__ADS_1


Untungnya, barisan di sampingnya kosong karena jumlah perempuan ganjil. Para perempuan itu ingin berebut berdiri di sampingnya dengan alasan tutup barisan, tapi karena mereka terlalu ribut, guru menyuruh untuk mengosongkan tempat itu. Hal ini membuat Azam benar-benar senang.


Sebenarnya ia bisa saja pindah ke barisan lebih depan, tapi Azam ingin berada di belakang. Ia ingin memperhatikan seseorang yang biasanya berada di barisan belakang juga. Cowok itu sudah berkali-kali melirik ke arah barisan kelas XI, tapi ia sama sekali tidak menemukan orang yang dicari. Apa mungkin gadis itu tidak masuk? Pikirnya bingung.


Di saat ia masih memikirkan keberadaan gadis yang saat ini berstatus sebagai pacarnya, seseorang mengisi tempat kosong di samping kanannya. Azam ingin mengumpat dan akan menatapnya tajam, tapi urung saat melihat ternyata dia adalah orang yang sejak tadi dicarinya.


Cowok itu tersenyum tipis sebentar, lalu wajahnya kembali datar. Jika tidak diperhatikan secara teliti, orang pasti tidak akan tahu jika Azam baru saja tersenyum. Bukan ia tidak ingin mengumbar kebahagiaan, Azam hanya tidak suka orang-orang merecoki urusannya. Karena bagi Azam, hal sederhana seperti ini pun sudah cukup. Berdiri berdampingan walau tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Azam hanya tidak tahu, gadis di sampingnya ingin membunuhnya dengan cara tersadis yang bisa dia pikirkan.

__ADS_1


__ADS_2