
"Yang, nanti kalau aku kangen gimana?"
Ina mencibir Ani yang sedang bermanja-manja ria pada kekasihnya. Mulai besok mereka akan dipingit, dan sekarang Ani mulai merengek manja. Ina mencoba menahan diri agar tidak muntah saat ini juga. Padahal tadi siang mereka masih berantem, kenapa pula sekarang jadi alay begitu? Lagipula ini cuma seminggu. SEMINGGU. Kenapa Ani lebay sekali? Biasanya juga mereka terpisah lebih dari enam bulan.
"Iya, Yang, love You too."
Ina rasanya ingin membalikkan meja saat mendengar Ani menyuarakan ciuman dari jauh. Ia jadi tidak bisa berkonsentrasi mengerjakan soal karena suara berisik Ani, terlebih ucapan-ucapan yang keluar dari mulut tetehnya itu mampu membuat sekujur tubuhnya merinding.
Sebenarnya, Ina berniat mengerjakan PR di kamar, tapi kedua adiknya sedang bermain. Ketika ia pikir ruang tengah aman, Ani malah duduk di sofa di belakangnya sambil teleponan. Padahal tetehnya itu punya kamar sendiri, kenapa malah teleponan di luar? Ina rasanya ingin merebut kamar Ani sekarang juga. Ia ingin tidur nyenyak tanpa gangguan kedua adiknya. Terus, biar enggak digangguin kalau lagi teleponan sama Azam.
Keluarga ini cukup menyebalkan, setiap kali ia dan Azam teleponan, mereka pasti pada ganggu. Ia masih ingat, saat pertama kali Azam meneleponnya, ia malu sekaligus takut dan berakhir dengan menjawab telepon sembunyi-sembunyi. Tapi kedua adiknya bermain sangat berisik, kemudian Eni memberi tahu keluarganya kalau ia sedang cinta-cintaan.
Apa maksudnya coba cinta-cintaan?!
Karena ketahuan, ia jadi diledek sama keluarganya, terutama Ani yang sepertinya puas sekali.
"Cie yang teleponan sambil ngumpet di lemari, bicarain apa sih sampai ngumpet gitu?"
Setelah itu, Ina lebih memilih biasa saja kalau dapat telepon, enggak sembunyi-sembunyi lagi. Tapi tetap saja, kadang Ani mengganggu dengan celetukan-celetukan anehnya, atau Eni yang minta kenalan terus minta es krim dan ini itu. Kalau diingat lagi, Ina ingin memasukkan kepalanya ke lubang hitam saking malunya.
"Na," panggil Ani yang membuat Ina mengalihkan perhatiannya dari berbaris-baris angka yang perlu ia selesaikan. Kadang Ina merasa kesal, kenapa orang-orang yang muncul di buku matematika melakukan sesuatu, mana harus ia pula yang menyelesaikannya. Misal, saat Bu Astuti membeli sebidang tanah dengan luas sekian hektar, bentuk lahannya gabungan dari berbagai bangun datar, ada persegi, segitiga, trapesium, dan bangun lainnya. Terus dia mau lahannya ini dipagar dan ditanami pohon di setiap sekian meter. Ina harus menghitung berapa banyak pohon yang akan ditanam dan seberapa luas lahan yang harus dipagar. Kenapa Bu Astuti kurang kerjaan sekali? Kenapa dia nggak menghitungnya sendiri aja? Kenapa nyusahin orang lain? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
"Kenapa, Teh?" Ina menjawab malas dan beralih dari posisinya yang duduk lesehan dengan tangan sibuk menulis di buku di atas meja menjadi menyelonjorkan kaki. Pegal sekali, ia hampir saja kesemutan.
"Itu, aku baru ingat, kasihin surat undangan pernikahan aku ya buat pacar kamu, siapa tuh namanya, lupa lagi." Ani menjawab santai, ia mulai merebahkan tubuhnya di sofa dan dengan sengaja memperbesar volume tv untuk mengganggu konsentrasi adiknya.
Seketika Ina duduk dengan tegak dan menatap tetehnya heran. "Teteh mau undang Azam? Kenapa? Kirain gak bakal diundang."
__ADS_1
Ani menatap adiknya bingung, ia segera membenarkan posisi rebahannya menjadi menghadap Ina. "Loh, emang kamu nggak mau aku undang pacar kamu? Lumayan kan, dia bisa lihat kamu dalam keadaan cantik. Biasanya kan kamu kucel banget, disuruh pakai bedak aja suka lupa, apalagi gambar alis dan pakai lipstick atau lipbalm."
Ina membuang muka, jika ini bukan pernikahan pertama dan semoga menjadi pernikahan terakhir kali tetehnya, ia tidak akan mau didandani. Meskipun hanya sekadar jadi pagar ayu. Ia lebih suka memperhatikan saja dari belakang. Kenapa juga anggota keluarga yang belum menikah wajib menjadi pagar ayu? Padahal Ina kan ingin menikmati acara pernikahan tetehnya ini. Ia ingin ikut prasmanan dan makan sepuasnya. Kalau jadi pagar ayu dan dandan cantik, ia jadi harus jaga image. Apalagi kalau ada Azam, ia ingin terlihat anggun juga di depan pacarnya itu.
Tapi, kalau Azam beneran hadir, Ina lebih suka kalau harus menghabiskan waktu berdua saja bersama Azam dan memperhatikan pernikahan tetehnya dari bangku penonton. Kapan lagi kan mereka bisa berduaan di luar sekolah? Membayangkannya saja Ina seketika tersenyum-senyum sendiri.
"Teh, aku boleh gak enggak jadi pagar ayu?" tanya Ina dengan mata berbinar-binar.
"Loh, kenapa? Kan kamu udah setuju kemarin." Ani menatap adiknya tidak mengerti.
"Ya kalau ada Azam, aku pengennya berduaan aja sama dia, hehe."
Ani mencebikkan bibir "Dasar bocah! Beraninya kamu lebih pilih pacar kamu dari pada tetehmu sendiri, ya!" Ina hanya memutar bola mata malas mendengar ucapan tetehnya, tapi ia segera mencebik kesal saat Ani kembali melanjutkan. "Ketahuan banget sih kamu jarang diajak kencan, bwahahah." Ani tertawa puas.
Ina mendengkus sebal. "Itu tahu! Makanya kasih aku kesempatan buat berduaan, ya, ya, ya!"
"Dasar Teteh jahat! Aku doain Teteh keselek cireng!"
Ina kembali mengerjakan tugasnya yang sempat terabaikan. Tapi lagi-lagi Ani mengganggunya. Gadis itu menyangga dagu dengan tangan dan menatap Ina penuh humor. "Na, kamu manggil pacar kamu pakai nama aja gitu? Enggak pakai panggilan sayang? Aa Teteh misalnya, atau Sayang Honey, atau panggilan imut yang khusus buat berdua gitu."
Seketika Ina bergidik ngeri, ia membayangkan bagaimana jika dirinya memanggil Azam dengan panggilan sayang.
"*Sayang," panggil Ina sambil gelendotan manja di tangan Azam.
"Iya, Honey? Ada apa?" balas Azam sembari mengusap puncak kepala Ina*.
Tidak. Tidak. Tidak. Ia tidak akan pernah mau memanggil Azam sayang. Geli-geli gimana gitu. Lebih baik ia memanggilnya pakai nama saja, kalau dipanggil sayang, bisa-bisa Ina pingsan karena terlalu malu. Bukannya ia tidak mau dipanggil sayang, tapi kalau pun iya, cukup dia dan Azam saja yang tahu. Jangan sampai orang lain tahu, karena kalau mereka tahu, dijamin ia akan jadi bahan olok-olokan.
__ADS_1
"Kenapa kamu? Lagi bayangin dipanggil sayang sama Azam, ya? Kasihan banget sih adik aku, enggak pernah dipanggil sayang sama pacarnya," ledek Ani sambil tersenyum puas. "Sana gih, minta panggilan kesayangan sama Azam."
Ina segera menggelengkan kepala keras. "Ogah! Gak mau!"
Ani melihat Ina dengan heran, kemudian saat ia melihat ponsel Ina tergeletak begitu saja di atas karpet, otak isengnya seketika mulai aktif. Ia mengambil ponsel Ina dan segera membuka chat antara Ina dan Azam. Kocaknya, Ina tidak pernah mengunci layar HP-nya, jadi siapapun bisa langsung membukanya. Ani tahu, adiknya itu pasti terlalu malas untuk sekadar membuka kunci ponsel. Karena meskipun masih SMA, kepikunannya memang sudah tidak diragukan lagi.
"Na, masih banyak enggak itu tugas kamu?" Ani berpura-pura bertanya untuk mengalihkan perhatian Ina, sedangkan tangannya sibuk mengetik di layar ponsel Ina.
Sayang, kamu lagi apa?
Klik, dan terkirim. Ia cengengesan membayangkan bagaimana respon Azam ketika melihat pesan darinya. Setelah itu, ia segera menghapus pesannya untuk menghilangkan jejak. Dalam hati ia benar-benar tertawa puas membayangkan adiknya yang sebentar lagi pasti akan marah-marah.
"Masih banyak ini, teteh nggak mau bantuin gitu? Daritadi kerjanya ganggu konsentrasi aku terus!" Ina bertanya dengan nada sebal. Tetehnya dari tadi hanya wara-wiri saja mengganggu konsentrasinya dan tidak ada niatan membantunya mengerjakan soal matematika yang benar-benar membuat otak berasap ini.
"Ogah ah, Teteh ngantuk, mau bobok aja. Kalau bobonya kemaleman, nanti kulit Teteh nggak cantik lagi. Kamu juga jangan keseringan begadang, nanti kulitnya kayak orang tua, berkeriput, kering, nggak terawat, gak cantik!" Ani segera kabur setelah menyimpan kembali ponsel Ina di tempatnya semula. Untunglah adiknya itu sangat fokus pada soal sehingga tidak sadar ponselnya sudah di otak-atik oleh orang lain.
Ina mencibir tetehnya yang sangat amat menyebalkan itu. Ia ingin sekali melempar toples berisi kue nastar di hadapannya ke kepala Ani, berharap otak tetehnya itu bisa segera waras dan berhenti meledeknya.
Saat sedang fokus-fokusnya mengerjakan penyelesaian soal, ponsel Ina berbunyi yang menandakan ada pesan masuk. Ia mengabaikannya sebentar karena tanggung sebentar lagi jawabannya bisa ketahuan. Tapi pada soal berikutnya, kepalanya terasa pening karena soalnya terlalu sulit. Ia pun memutuskan untuk me-refresh otak dengan bermain ponsel sebentar. Saat melihat ada pesan masuk dari Azam, senyum lebar terkembang di bibirnya.
Dengan rasa penasaran, ia membuka pesan tersebut.
Sayang?
Isinya hanya satu kata, tapi berhasil membuat hati Ina porak-poranda. Meskipun tidak mengerti apa maksud dari tanda tanya di belakangnya, ia tetap merasa senang karena untuk pertama kalinya Azam mengiriminya kata sayang. Lupakan pikirannya tadi yang mengatakan ia tidak mau dipanggil sayang oleh Azam. Nyatanya dipanggil sayang oleh pacar sendiri ternyata sangat menyenangkan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Woah, bagaimana reaksi Ina ketika tahu ia dikerjain sama tetehnya, ya?🤭🤭🤭