
Ina masuk ke dalam rumah tanpa mengucap salam, setelah meletakkan sepatu di rak ia segera beranjak menuju kamar. Rumah memang kosong, keluarganya sedang pergi ke rumah Uwa di kampung. Hanya ia dan Teh Ani yang tidak ikut, kakaknya itu sedang sibuk berkreasi di dapur entah membuat apa.
Setelah mengeluarkan ponsel dari dalam tas kecil yang ia bawa, Ina merebahkan diri di kasur. Suasana hatinya benar-benar buruk. Inginnya ia amnesia saja seperti tokoh utama di novel, tapi sejauh yang ia tahu, tidak mungkin bisa amnesia tanpa alasan yang jelas. Kepalanya baik-baik saja.
Tidak mungkin juga Ina sengaja menjedotkan kepala ke tombok sekuat tenaga biar bisa amnesia, dikira dia sudah gila apa? Nanti malah amnesianya enggak, ia malah disangka kurang satu ons dan harus mendekam di rumah sakit jiwa. Lagipula, sejak kapan ada orang yang ingin amnesia setelah menghabiskan waktu berdua bersama pacar? Sudah jelas tidak ada.
Sudahlah, Ina pasrah. Biarkan saja ingatan menyebalkan itu ada di otaknya, lebih baik sekarang ia mencari cara lain untuk melupakannya. Inginnya sih, Ina tidur saja. Tapi ia benar-benar tidak ngantuk, ia juga bukan gadis pemalas yang tidur lagi di pagi hari. Matanya baru terbuka, masa harus disuruh rekat lagi demi terbang ke alam mimpi.
Ina memutuskan untuk membaca saja, sudah lama ia tidak berkunjung ke dunia fiksi itu. Ia mulai membuka aplikasi oren, tempat banyak cerita halu bertebaran. Alih-alih mencari cerita, ia lebih memilih membuka tampilan akunnya. Belum ada satu pun cerita di sana karena Ina memang tidak pernah suka menulis. Ia juga tidak pernah peduli dengan followersnya yang hanya enam biji, toh akun ini ia buat untuk memuaskan hasratnya membaca cerita gratisan.
__ADS_1
Ia segera mengklik daftar penulis yang ia ikuti, lalu mencari siapa kira-kira yang ingin ia baca tulisannya. Ina memang lebih suka membaca cerita dari author yang sama daripada mencari cerita random. Hobi membaca sejak SD membuat standar bacaan Ina cukup tinggi. Ia tidak mau membaca cerita dengan tulisan yang bikin sakit mata. Tanda baca tidak beraturan, penulisannya disingkat, typo everywhere, kalimat yang berulang-ulang di satu paragraf sama, halunya tanpa riset, ah, sudahlah. Ina menyerah membaca cerita seperti itu.
Bukan Ina tidak menghargai mereka yang sudah capek-capek menulis, tapi sebagai pembaca ia ingin realistis saja. Apalagi kalau sudah baca karya-karya mastah semcam Nellaneva, Rennozaria, Ainun Nufus, dan author-author keren lainnya, pasti tulisan yang bikin sakit mata enggak bakal dilirik.
Ina memang suka membaca novel genre teenfiction, tapi ia juga membaca genre lain semacam fantasi, petualangan, fiksi sejarah, dan genre lainnya. Apalagi kalau penulisannya bagus, ia gak bakal nolak.
Belum sempat ia mencari novel yang ingin dibaca, perutnya berbunyi minta diisi. Gadis itu mengelus perut sebentar, lalu beranjak menuju dapur. Di sana Teh Ani sedang tersenyum ceria sambil menatap layar ponsel, Ina tebak tetehnya itu sedang video call-an sama pacar jarak jauhnya.
"Heh, bikin sendiri sana!" gerutu Teh Ani sebal. Padahal ia sedang asik memamerkan karya terbarunya pada sang pacar, eh malah dimakan seenaknya.
__ADS_1
Ina menjawab kelewat santai yang membuat Teh Ani ingin memukul kepalanya sekuat tenaga. "Enggak bisa."
Ina lalu celingak-celinguk, membuka tudung saji dan menemukan tumis kangkung serta goreng tempe memanggil-manggil minta dimakan di sana. Segera saja Ina mengambil piring bersih di rak piring, lalu mengisinya dengan secentong nasi, tiga sendok tumis kangkung dan tiga goreng tempe. Ia juga mengisi gelas kosong dengan air hangat dari dispenser.
Teh Ani yang melihatnya mengerutkan kening, mengakhiri video call dengan sang pacar dan mengikuti Ina yang sudah menyamankan diri duduk di depan televisi. Kakinya di angat ke atas kursi, duduk bersila. Matanya fokus ke layar televisi yang kini sudah menyala dan menampilkan acara musik. Teh Ani menggelengkan kepala melihat kelakuannya, Ina terlihat seperti anak laki-laki.
"Bukannya kamu baru pulang kencan? Kok makan di rumah?" Teh Ani duduk di samping Ina, bertanya heran.
Ina yang sedang mengunyah nikmat berhenti, lalu menatap kakaknya kesal. Moodnya seketika kembali jelek. Gadis itu mendengkus saat ingat tadi hanya makan cilok. Harapannya untuk bisa sarapan bersama pacar pertama hancur sudah karena kelakuan Azam. Ingin sekali Ina mencekik cowok satu itu, tega sekali dia membuatnya kelaparan seperti sekarang. Apalagi dengan santainya Azam malah pergi meninggalkannya sendiri untuk bermain futsal bersama teman-temannya.
__ADS_1
Pegangan Ina pada sendok menguat, berharap sendok itu adalah Azam dan ia bisa menghancurkannya berkeping-keping. Cowok macam apa yang meninggalkan ceweknya sendirian setelah kencan yang menyebalkan?
Ina bersumpah dalam hati, ia tidak mau lagi pergi kencan dengan Azam! Masa bodoh dengan statusnya yang berpacaran! Kalau perlu Ina ingin putus saja!