
Aku keluar dari toilet sambil mengusap perut lega walau masih lumayan terasa sakit. Ini sudah ketiga kalinya aku masuk ke toilet, memang dasar sial, aku kena diare gara-gara kemarin makan seblak buatan Teh Ani.
Setelah ini aku enggak akan kembali ke kelas, kenapa? Karena aku capek bolak-balik terus. Tadi juga sudah izin sama guru yang mengajar, dan sepertinya beliau kasihan melihatku harus naik turun tangga demi buang air besar. Jadilah beliau mengizinkanku untuk tidak mengikuti kelas. Syukurlah, aku jadi bisa fokus buang air besar saja.
Selain itu, aku juga takut jadi kurus kering kalau naik turun tangga terus. Badanku sudah imut, enggak usah dikecilin lagi. Kan katanya naik turun tangga sambil berlari bisa membakar kalori, aku takut bukan badan yang mengecil, tapi betis yang membesar. Aku juga takut enggak tahan, kalau enggak sengaja buang air besar di celana saat menuruni tangga gimana? Bisa mati berdiri karena malu aku.
__ADS_1
Ditambah masa-masa mencret begini biasanya bakal kentut terus. Apalagi kentutnya kadang bisa aja sambil bawa eek. Kan berabe kalau aku ketahuan eek di celana. Bisa hancur masa depanku. Ledekan teman-teman enggak akan cuma bertahan satu minggu. Sekarang saja aku kena mencret begini teman-teman sekelasku sudah pada sibuk meledek.
Ah, kenapa aku malah mikirin mencret, sih? Enggak elit banget. Kenapa pikiranku kadang suka jorok sekali?
Hm, lebih baik aku mikirin yang indah aja. Mikirin Azam misalnya.
__ADS_1
Tapi kayaknya hampir di semua sekolah pasti ada aja kisah hantunya. Terutama di toilet. Kalau dari film horor yang aku tonton, biasanya hantu yang ada di toilet itu cewek, rambutnya panjang dan digerai ke depan, menutupi muka. Pakaiannya putih, entah apa itu nama potongan pakaiannya. Gaun? Blouse? Dress? Duh, emang itu ketiganya apa bedanya? Aku cuma tahu baju gamis, baju atasan semacam busana untuk ke pengajian atau baju batik, kebaya, terus kaos panjang dan kaos pendek. Sisanya enggak tahu apa.
Biasanya artis suka pakai baju yang aneh-aneh, ke bawahnya panjang sampai ngepel lantai, tapi ternyata ada yang enggak kejahit, belah sampai ke paha. Bagian atasnya juga kadang ada yang panjang, tapi bagian punggungnya enggak kebagian kain. Aku kadang suka keinget sundel bolong kalau lihat artis pakai baju begitu. Biasanya di acara penghargaan kan mereka suka pakai baju begitu, aku cuma penasaran apa mereka enggak kedinginan? Acaranya kan malam.
Duh, kenapa pula aku jadi mikirin baju artis, orang buta fashion sepertiku memang kadang cuma bisa ngasih komen pedas aja. Tapi, ya, itu karena memang ada perbedaan ajaran aja. Di agamaku kan enggak boleh buka aurat begitu. Walau sepertinya baju-baju itu adalah hasil karya desain baju terkenal, harganya pasti selangit. Apalah dayaku yang beli baju aja harus nunggu ada pasar kaget biar bisa lebih murah, harga di depan, model mah belakangan aja.
__ADS_1
Aku berjalan menuju kursi yang berupa besi panjang tanpa sandaran, tapi karena kursinya di simpan berdempetan ke tembok, jadi kita bisa langsung bersandar. Enggak perlu khawatir bakal pegal.
Aku sebenarnya kurang suka dengan kursi ini, kadang aroma besinya kuat banget. Terutama yang warna besi aslinya sudah terlihat jelas dan berkarat. Sepertinya kursi-kursi besi di sekolah ini sudah butuh untuk dicat ulang. Semoga dilakukan secepatnya.