
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di pintu membuat Ina dan Ani berhenti berbicara, kedua kakak beradik itu saling berpandangan, menyuruh satu sama lain untuk membukakan pintu.
"Buka sana, Na!" perintah Ani bossy.
"Teteh kan lebih tua, harusnya ngalah dong sama adiknya." Ina mendebat tidak mau kalah.
"Enak aja aku dibilang tua, aku masih muda dan cantik, ya!"
Kedua adik kakak itu terus beradu mulut, mengabaikan ketukan di pintu yang terdengar semakin tidak sabaran.
"Kamu sebagai adik harus nurut sama teteh, ayo sana bukain pintu!" perintah Ani tidak mau dibantah.
__ADS_1
Ina memutar bola mata malas, di saat begini ia kadang merasa menjadi seorang adik itu sangat tidak menyenangkan. Terlebih jika punya kakak seperti Ani, hobi sekali menyuruh ini itu.
Pernah dulu mereka lagi nonton televisi, Ina lesehan di lantai, sedangkan Ani tiduran di atas sofa. Pas lagi haus, tetehnya itu meminta untuk dibawakan air minum. Padahal jarak gelas sama Ani lebih dekat daripada Ina. Tinggal duduk terus ambil deh dari atas meja. Tapi yang namanya Ani tidak akan berhenti mengomel sebelum permintaannya dipenuhi.
Daripada kupingnya panas seharian, Ina dengan tidak rela harus bangkit dan menyodorkan gelas itu ke depan wajah Ani. Benar-benar menyebalkan. Jadi adik kok dijajah mulu, ya? Ina berdecak sebal dalam hati.
"Assalamu'alaikum." Suara dari pintu terdengar cukup keras, diiringi dengan pelototan Ani, mau tidak mau Ina bangkit dan berjalan ke arah pintu. Ia pura-pura tidak melihat ketika tetehnya memasang senyum kemenangan penuh kepuasan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ina sembari mempercepat langkah, "tunggu sebentar!"
Ina menarik kenop pintu ke bawah, di depannya berdiri seorang gadis dengan rambut sebahu sedang mencoba untuk mengetuk pintu kembali. Tangan gadis itu segera turun dan matanya menatap Ina sebal.
"Lama banget, sih, Na! Aku sampai lumutan nih nungguin kamu buka pintu." Gadis itu menggerutu sebentar, lalu duduk tanpa permisi di kursi yang ada di teras di samping kanan pintu.
__ADS_1
"Ya, maaf, lebay banget, deh," ujar Ina tanpa merasa bersalah sama sekali. "Ngapain kamu ke sini?"
Ina duduk di kursi di sebrang meja yang diduduki tamu tak diundangnya sore ini, ia memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah, sepertinya dia belum mandi karena masih memakai seragam sekolah.
"Nanti bareng, ya! Kamu mau sholat dulu di rumah atau berjamaah nanti di masjid?"
Ina mengerutkan kening sebentar, lalu menepuk jidat ketika ingat nanti malam ada acara pengajian rutin IREMA atau Ikatan Remaja Masjid.
Di lingkungan tempat ia tinggal, anak yang sudah duduk di bangku SMA memang sudah jarang mengaji setiap malam. Banyak sekali alasannya. Sibuk inilah, sibuk itulah. Nah, untuk menghindari hilangnya kebiasaan mengaji setelah maghrib ini IREMA mengadakan kajian rutin setiap Malam Selasa, Malam Jumat, dan Malam Minggu.
Tiga kali seminggu, tetapi yang datang kadang tidak semuanya. Malam Minggu yang biasanya paling ramai. Ina sendiri selalu mengusahakan hadir setiap jadwal pengajian, selain untuk menambah ilmu agama, ia juga malas mendengar ocehan sang mama jika ketahuan tidak pergi mengaji.
Sebenarnya kalau mau, bisa saja ia datang setiap hari karena setiap malam pun ada pengajian, tetapi kebanyakan hanya anak-anak TK sampai SD yang ada, bahkan anak SMP pun jarang, lebih sering ikutnya ke acara pengajian IREMA. Jadi Ina cukup malas jika tidak ada teman yang seumuran. Masa dia harus belajar bareng anak-anak, sih? Mana pada nakal banget pula, kan ia jadi malas.
__ADS_1