
Entah karena apa, saat Ina sedang menaikkan bendera, suasana jadi sangat berisik. Banyak sekali yang saling berbisik dengan suara keras. Tetapi karena fokus Ina hanya pada bendera di hadapannya, gadis itu menutup telinga dan mencoba tidak peduli.
Setelah upacara selesai, ketika mereka akan membaca Asmaul Husna suasana kembali ribut. Ina memilih untuk membaca bersama teman-temannya di barisan paduan suara. Petugas upacara memang biasanya akan bergabung dengan paduan suara ketika membaca Asmaul Husna.
"Na, kamu jadian sama A Azam?" tanya seorang gadis dari kelas XI IPA 2.
"Hah?" Ina hanya bengong, siapa lagi sekarang yang menyebar berita itu? Perasaan kemarin beritanya sudah surut. Kenapa sekarang pasang lagi?
Gadis itu terkekeh geli, matanya menatap Ina menggoda. "Cie, selamat ya, akhirnya beneran pacaran sama si Aa patung."
Ina mengernyitkan dahi heran. "Kamu tahu dari siapa kalau aku pacaran sama Azam?"
__ADS_1
Mereka menerima kertas yang dibagikan oleh pengurus OSIS, lalu melipir ke pinggir tembok untuk kembali berbicara. Karena suara yang mereka gunakan adalah suara normal, banyak orang yang tertarik untuk mendengar mendekat. Hal yang cukup membuat gadis itu risih.
"Dari pacar aku, katanya kemarin Azam bilang udah enggak jomlo lagi, hebohlah itu semua kelas XII. Mereka pada kepo dong siapa orang yang berhasil jadi ceweknya si cowok irit suara itu. Terus ada yang inget kalau beberapa waktu lalu dia digosipkan pacaran sama kamu. Jujur aja aku juga pas dengar gosip itu dulu enggak percaya, haha, maaf! Lagian seriusan, kalian itu kayak bumi sama langit, susah banget buat dibayangin bareng."
Ina hanya memutar bola mata, niat sekali gadis ini meledeknya. "Terus intinya siapa yang bilang?" tanyanya masih penasaran.
Belum sempat gadis itu menjawab, pembacaan Asmaul Husna sudah dimulai. Mau tidak mau Ina harus menyimpan terlebih dahulu rasa keponya.
"Na, kamu tertarik buat mukul seseorang gak? Tangan aku kok gatel ya pengen nabok muka songongnya si Soni? Kampret banget tuh ketua kelas, bukannya datang paling pagi malah sengaja kesiangan. Kalau ketemu Pak Yudi mau aku laporin, biar didenda dan tahu rasa. Enak aja mangkir dari tanggung jawab!"
Ayu mulai nyerocos ketika matanya juga bertemu dengan mata Soni, gadis itu geregetan ingin menjitak kepalanya.
__ADS_1
"Nanti kalau mau nyiksa dia bilang-bilang ya, aku mau ikut!" Ina ikutan emosi, dia dan Ayu memang berjalan bersisian untuk pergi ke kelas. Karena mereka membereskan alat-alat upacara terlebih dahulu, jadi keduanya tidak pergi ke kelas bersama Sopa dan yang lain.
Ayu tersenyum lebar, dia memberikan kepalan tangan dari jauh kepada Soni sebelum menyeret Ina untuk mempercepat langkah dan pergi ke kantin. Menjadi petugas upacara tenyata bisa membuat cacing keroncongan. Ia ingin membeli pisang goreng untuk mengganjal perut.
"Omong-omong, selamat, Na! Katanya si patung udah ngakuin kamu di depan umum, ya? Ngakak banget, deh. Hubungan kalian selalu ada sensasinya, ya!"
"Bentar, deh. Aku masih gak mudeng, maksudnya Azam enggak nyembunyiin kenyataan kalau aku pacarnya dia lagi?"
Ayu mengangguk, tetapi ia segera berlari ketika melihat kilauan emas dari pisang goreng di atas baki. Secepat kilat ia menerobos barisan cowok yang sedang jajan, kalau enggak agresif bisa-bisa dia kehabisan. Ayu memang sudah terbiasa berperang memperebutkan jajanan di kantin. Jadi kelakuannya sudah tidak membuat Ina heran lagi.
Sementara itu, Ina masih terkejut, ia mematung sebentar, sebelum tersenyum lebar. Tentu saja hatinya berdegup kencang, ia sangat amat bahagia. Fix, hari ini akan masuk ke dalam list hari bersejarah dalam kisah cintanya di SMA!
__ADS_1