
Azam mendudukan Ina di kursi di depan rumah, ia tidak menyangka setelah turun dari angkot harus jalan kaki cukup jauh ke dalam gang. Bukan apa-apa, kalau Ina sedang sehat memang tidak masalah dan tidak akan terasa terlalu jauh, tapi karena Azam membawa Ina yang sedang sakit, perjalanannya jadi terasa tidak kunjung sampai.
"Di rumah kamu gak ada siapa-siapa, Na? Kok sepi banget."
Ina menggelengkan kepala. "Bentar lagi mama pulang, mungkin lagi di jalan."
"Kamu tahu di mana kuncinya? Lebih baik kamu tunggu di dalam aja sambil tiduran."
Ina membuka matanya yang sejak tadi tertutup, lalu menatap Azam. Ia tersenyum sedikit, jika tidak sedang demam seperti sekarang, apa Azam bakal bersikap manis padanya begini? Ia jadi merasa beruntung karena bisa demam, haruskah ia berterima kasih pada Eni nanti karena sudah mengajaknya main hujan-hujanan kemarin? Hm, mungkin ia akan membelikannya seblak kesukaannya kalau sudah sembuh.
"Kamu mau langsung balik ke sekolah?"
__ADS_1
Azam melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan, sekarang pasti guru sudah masuk. Ia sedang malas belajar, jadi tidak keberatan meskipun harus menemani Ina sampai jam sekolah bubar.
"Kenapa memangnya?"
Ina membuang muka kala Azam menatapnya dengan cara yang membuat lututnya lemas. Cowok itu enggak kira-kira banget, tahu Ina lagi sakit dan gak punya tenaga, dia malah natap Ina penuh perhatian. Gimana Ina bisa tenang kalau begini? Jantungnya udah gedor-gedor minta dikeluarin dari tempatnya.
"Enggak apa-apa, sih. Siapa tahu mau langsung balik, kan. Kalo mau, anterin aku ke dalam dulu gitu."
"Kalo gak mau langsung balik?"
Ina menoleh cepat, enggak menyangka Azam akan mengatakan itu. Wajahnya bersemu merah saat sadar jawaban yang akan ia berikan cukup memalukan. Sekali lagi ia membuang muka.
__ADS_1
"Kalo gak mau langsung balik temenin aku dulu di sini." Ina enggak mau melepaskan kesempatan emas ini, jarang banget kan Azam bisa bersikap manis seperti sekarang. Nanti kalau ia sudah sembuh, bagaimana kalau cowok itu kembali menyebalkan lagi?
"Di sini? Kenapa enggak istirahat di dalam aja?"
Ina menatap sekeliling, lalu segera meringis. Ia tidak mau digerebek tetangga kalau sedang berduaan dengan Azam di dalam. Berduaan seperti sekarang aja udah pasti menimbulkan gosip, apalagi di dalam.
Azam ikut melihat sekeliling, ia baru sadar rumah Ina semacam rumah kontrakan, terdiri dari 3 rumah yang hanya disekat oleh tembok setinggi pinggang. Rumahnya juga di tempat yang agak menjorok, jadi pemandangan di depannya adalah dinding. Untungnya di depan rumah Ina ditanami dengan berbagai jenis bunga, jadi matanya enggak terlalu sepet harus memandang dinding tanah kosong. Jika mengangkat pandangan sedikit, barulah ia bisa melihat rumah tetangga lain. Di depan rumah Ina ada semacam area tanpa bangunan cukup luas, tapi mengelilingi area itu ada banyak rumah. Ada juga warung yang jaraknya hanya sekitar lima meter dari rumah Ina berada, dan Azam baru menyadari tatapan penuh kekepoan dari pemilik warung yang saat ini sengaja berdiri di depan warungnya sambil sesekali melirik ke arah mereka. Akhirnya Azam paham maksud dan ketakutan Ina.
"Enggak apa-apa, ayo masuk aja, kalau di sini, demam kamu bisa makin parah. Nanti pintunya enggak usah ditutup aja, toh kita enggak bakal ngapa-ngapin ini di dalam."
Ina sempat ragu sejenak, ia memang cukup pusing dan ingin istirahat. Tapi membiarkan Azam masuk dan dia sendiri tidur, rasanya ia agak takut. Saat Ina masih bimbang, terdengar sebuah suara yang membuatnya bisa bernapas lega.
__ADS_1
"Ina? Kenapa di sini? Kok udah pulang?"