Bukan Pacar Bucin

Bukan Pacar Bucin
#5


__ADS_3

Akbar sibuk membuka lembar demi lembar LKS, mencari contoh soal yang sesuai dengan pertanyaan yang ada di papan tulis. Lelah, cowok itu menyerah. "Kenapa contoh soal sama soal beneran bedanya kayak Sule disandingin sama Shawn? Kagak ada mirip-miripnya!" gerutunya sebal.


Kemudian mata Akbar mulai curi-curi pandang pada lembar jawaban teman satu bangkunya, Azam. Cowok pendiam itu sedang menghitung di kertas kosong, lalu mulai mengisi jawaban di buku tugas. Menghitungnya cepat sekali, sampai Akbar tidak mengerti apa yang digoreskan tinta Azam di atas kertas. Di sana hanya ada perkalian dan pembagian acak yang susah dikenali mana hitungan nomor satu, nomor dua, dan seterusnya.


Akbar bahkan tidak yakin, apa sahabatnya itu benar-benar mengerjakannya dengan serius atau hanya asal kali bagi saja? Bukan hal aneh jika ada soal sulit yang jika lupa rumusnya, Akbar seringkali hanya membagi, menjumlah, mengurangi, atau mengkali angka-angka yang ada sampai salah satu jawabannya sama dengan yang tertera di pilihan ganda. Ini merupakan salah satu rahasianya dalam mengerjakan soal ulangan matematika. Hasilnya? Jangan ditanya! Nilai ia pas-pasan KKM.


Tidak mendapat pencerahan, Akbar membawa bukunya menuju meja salah satu teman cewek paling pintar di kelasnya. Ia menyerah untuk mengerjakan sendiri, lebih mudah menyalin hasil hitungan orang lain. Kebetulan Bu Desti, guru yang mengajar sedang tidak masuk, katanya sih anaknya yang baru berusia lima tahun masuk rumah sakit. Jadilah kelas XII IPS 2 hanya diberi tugas yang harus dikumpulkan hari ini juga.

__ADS_1


Sebenarnya Akbar cukup kesal, sebentar lagi ia harus menguras otak demi menghadapi soal-soal menyusahkan. Terkutuklah try out, ujian praktik, UAMBN, UNBK, dan ujian-ujian lainnya. Apalagi sekolahnya ini merupakan Madrasah Aliyah, jadi jelas ujiannya akan lebih banyak.


Akbar paling tidak ingin ada ujian praktik keagamaan, tapi sepertinya itu tidak mungkin. Ujian praktik ini sebenarnya sangat rutin diadakan, biasanya dilakukan setiap akhir semester. Tingkat kesulitannya pun disesuaikan dengan tingkatan kelas. Saat ini ia berada di kelas XII, pasti ujiannya lebih susah. Salah satu yang pasti diujiankan adalah praktik menyolatkan jenazah. Cowok itu belum hapal bacaannya. Maklum, ia hanya akan menghapal di saat-saat akan diujiankan saja. Jadi ilmunya tidak bermanfaat.


Akbar menyeret kursinya mendekati sumber jawabannya, sebelum benar-benar duduk, ia memperhatikan Azam yang saat ini sedang mengernyit sambil menatap layar ponsel pintarnya. Buku tugasnya sudah tersimpan rapi di ujung meja. Sepertinya dia sudah selesai.


Bukannya Akbar tidak ingin mencontek jawaban Azam saja, ia dulu pernah melakukannya juga. Tapi .... Akbar mengembuskan napas berat, lalu duduk dan mulai menyalin jawaban tanpa permisi.

__ADS_1


Azam bangkit sambil membawa buku tugas matematikanya, ia meletakkan buku itu di meja guru, lalu segera keluar dari kelas. Cowok itu berniat untuk pergi ke lantai satu, bermain game di dekat toilet seperti biasa. Tapi tidak seperti biasa, cowok itu berjalan dengan kening berkerut sambil tatapannya lurus pada layar persegi berwarna hitam.


Kenapa ia tidak bisa menghubungi Ina? Apa kuota atau pulsanya habis? Ia segera mengeceknya, tapi ternyata pulsa dan kuotanya masih aman. Ia berhenti melangkah, keningnya kembali berkerut, apa Ina yang tidak punya kuota? Tidak seperti biasanya. Setahu Azam, gadis itu maniak membaca cerita online, jadi agak aneh kalau dia tidak punya kuota.


Azam akan melanjutkan langkah saat mendengar suara bola dipukul. Ia baru sadar, sepertinya ada kelas yang sedang olahraga. Cowok itu pun melangkah menuju pagar, jika pendengarannya memang masih baik, ia mendengar suara tawa Ina.


Azam memperhatikan lapangan, di sana ada beberapa orang yang sedang bermain voli. Fokus cowok itu tidak pada orang-orang di lapangan yang sedang sibuk memukul bola, tapi pada seorang gadis yang sedang kejar-kejaran dengan cowok gembrot yang ia tahu bernama Parhan.

__ADS_1


Azam menyipitkan mata, di tangan Parhan ada sebuah benda berwarna hitam yang ia tahu adalah ponsel milik Ina. Cowok itu mengacungkan tangannya tinggi sambil tertawa keras, berlarian ke sana ke mari menghindari kejaran Ina.


Azam berdecak tidak suka, lalu segera melangkah menjauhi pagar. Lebih baik ia segera log in ke akun gamenya saja.


__ADS_2